Copyright © 1999-2002 Media Indonesia. All rights reserved.
Minggu, 18 Agustus 2002
[b]'Batutulis' Menurut Menag:
[b]Tak Bisa Saya Jelaskan
[b]KASUS penggalian pada situs Prasasti Batutulis yang menjadi kontroversi dan dikaitkan dengan peran Menteri Agama Said Agil Husin Al-Munawar yang meyakini ada harta-karun di sekitar tempat itu berdasarkan hal metafisik, tak berkaitan dengan keimanan-keagamaan. "BAGI umat Islam mengimani hal yang gaib itu adalah (harus seperti) yang diterangkan di dalam Al-Qur'an. Dan itu menyangkut keimanan, bukan hal-hal di luar itu, terlebihyang sifatnya duniawiyah," kata Dekan Fakultas Studi Islam Universitas Djuanda (Unida) Mustollah Maufur MA di Bogor, Minggu malam. Diwawancarai [b]Antara
[b]berkaitan dengan rujukan yang bersifat gaib dan metafisik yang mendasari keyakinan adanya harta-karun di sekitar situs Prasasti Batutulis di Bogor, Jawa Barat itu, ia menyatakan hal itu tak relevan dikaitkan dengan petunjuk yang diterangkan oleh Kitab Suci [i][b]Al-Quran
[b]berkaitan dengan hal-ikhwal kegaiban. Ketika soal situs Batutulis itu mencuat dan menjadi kontroversi, Menag kepada pers menyatakan bahwa harta-karun itu ada dan itu sudah dikonfirmasikan kepada kyai-kyai yang tergolong [i][b]mukasyafah
[b]dari Provinsi Banten. Hanya saja, kata Menag, saat penggalian ada empat orang --yang ikut dalam rombongan saat penggalian-- tidak ikhlas sehingga akhirnya harta karun itu tidak ditemukan. Ketika harta-karun itu ternyata tidak ditemukan, muncul masalah ikutan yakni penilaian bahwa Menag telah ikut dalam proses penggalian benda cagar budaya dan tindakan itu dinilai melanggar UU No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Bagi mereka yang telah melanggar UU tersebut ancaman hukumannya cukup berat yakni hukuman 10 tahun dan denda Rp100 juta. Menurut Mustollah Maufur, orang-orang pandai dan saleh yang masuk kategori [i][b]mukhasyaf
[b]--istilah yang dikenal dalam dunia sufisme (mistisisme dalam Islam)-- memang punya kemampuan mengetahui hal-hal yang sifatnya ghaib dan itu tidakbisa dijelaskan dengan rasionalitas. "Tapi soal mengimani kegaiban itu sekali lagi hanya yang diterangkan di dalam [i][b]Al-Quran
[b]," kata master lulusan Universitas Quaid E Azam, Pakistan, itu seraya menambahkan bahwa masalahnya adalah harta-karun, maka ia tidak melihat kontekstualisasinya, karena hal itu menyangkut harta-karun. Karena itu, dalam kasus di situs Batutulis itu, ia lebih melihat bahwa hal itu tidak mesti dikaitkan dengan keghaiban yang dirujuk pada [i][b]Al-Quran
[b]. Ia juga prihatin bahwa sosok sekaliber Menag akhirnya harus bertindak pada hal-hal yang justru akan menjadi kontroversi bagi masyarakat, khususnya kalangan umat Islam yang jelas akan mempertanyakan mengapa krisisdi Indonesia mesti dijawab dengan hal-hal irasionalitas seperti itu. Presiden ke Batutulis
[b]: Kedatangan Presiden Megawati Soekarnoputri dan rombongan pada Minggu ke Istana Batutulis, Bogor, Jawa Barat, sama sekali tidak terkait dengan kasus kontroversi mengenai penggalian situs Prasasti Batutulis. "Seperti biasa kunjungan Presiden dan keluarga pada akhir pekan ke Istana Batutulis adalah untuk beristirahat dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kasus Prasasti Batutulis," kata Kapolresta Bogor, AKBP Setyo Wasisto kepada [i][b]Antara
[b]di Bogor, Minggu malam. Situs Prasasti Batutulis, yang letaknya tepat di depan Istana Batutulis --yang kini menjadi milik keluarga mantan Presiden Soekarno-- lokasinya masih ditutup garis polisi ([i][b]policeline
[b]), pada Minggu siang juga didatangi utusan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dan pihak terkait seperti Direktorat Kepurbakalaan. Mereka melihat langsung lokasi situs tersebut dan akan melaporkannya ke menteri dan pejabat terkait untuk menentukan langkah selanjutnya. Kasus itu kini terus menjadi perbincangan publik karena banyak disebut melibatkan Menteri Agama Said Agil Husin Al-Munawar yang diduga memerintahkan penggalian di kawasan cagar budaya itu guna mencari harta-karun. Meskipun lokasi situs Prasasti Batutulis, yang diyakini peninggalan Prabu Siliwangi era Kerajaan Padjadjaran itu berada di lingkungan Istana Batutulis, menurut Setyo Wasisto, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kedatangan Presiden Megawati yang pada akhir pekan sering beristirahat di tempat itu. Menag dalam beberapa kesempatan --setelah kasus kontroversi itu mencuat-- menyatakan kehadirannya saat penggalian situs itu sudah sepengetahuan Presiden Megawati. Tujuh saksi
[b]: Ketika ditanya perkembangan paling akhir dari penyelidikan atas kasus itu, Kapolresta Bogor itu menyatakan hingga saat ini sudah tujuh saksi yang telah diperiksa. "Sampai hari ini tujuh saksi yang sudah kita periksa intensif, apakah nanti akan bertambah kita lihat perkembangannya," katanya.Dari para saksi yang telah diperiksa itu, kebanyakan mereka yang menggali situs tersebut dan beberapa saksi lainnya. Saat dikonfirmasi apakah dari penyelidikan itu mengarah pada kesimpulan mereka menggali atas perintah Menag, ia menyatakan hal itu masih belum bisa disebutkan karena penyelidikan masih terus dikembangkan. Berkaitan dengan informasi setelah kunjungan pejabat Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan serta dari Kepurbakalaan maka penggalian itu akan dilanjutkan secara legal, ia membantahnya. "Sampai saat ini lokasi masih ditutup [i][b]police line
[b]. Jadi kondisinya masih tetap [i][b]status quo
[b]sampai dapat dinyatakan dapat dibuka kembali untuk kepentingan yang diperlukan," tambah Setyo Wasisto. Menteri Agama: Tak Ada Perusakan
[b]: Mentri Agama Said Agil Husin Al Munawar membantah telah terjadi perusakan terhadap Prasasti Batu Tulis di Bogor sehubungan dengan penggalian harta karun yang konon kabarnya adalah peninggalan Prabu Siliwangi. "Tidak ada perusakan, apa yang ditulis wartawan itu tidak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya. Katanya batu tulisnya diangkat dan lain-lain, padahal itu sama sekali tidak benar," katanya di Departemen Agama Pusat Jakarta, usai penandatanganan Keputusan Menteri Agama soal organisasi dan tata kerja kanwil dan kandepag kabupaten/kota. Menag menjelaskan, lokasi penggalian yang dilakukan pada Rabu (14/8) itu di luar bangunan Prasasti Batu Tulis, yaitu di tanah lapang di belakangnya. Itu digali sudah sehari," katanya. Dikatakannya, syarat orang yang melakukan penggalian itu harus bersih hatinya, diniatkan secara benar dan jangan berpikir yang macam-macam. "Kalau tidak dia akan lari," katanya. Menurut Menag, sekitar 13 tahun lalu, ada seorang aulia yang dipercayainya dan sudah melanglang buana ke sana kemari. Ia menunggu amanat (penggalian) ini untuk diserahkan kepada orang jujur yang bisa memelihara amanat tersebut. "Jadi, setelah diperhitungkan, pilihannya itu jatuh kepada saya. Kemudian saya informasikan kepada Ibu Presiden dan dipersilakan untuk ditindaklanjuti saja," katanya. Itulah sebabnya, kata Menag, ia menindaklanjutinya dengan mendatangi tempat yang dimaksud yang diduga kuat menyimpan harta peninggalan Prabu Siliwangi itu. "Kita juga sudah mengontak kiai-kiai [i][b]mukasyafah
[b]di daerah Banten dan dijawab memang ada barang itu," katanya. Menag menceritakan, selepas mahrib, ketika barang itu akan diambil, ada di antara empat orang dari rombongan yang tidak ikhlas dengan mengatakan, "Kalau memang barang itu ada, terus kita bagiannya apa?" Akhirnya, karena ada yang tidak ikhlas apabila harta itu diserahkan seluruhnya ke negara, maka penggalian dihentikan dan dikembalikan seperti semula. Ketika ditanya apa sebenarnya harta karun yang dimaksud, Menag mengatakan belum tahu. "Tetapi, kalau ketemu semua akan dikembalikan kepada negara, mudah-mudahan dapat melunasi utang luar negeri," katanya yang ikut hadir menyaksikan penggalian tersebut. Dirahasiakan
[b]: Menag menambahkan, sebenarnya masalah penggalian harta di Batu Tulis tersebut ingin dirahasikan dan tidak ingin dibesar-besarkan. "Kita sudah punya komitmen dengan lurah, camat, kapolda, wali kota, kapolwil, dan lain-lain. Saya tidak mau ini diekspose keluar. Saya maunya diam-diam saja, lalu hasilnya saya serahkan ke negara, tidak perlu dibesarkan. Tetapi ternyata yang mengekspose itu camatnya," katanya. Menag juga menegaskan, penggalian itu sudah dikoordinasikan banyak pihak termasuk Presiden Megawati dan Dinas Purbalaka. Meski penggalian itu sudah dihentikan, Menag mengatakan, akan menempuh caralain tanpa bersedia menjelaskan cara yang dimaksud. "Nantilah, pokoknya saya penasaran barang itu bisa ketemu," katanya. Ketika ditanya mengapa sebagai menteri agama ia mempercayai hal-hal supranatural tersebut, Menag hanya mengatakan, "Itu tidak bisa saya jelaskan, Anda harus belajar dulu". (Ant/OL-01) [/i][/i][/i][/i][/i][/i][/i][/i][/i][/i]

