JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia

Diskusi antar anggota

Forum ini juga mencakup hampir semua arsip Apakabar sejak tahun 2002

JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia

Postby tsasando at ... » Sun Aug 11, 2002 9:37 am

Aku salut dengan keberanian Malaysia yang berani-beraninya mengusir para TKI, karena sebenarnya mereka sangat bergantung kepada TKI. Malaysia akan bangkrut kalau tak ada TKI.
 
Kalaulah saja bangsa Indonesia masih punyaharga diri dan balik mengancam untuk memboikot kerja di Malaysia, aku yakin Malaysia akan kebingungan.
 
Cuma sayangnya kita sudah tidak punya harga diri lagi.
 
Tsasando

----- Original Message -----
From: e1-b ([email]elceem@...[/email])
To: imigran@yahoogroups.com (imigran@yahoogroups.com) ; apakabar@yahoogroups.com (apakabar@yahoogroups.com)
Sent: Sunday, August 11, 2002 12:26
Subject: [apakabar] JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia


TKI alias Para Indon

Oleh Viddy A.D. Daery

Lebih dari 500 ribu orang TKI diusir dari Malaysia karena kemarahan PM Mahathir Mohammad. TKI identik perusuh, TKI identik dengan penjahat. Padahal, tidak semua TKI begitu. Tetapi, kemarahan Malaysia tidak bisa dipersalahkan. Mereka telah bersabar atas gangguan kejahatan TKI. Orang Malaysia merasa direpotkan oleh kejahatan para "Indon" yang kuantitas maupun kualitasya kian meningkat.


Sejarah Hijrah ke Malaysia

Dalam manuskripnya yang berjudul Kesatuan Masyarakat dan Bangsa Melayu Malaysia, Prof Dr H Amat Juhari Mu’in dari Universitas Putra Malaysia (UPM) yang mempunyai leluhur asal Jawa menulis bahwa imigrasi (hijrahnya) manusia Indonesia ke Malaysia sudah amat lama dan melalui banyak peristiwa atau tahap.

Tentu ini tidak termasuk sejarah kuno Melayu, di mana pendiri Kerajaan Malaka adalah pangeran Majapahit keturunan campuran Jawa-Palembang. Dan juga pendiri Kerajaan Johor adalah para ningrat Riau keturunan Bugis. Dan banyak lagi sejarah semacam itu.

Amat Juhari Mu’in lebih menekankan bahwa imigrasi orang seberang (Indonesia) ke Tanah Semenanjung (Melayu-Malaysia) yang besar-besaran dimulai pada abad 19. Kehijrahan itu disambut bahagia oleh orang Melayu Malaysia karena untuk menambah populasi sesama puak Melayu Islam -karena penjajah Inggris pada saat itu menindas kaum Melayu dan membuka keran pendatang dari China dan Srilangka serta India- untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan dan perusahaan tambang. Karena itu, kini jumlah penduduk Malaysia hampir berimbang, yakni Melayu 55 persen, China 35 persen, Srilangka dan India 15 persen, serta sisanya etnis lainnya.

Imigran Indonesia ini dulunya banyak membawa kebudayaan asalnya sehingga di seluruh Malaysia tersebar banyak kesenian seperti wayang kulit, gamelan, ketoprak, ludruk, jaran kepang, reog (Jawa) lalu tari serampang dua belas, tari bangsawan (Minang dan Riau), musik keroncong (Indo-Portugis-Indonesia), dan sebagainya. Hanya, karena kian lama Malaysia menerapkan hukum Islam keras, maka banyak kesenian Jawa yang bernilai Hindu dan musyrik kini dilarang.

Di Johor, khususnya di Batu Pahatyang banyak etnis keturunan Jawa, sampai kini masih dipertahankan adanya kesenian wayang kulit dan jaran kepang, bahkan dijadikan maskot Negara Bagian Johor.

Sebagian besar imigran Indonesia-lama itu berjualan nasi soto, nasi padang, rujak (disebut rojak), tahu petis, pecel, dan sebagainya. Juga membuat kerajinan kopiah, batik, tukang emas, dan akhirnya anak keturunan mereka ada yang berpendidikan tinggi, lalu menjadi dosen, guru, ulama, bahkan pejabat birokrasi.

Ada juga yang terkenal sebagai seniman top, misalnya P. Ramlee, Maria Menado, Jakfar Wiryo, Sharif Medan, dan banyak lagi.

Gelombang imigran dari Indonesia datang lagi pada 1970-an sampai 1980-an. Waktu itu ada rezeki minyak dari OPEC. Negara Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah mempergunakan rezeki minyak itu untuk membayar utang dan membangun negara, sementara Indonesia dan negara-negara Amerika Latin menghabiskan rezeki minyak yang luar biasa besar itu untuk dimaling para pejabat tinggi sipil dan terutama militernya.

Karena Malaysia dan Brunei mulai giat membangun, mereka mendatangkan para arsitek dari Inggris, para manajer pelaksana dari Filipina, namun buruh bangunannya dari Indonesia dan Kampuchea (etnis Melayu Islam Champa yang kini dijajah dan ditindas raja Kampuchea dan negara Vietnam).

Maka, Malaysia dan Brunei kini menjadi surga indah berkat otak orang Inggris dan Filipina serta keberanian buruh Indonesia (terkenal disebut Indon) memanjat bangunan-bangunan tinggi tanpa rasa takut -padahal yang jatuh dan mati sudah sangat banyak.

Keadaan harmonis ini mulai terganggu sejak krisis moneter pada 1997-1998 yang membuat jumlah orang miskin Indonesia melonjak menjadi 5.000 kali lipat. Dan sebagian besar lalu memilih menjadi imigran ke Malaysia, yang kebanyakan adalah ilegal (tanpa dokumen lengkap atau palsu atau malah tanpa dokumen sama sekali).

TKI-TKI ilegal ini yang kemudian diperas preman maupun oknum birokrasi pemerintah Indonesia. Mereka pun menjadi budak di negeri orang dan binatang mainan di negeri sendiri.

Preman Samseng Malaysia
Sebuah sumber yang pernah cukup lama bekerja di kalangan "sluman-slumun" di Malaysia menceritakan, ketegangan para Indon itu lalu dijadikan alat politik oleh preman resmi (kalau di Indonesia adalah preman berseragam loreng), yang istilah Malaysianya adalah samseng.

Samseng ini mengadu domba antarkelompok suku TKI. Maka, mulai akhir 1990-an, mulailah perkelahian dan baku bunuh antar-TKI, dengan kekejaman yang lebih kejam daripada yang digambarkan di film-film mafia.

Selain baku bunuh antar-TKI yang mengerikan bagi orang Malaysia, banyak pula TKI yang merampok orang-orang Malaysia yang rata-rata kaya. Motifnya tentu kemiskinan dan kecemburuan sosial. Sebuah film Malaysia yang pernah diputar di TIM Jakarta menceritakan mengenai hal ini.

Kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan TKI -karena terpaksa jahat- inilah yang kemudian membuat rakyat Malaysia marah. Akhirnya, kesabaran PM Mahathir Mohammad pun habis sehingga terpaksa tega mengusir semua TKI ilegal tanpa kompromi.

Padahal, dalam novel politik Kongkeak karya Abdul Rahman Ahmad dari Negara Bagian Kedah, ditulis bahwa politik mendatangkan TKI adalah justru atas ide PM Mahathir sendiri, untuk mengimbangi arus tenaga kerja dari Filipina, Thailand, dan Bangladesh. Alasannya, tentu memprioritaskan sesama puak Melayu dan sama-sama beragama Islam.
*. Viddy A.D. Daery, penyair yang beberapa kali diundang dalam pertemuan budaya di Malaysia

Image
tsasando at ...
 

JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia

Postby canuck0110 at ... » Sun Aug 11, 2002 3:39 pm

> Aku salut dengan keberanian Malaysia yang berani-beraninya
mengusir para TKI, karena sebenarnya mereka sangat bergantung kepada
TKI. Malaysia akan bangkrut kalau tak ada TKI.
>
> Kalaulah saja bangsa Indonesia masih punya harga diri dan balik
mengancam untuk memboikot kerja di Malaysia, aku yakin Malaysia akan
kebingungan.
>

Mungkin jawaban yang benar ialah jika Indonesia 100% memboikot
mengirim tenaga kerja ke Malaysia, maka sangat diragukan kalau
Malaysia akan bangkrut dan bingung, soalnya itu bisa jadi sumber
rejeki bagi tenaga kerja dari negara tetangga lainnya walaupun tidak
satu rumpun, Mister M sangat terkenal dengan keangkuhannya, mana mau
dia "mengemis" meminta Indonesia tetap mengirim tenaga kerja, lagian
sebetulnya yang butuh duit itu kan TKI juga.
canuck0110 at ...
 

JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia

Postby rebeccakhooid at ... » Sun Aug 11, 2002 8:22 pm

Banyak tulisan di media2 Indonesia yang mengatakan bahwa Malaysia
tidak mengingat jasa TKI saat Malaysia membuka perkebunan kelapa
sawit, membangun Malaysia lewat pekerjaan2 konstruksi, membangun
industri elektronik Malaysia yang kini bertebaran di Penang,
Selangor, negeri Sembilan, Johor sampai Sabah dan Serawak.

Bahwa Malaysia tidak tahu terima kasih.

Mau apa lagi ? Memang kenyataannya demikian. Silakan berteriak sampai
urat leher meletus soal 'saudara serumpun', soal hidup sesama puak
Melayu atau toleransi sesama Islam dan muslim yang disakiti satu
anggota badannya seluruh badan ikut sakit ! Kenyataannya adalah puak
Melayu dan Islam tidak segan2 memperalat dan menyakiti sesamanya.

Katanya data menunjukkan bahwa dari 2.5 juta TK asing di Malaysia,
hanya 800,000 yang legal. Mengapa baru jadi masalah sekarang ini
dengan pengusiran besar2an ?

Ya, tentu saja rakyat Malaysia juga gerah dengan ulah TKI illegal
ini, yang primordial dan buas2, lupa kalau bikin kekerasan membakar
dan menjarah di tanah air sendiri bisa lolos dari hukuman, di negeri
orang berhukum. Kalau bicara soal TKI saja, banyak orang Malaysia
mencibir. Terutama yang merasa tidak mendapat rejeki dari mereka.

Hanya orang2 Malaysia yang untung dari TKI mau memahami dan
bersimpati nasib TKI ini -- supir taksi, pedagang kecil, pemilik
bedeng2 yang mereka tempati dan sejenisnya. Media massa dan
pemerintah Malaysia bertahun2 menonjolkan citra buruk sebagian TKI
illegal ini dengan berbagai sorotan tajam, headlines, pengambing-
hitaman, yang bisa menyibukkan masyarakat dan mengalihkan mereka dari
ketidak becusan pemerintahan UMNO Melayu.

Bagusnya, sebagian TKI brengsek juga menciptakan alasan yang bagus
bagi pemerintah Malaysia untuk menindas mereka. Gara2 sebagian TKI
ngamuk di pabrik Hualon di Seremban, menggulingkan mobil dan nyanyi2
maju tak gentar sambil ngibarin bendera merah putih, Kong Mahathir
jadi dapat alasan tokcer untuk menterminate kontrak 400,000 TKI
dengan alasan tak terhormat demikian. Padahal alasan sebenar2nya
adalah Malaysia sungsang sumbel dihajar krisis gara2 tragedi WTC,
exportnya merosot sampai 60%.

Mengapa selama bertahun2 TKI illegal itu dibiarkan saja ? Yang tidak
bersurat ini selama ini merupakan perasan empuk buat pemerintah
Malaysia, polis diraja dan masyarakatnya. Coba tanya bagaimana nasib
sebenarnya para TKI illegal ini.

Pemerintah memakai mereka untuk membangun proyek2 mercu suar ber-cost
tinggi sehingga biaya bisa ditekan. Tuh, sebuat saja Bandara
Antarabangsa KLIA, Cyberjaya, Putrajaya, LRT, PLUS Highway dll.
Dengan TKI illegal ini bisa jadi lebih murah-meriah. Memangnya
pemerintah Malaysia nggak tahu mereka illegal ? Bullshit itu semua.

Pengusaha2 dibiarkan memulai industri mereka pada saat masih
investasi dan belum break-even dengan memakai tenaga sapi dan kuda
dari TKI illegal yang murah, sehingga bisnis mereka bisa lebih cepat
menuai laba.

Polis diraja setiap saat bisa menangkapi lalu memeras mereka, supaya
dilepaskan. Kalau ada perkara2 kekerasan dan pembunuhan, mereka enak,
empuk buat dikambing-hitamkan.

Dan sekarang, ketika dinilai walau ketergantungan itu masih ada,
mereka sudah lebih stabil dan ekses sosial yang sebenarnya juga
ditrigger oleh pemerintah Melayu ini makin meningkat, mereka gebah
500,000 TKI malang itu agar pulang terlunta-lunta. Diperas polis
Malaysia di sebelah sana, dihisap sampai kering-kerontang pihak
Indonesia di sebelah sini.

Bagaimana rasanya diperalat dan dihisap lalu ditendang saudara
SERUMPUN dan SEIMAN sendiri ?

Ada yang 'BERANI' memaki Mahathir sebagai ular berbisa ?

Masih bicara soal HARGA DIRI ?

Kalau nasib memang jadi BUDAKpun, harus jadi BUDAK dari majikan yang
tepat agar lebih sejahtera !


Brgds,


Becky Khoo.


--- In apakabar@y..., "Tsasando" <tsasando@t...> wrote:
> Aku salut dengan keberanian Malaysia yang berani-beraninya mengusir
para TKI, karena sebenarnya mereka sangat bergantung kepada TKI.
Malaysia akan bangkrut kalau tak ada TKI.
>
> Kalaulah saja bangsa Indonesia masih punya harga diri dan balik
mengancam untuk memboikot kerja di Malaysia, aku yakin Malaysia akan
kebingungan.
>
> Cuma sayangnya kita sudah tidak punya harga diri lagi.
>
> Tsasando
>
> ----- Original Message -----
> From: e1-b
> To: imigran@y... ; apakabar@y...
> Sent: Sunday, August 11, 2002 12:26
> Subject: [apakabar] JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia
>
>
> TKI alias Para Indon
>
> Oleh Viddy A.D. Daery
>
> Lebih dari 500 ribu orang TKI diusir dari Malaysia karena
kemarahan PM Mahathir Mohammad. TKI identik perusuh, TKI identik
dengan penjahat. Padahal, tidak semua TKI begitu. Tetapi, kemarahan
Malaysia tidak bisa dipersalahkan. Mereka telah bersabar atas
gangguan kejahatan TKI. Orang Malaysia merasa direpotkan oleh
kejahatan para "Indon" yang kuantitas maupun kualitasya kian
meningkat.
>
>
> Sejarah Hijrah ke Malaysia
>
> Dalam manuskripnya yang berjudul Kesatuan Masyarakat dan Bangsa
Melayu Malaysia, Prof Dr H Amat Juhari Mu'in dari Universitas Putra
Malaysia (UPM) yang mempunyai leluhur asal Jawa menulis bahwa
imigrasi (hijrahnya) manusia Indonesia ke Malaysia sudah amat lama
dan melalui banyak peristiwa atau tahap.
>
> Tentu ini tidak termasuk sejarah kuno Melayu, di mana pendiri
Kerajaan Malaka adalah pangeran Majapahit keturunan campuran Jawa-
Palembang. Dan juga pendiri Kerajaan Johor adalah para ningrat Riau
keturunan Bugis. Dan banyak lagi sejarah semacam itu.
>
> Amat Juhari Mu'in lebih menekankan bahwa imigrasi orang seberang
(Indonesia) ke Tanah Semenanjung (Melayu-Malaysia) yang besar-besaran
dimulai pada abad 19. Kehijrahan itu disambut bahagia oleh orang
Melayu Malaysia karena untuk menambah populasi sesama puak Melayu
Islam -karena penjajah Inggris pada saat itu menindas kaum Melayu dan
membuka keran pendatang dari China dan Srilangka serta India- untuk
dipekerjakan di perkebunan-perkebunan dan perusahaan tambang. Karena
itu, kini jumlah penduduk Malaysia hampir berimbang, yakni Melayu 55
persen, China 35 persen, Srilangka dan India 15 persen, serta sisanya
etnis lainnya.
>
> Imigran Indonesia ini dulunya banyak membawa kebudayaan asalnya
sehingga di seluruh Malaysia tersebar banyak kesenian seperti wayang
kulit, gamelan, ketoprak, ludruk, jaran kepang, reog (Jawa) lalu tari
serampang dua belas, tari bangsawan (Minang dan Riau), musik
keroncong (Indo-Portugis-Indonesia), dan sebagainya. Hanya, karena
kian lama Malaysia menerapkan hukum Islam keras, maka banyak kesenian
Jawa yang bernilai Hindu dan musyrik kini dilarang.
>
> Di Johor, khususnya di Batu Pahat yang banyak etnis keturunan
Jawa, sampai kini masih dipertahankan adanya kesenian wayang kulit
dan jaran kepang, bahkan dijadikan maskot Negara Bagian Johor.
>
> Sebagian besar imigran Indonesia-lama itu berjualan nasi soto,
nasi padang, rujak (disebut rojak), tahu petis, pecel, dan
sebagainya. Juga membuat kerajinan kopiah, batik, tukang emas, dan
akhirnya anak keturunan mereka ada yang berpendidikan tinggi, lalu
menjadi dosen, guru, ulama, bahkan pejabat birokrasi.
>
> Ada juga yang terkenal sebagai seniman top, misalnya P. Ramlee,
Maria Menado, Jakfar Wiryo, Sharif Medan, dan banyak lagi.
>
> Gelombang imigran dari Indonesia datang lagi pada 1970-an sampai
1980-an. Waktu itu ada rezeki minyak dari OPEC. Negara Malaysia,
Brunei, dan Timur Tengah mempergunakan rezeki minyak itu untuk
membayar utang dan membangun negara, sementara Indonesia dan negara-
negara Amerika Latin menghabiskan rezeki minyak yang luar biasa besar
itu untuk dimaling para pejabat tinggi sipil dan terutama militernya.
>
> Karena Malaysia dan Brunei mulai giat membangun, mereka
mendatangkan para arsitek dari Inggris, para manajer pelaksana dari
Filipina, namun buruh bangunannya dari Indonesia dan Kampuchea (etnis
Melayu Islam Champa yang kini dijajah dan ditindas raja Kampuchea dan
negara Vietnam).
>
> Maka, Malaysia dan Brunei kini menjadi surga indah berkat otak
orang Inggris dan Filipina serta keberanian buruh Indonesia (terkenal
disebut Indon) memanjat bangunan-bangunan tinggi tanpa rasa takut -
padahal yang jatuh dan mati sudah sangat banyak.
>
> Keadaan harmonis ini mulai terganggu sejak krisis moneter pada
1997-1998 yang membuat jumlah orang miskin Indonesia melonjak menjadi
5.000 kali lipat. Dan sebagian besar lalu memilih menjadi imigran ke
Malaysia, yang kebanyakan adalah ilegal (tanpa dokumen lengkap atau
palsu atau malah tanpa dokumen sama sekali).
>
> TKI-TKI ilegal ini yang kemudian diperas preman maupun oknum
birokrasi pemerintah Indonesia. Mereka pun menjadi budak di negeri
orang dan binatang mainan di negeri sendiri.
>
> Preman Samseng Malaysia
> Sebuah sumber yang pernah cukup lama bekerja di kalangan "sluman-
slumun" di Malaysia menceritakan, ketegangan para Indon itu lalu
dijadikan alat politik oleh preman resmi (kalau di Indonesia adalah
preman berseragam loreng), yang istilah Malaysianya adalah samseng.
>
> Samseng ini mengadu domba antarkelompok suku TKI. Maka, mulai
akhir 1990-an, mulailah perkelahian dan baku bunuh antar-TKI, dengan
kekejaman yang lebih kejam daripada yang digambarkan di film-film
mafia.
>
> Selain baku bunuh antar-TKI yang mengerikan bagi orang Malaysia,
banyak pula TKI yang merampok orang-orang Malaysia yang rata-rata
kaya. Motifnya tentu kemiskinan dan kecemburuan sosial. Sebuah film
Malaysia yang pernah diputar di TIM Jakarta menceritakan mengenai hal
ini.
>
> Kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan TKI -karena terpaksa jahat-
inilah yang kemudian membuat rakyat Malaysia marah. Akhirnya,
kesabaran PM Mahathir Mohammad pun habis sehingga terpaksa tega
mengusir semua TKI ilegal tanpa kompromi.
>
> Padahal, dalam novel politik Kongkeak karya Abdul Rahman Ahmad
dari Negara Bagian Kedah, ditulis bahwa politik mendatangkan TKI
adalah justru atas ide PM Mahathir sendiri, untuk mengimbangi arus
tenaga kerja dari Filipina, Thailand, dan Bangladesh. Alasannya,
tentu memprioritaskan sesama puak Melayu dan sama-sama beragama
Islam.
> *. Viddy A.D. Daery, penyair yang beberapa kali diundang dalam
pertemuan budaya di Malaysia
>
>
>
> --------------------------- Yang Mudah dan Menghibur --------------
-------------------
> Hosting menjadi mudah dan murah hanya di PlasaCom. Klik
http://idc.plasa.com
> F1 Mania!! Ikuti F1 Game di Obelix Game Corner di
http://www.plasa.com/infotel/f1.html
> -
--------------------
rebeccakhooid at ...
 

JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia

Postby setio.koesoemo at ... » Sun Aug 11, 2002 9:29 pm

Saya dengar sudah ada tindakan untuk 'memutihkan' para ilegal tsb(Pemerintah
Ina atau malay?). Sebenarnya apa saja sih yang menjadi hambatan untuk
menjadi pekerja legal? Kenapa jumlah legal hanya sedikit dibanding ilegal?

Munkin netter yang tahu jawabannya bisa memberi masukan.

PS: Saya setuju semboyan anda" Kalau nasib memang jadi BUDAKpun, harus jadi
BUDAK dari majikan yang tepat agar lebih sejahtera ! ". Tapi kata
sejahteranya yang mengacu dunia dan akherat tentunya.
Bu Becky, bukan tidak ada rasa toleransi sesama muslim, tapi BELUM ADA. Kita
mulailah dari diri sendiri dulu sambil kita doakan agar yang lain bisa
mengikuti. Jangan lantas meniru/membalas keburukan orang ya kan.

Salam damai.

-----Original Message-----
From: rebeccakhooid [mailto:rebeccakhooid@...]
Sent: Monday, August 12, 2002 11:21 AM
To: apakabar@yahoogroups.com
Subject: [apakabar] Re: JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia


Banyak tulisan di media2 Indonesia yang mengatakan bahwa Malaysia
tidak mengingat jasa TKI saat Malaysia membuka perkebunan kelapa
sawit, membangun Malaysia lewat pekerjaan2 konstruksi, membangun
industri elektronik Malaysia yang kini bertebaran di Penang,
Selangor, negeri Sembilan, Johor sampai Sabah dan Serawak.

Bahwa Malaysia tidak tahu terima kasih.

Mau apa lagi ? Memang kenyataannya demikian. Silakan berteriak sampai
urat leher meletus soal 'saudara serumpun', soal hidup sesama puak
Melayu atau toleransi sesama Islam dan muslim yang disakiti satu
anggota badannya seluruh badan ikut sakit ! Kenyataannya adalah puak
Melayu dan Islam tidak segan2 memperalat dan menyakiti sesamanya.

Katanya data menunjukkan bahwa dari 2.5 juta TK asing di Malaysia,
hanya 800,000 yang legal. Mengapa baru jadi masalah sekarang ini
dengan pengusiran besar2an ?

Ya, tentu saja rakyat Malaysia juga gerah dengan ulah TKI illegal
ini, yang primordial dan buas2, lupa kalau bikin kekerasan membakar
dan menjarah di tanah air sendiri bisa lolos dari hukuman, di negeri
orang berhukum. Kalau bicara soal TKI saja, banyak orang Malaysia
mencibir. Terutama yang merasa tidak mendapat rejeki dari mereka.

Hanya orang2 Malaysia yang untung dari TKI mau memahami dan
bersimpati nasib TKI ini -- supir taksi, pedagang kecil, pemilik
bedeng2 yang mereka tempati dan sejenisnya. Media massa dan
pemerintah Malaysia bertahun2 menonjolkan citra buruk sebagian TKI
illegal ini dengan berbagai sorotan tajam, headlines, pengambing-
hitaman, yang bisa menyibukkan masyarakat dan mengalihkan mereka dari
ketidak becusan pemerintahan UMNO Melayu.

Bagusnya, sebagian TKI brengsek juga menciptakan alasan yang bagus
bagi pemerintah Malaysia untuk menindas mereka. Gara2 sebagian TKI
ngamuk di pabrik Hualon di Seremban, menggulingkan mobil dan nyanyi2
maju tak gentar sambil ngibarin bendera merah putih, Kong Mahathir
jadi dapat alasan tokcer untuk menterminate kontrak 400,000 TKI
dengan alasan tak terhormat demikian. Padahal alasan sebenar2nya
adalah Malaysia sungsang sumbel dihajar krisis gara2 tragedi WTC,
exportnya merosot sampai 60%.

Mengapa selama bertahun2 TKI illegal itu dibiarkan saja ? Yang tidak
bersurat ini selama ini merupakan perasan empuk buat pemerintah
Malaysia, polis diraja dan masyarakatnya. Coba tanya bagaimana nasib
sebenarnya para TKI illegal ini.

Pemerintah memakai mereka untuk membangun proyek2 mercu suar ber-cost
tinggi sehingga biaya bisa ditekan. Tuh, sebuat saja Bandara
Antarabangsa KLIA, Cyberjaya, Putrajaya, LRT, PLUS Highway dll.
Dengan TKI illegal ini bisa jadi lebih murah-meriah. Memangnya
pemerintah Malaysia nggak tahu mereka illegal ? Bullshit itu semua.

Pengusaha2 dibiarkan memulai industri mereka pada saat masih
investasi dan belum break-even dengan memakai tenaga sapi dan kuda
dari TKI illegal yang murah, sehingga bisnis mereka bisa lebih cepat
menuai laba.

Polis diraja setiap saat bisa menangkapi lalu memeras mereka, supaya
dilepaskan. Kalau ada perkara2 kekerasan dan pembunuhan, mereka enak,
empuk buat dikambing-hitamkan.

Dan sekarang, ketika dinilai walau ketergantungan itu masih ada,
mereka sudah lebih stabil dan ekses sosial yang sebenarnya juga
ditrigger oleh pemerintah Melayu ini makin meningkat, mereka gebah
500,000 TKI malang itu agar pulang terlunta-lunta. Diperas polis
Malaysia di sebelah sana, dihisap sampai kering-kerontang pihak
Indonesia di sebelah sini.

Bagaimana rasanya diperalat dan dihisap lalu ditendang saudara
SERUMPUN dan SEIMAN sendiri ?

Ada yang 'BERANI' memaki Mahathir sebagai ular berbisa ?

Masih bicara soal HARGA DIRI ?

Kalau nasib memang jadi BUDAKpun, harus jadi BUDAK dari majikan yang
tepat agar lebih sejahtera !


Brgds,


Becky Khoo.


--- In apakabar@y..., "Tsasando" <tsasando@t...> wrote:
> Aku salut dengan keberanian Malaysia yang berani-beraninya mengusir
para TKI, karena sebenarnya mereka sangat bergantung kepada TKI.
Malaysia akan bangkrut kalau tak ada TKI.
>
> Kalaulah saja bangsa Indonesia masih punya harga diri dan balik
mengancam untuk memboikot kerja di Malaysia, aku yakin Malaysia akan
kebingungan.
>
> Cuma sayangnya kita sudah tidak punya harga diri lagi.
>
> Tsasando
>
> ----- Original Message -----
> From: e1-b
> To: imigran@y... ; apakabar@y...
> Sent: Sunday, August 11, 2002 12:26
> Subject: [apakabar] JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia
>
>
> TKI alias Para Indon
>
> Oleh Viddy A.D. Daery
>
> Lebih dari 500 ribu orang TKI diusir dari Malaysia karena
kemarahan PM Mahathir Mohammad. TKI identik perusuh, TKI identik
dengan penjahat. Padahal, tidak semua TKI begitu. Tetapi, kemarahan
Malaysia tidak bisa dipersalahkan. Mereka telah bersabar atas
gangguan kejahatan TKI. Orang Malaysia merasa direpotkan oleh
kejahatan para "Indon" yang kuantitas maupun kualitasya kian
meningkat.
>
>
> Sejarah Hijrah ke Malaysia
>
> Dalam manuskripnya yang berjudul Kesatuan Masyarakat dan Bangsa
Melayu Malaysia, Prof Dr H Amat Juhari Mu'in dari Universitas Putra
Malaysia (UPM) yang mempunyai leluhur asal Jawa menulis bahwa
imigrasi (hijrahnya) manusia Indonesia ke Malaysia sudah amat lama
dan melalui banyak peristiwa atau tahap.
>
> Tentu ini tidak termasuk sejarah kuno Melayu, di mana pendiri
Kerajaan Malaka adalah pangeran Majapahit keturunan campuran Jawa-
Palembang. Dan juga pendiri Kerajaan Johor adalah para ningrat Riau
keturunan Bugis. Dan banyak lagi sejarah semacam itu.
>
> Amat Juhari Mu'in lebih menekankan bahwa imigrasi orang seberang
(Indonesia) ke Tanah Semenanjung (Melayu-Malaysia) yang besar-besaran
dimulai pada abad 19. Kehijrahan itu disambut bahagia oleh orang
Melayu Malaysia karena untuk menambah populasi sesama puak Melayu
Islam -karena penjajah Inggris pada saat itu menindas kaum Melayu dan
membuka keran pendatang dari China dan Srilangka serta India- untuk
dipekerjakan di perkebunan-perkebunan dan perusahaan tambang. Karena
itu, kini jumlah penduduk Malaysia hampir berimbang, yakni Melayu 55
persen, China 35 persen, Srilangka dan India 15 persen, serta sisanya
etnis lainnya.
>
> Imigran Indonesia ini dulunya banyak membawa kebudayaan asalnya
sehingga di seluruh Malaysia tersebar banyak kesenian seperti wayang
kulit, gamelan, ketoprak, ludruk, jaran kepang, reog (Jawa) lalu tari
serampang dua belas, tari bangsawan (Minang dan Riau), musik
keroncong (Indo-Portugis-Indonesia), dan sebagainya. Hanya, karena
kian lama Malaysia menerapkan hukum Islam keras, maka banyak kesenian
Jawa yang bernilai Hindu dan musyrik kini dilarang.
>
> Di Johor, khususnya di Batu Pahat yang banyak etnis keturunan
Jawa, sampai kini masih dipertahankan adanya kesenian wayang kulit
dan jaran kepang, bahkan dijadikan maskot Negara Bagian Johor.
>
> Sebagian besar imigran Indonesia-lama itu berjualan nasi soto,
nasi padang, rujak (disebut rojak), tahu petis, pecel, dan
sebagainya. Juga membuat kerajinan kopiah, batik, tukang emas, dan
akhirnya anak keturunan mereka ada yang berpendidikan tinggi, lalu
menjadi dosen, guru, ulama, bahkan pejabat birokrasi.
>
> Ada juga yang terkenal sebagai seniman top, misalnya P. Ramlee,
Maria Menado, Jakfar Wiryo, Sharif Medan, dan banyak lagi.
>
> Gelombang imigran dari Indonesia datang lagi pada 1970-an sampai
1980-an. Waktu itu ada rezeki minyak dari OPEC. Negara Malaysia,
Brunei, dan Timur Tengah mempergunakan rezeki minyak itu untuk
membayar utang dan membangun negara, sementara Indonesia dan negara-
negara Amerika Latin menghabiskan rezeki minyak yang luar biasa besar
itu untuk dimaling para pejabat tinggi sipil dan terutama militernya.
>
> Karena Malaysia dan Brunei mulai giat membangun, mereka
mendatangkan para arsitek dari Inggris, para manajer pelaksana dari
Filipina, namun buruh bangunannya dari Indonesia dan Kampuchea (etnis
Melayu Islam Champa yang kini dijajah dan ditindas raja Kampuchea dan
negara Vietnam).
>
> Maka, Malaysia dan Brunei kini menjadi surga indah berkat otak
orang Inggris dan Filipina serta keberanian buruh Indonesia (terkenal
disebut Indon) memanjat bangunan-bangunan tinggi tanpa rasa takut -
padahal yang jatuh dan mati sudah sangat banyak.
>
> Keadaan harmonis ini mulai terganggu sejak krisis moneter pada
1997-1998 yang membuat jumlah orang miskin Indonesia melonjak menjadi
5.000 kali lipat. Dan sebagian besar lalu memilih menjadi imigran ke
Malaysia, yang kebanyakan adalah ilegal (tanpa dokumen lengkap atau
palsu atau malah tanpa dokumen sama sekali).
>
> TKI-TKI ilegal ini yang kemudian diperas preman maupun oknum
birokrasi pemerintah Indonesia. Mereka pun menjadi budak di negeri
orang dan binatang mainan di negeri sendiri.
>
> Preman Samseng Malaysia
> Sebuah sumber yang pernah cukup lama bekerja di kalangan "sluman-
slumun" di Malaysia menceritakan, ketegangan para Indon itu lalu
dijadikan alat politik oleh preman resmi (kalau di Indonesia adalah
preman berseragam loreng), yang istilah Malaysianya adalah samseng.
>
> Samseng ini mengadu domba antarkelompok suku TKI. Maka, mulai
akhir 1990-an, mulailah perkelahian dan baku bunuh antar-TKI, dengan
kekejaman yang lebih kejam daripada yang digambarkan di film-film
mafia.
>
> Selain baku bunuh antar-TKI yang mengerikan bagi orang Malaysia,
banyak pula TKI yang merampok orang-orang Malaysia yang rata-rata
kaya. Motifnya tentu kemiskinan dan kecemburuan sosial. Sebuah film
Malaysia yang pernah diputar di TIM Jakarta menceritakan mengenai hal
ini.
>
> Kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan TKI -karena terpaksa jahat-
inilah yang kemudian membuat rakyat Malaysia marah. Akhirnya,
kesabaran PM Mahathir Mohammad pun habis sehingga terpaksa tega
mengusir semua TKI ilegal tanpa kompromi.
>
> Padahal, dalam novel politik Kongkeak karya Abdul Rahman Ahmad
dari Negara Bagian Kedah, ditulis bahwa politik mendatangkan TKI
adalah justru atas ide PM Mahathir sendiri, untuk mengimbangi arus
tenaga kerja dari Filipina, Thailand, dan Bangladesh. Alasannya,
tentu memprioritaskan sesama puak Melayu dan sama-sama beragama
Islam.
> *. Viddy A.D. Daery, penyair yang beberapa kali diundang dalam
pertemuan budaya di Malaysia
>
>
>
> --------------------------- Yang Mudah dan Menghibur --------------
-------------------
> Hosting menjadi mudah dan murah hanya di PlasaCom. Klik
http://idc.plasa.com
> F1 Mania!! Ikuti F1 Game di Obelix Game Corner di
http://www.plasa.com/infotel/f1.html
> -
--------------------




To learn more about the apakabar group, please visit
http://groups.yahoo.com/group/apakabar

To start sending messages to members of this group, simply
send email to
apakabar@yahoogroups.com

To subscribe to this group, send an email to:
apakabar-subscribe@yahoogroups.com

To unsubscribe to this group, send an email to:
apakabar-unsubscribe@yahoogroups.com



Your use of Yahoo! Groups is subject to
setio.koesoemo at ...
 


Return to Forum Apakabar

Who is online

Users browsing this forum: Google [Bot], Google Adsense [Bot] and 10 guests