Kalaulah saja bangsa Indonesia masih punyaharga diri dan balik mengancam untuk memboikot kerja di Malaysia, aku yakin Malaysia akan kebingungan.
Cuma sayangnya kita sudah tidak punya harga diri lagi.
Tsasando
----- Original Message -----
From: e1-b ([email]elceem@...[/email])
To: imigran@yahoogroups.com (imigran@yahoogroups.com) ; apakabar@yahoogroups.com (apakabar@yahoogroups.com)
Sent: Sunday, August 11, 2002 12:26
Subject: [apakabar] JP: Riwayat TKI Indon di Malaysia
TKI alias Para Indon
Oleh Viddy A.D. Daery
Lebih dari 500 ribu orang TKI diusir dari Malaysia karena kemarahan PM Mahathir Mohammad. TKI identik perusuh, TKI identik dengan penjahat. Padahal, tidak semua TKI begitu. Tetapi, kemarahan Malaysia tidak bisa dipersalahkan. Mereka telah bersabar atas gangguan kejahatan TKI. Orang Malaysia merasa direpotkan oleh kejahatan para "Indon" yang kuantitas maupun kualitasya kian meningkat.
Sejarah Hijrah ke Malaysia
Dalam manuskripnya yang berjudul Kesatuan Masyarakat dan Bangsa Melayu Malaysia, Prof Dr H Amat Juhari Mu’in dari Universitas Putra Malaysia (UPM) yang mempunyai leluhur asal Jawa menulis bahwa imigrasi (hijrahnya) manusia Indonesia ke Malaysia sudah amat lama dan melalui banyak peristiwa atau tahap.
Tentu ini tidak termasuk sejarah kuno Melayu, di mana pendiri Kerajaan Malaka adalah pangeran Majapahit keturunan campuran Jawa-Palembang. Dan juga pendiri Kerajaan Johor adalah para ningrat Riau keturunan Bugis. Dan banyak lagi sejarah semacam itu.
Amat Juhari Mu’in lebih menekankan bahwa imigrasi orang seberang (Indonesia) ke Tanah Semenanjung (Melayu-Malaysia) yang besar-besaran dimulai pada abad 19. Kehijrahan itu disambut bahagia oleh orang Melayu Malaysia karena untuk menambah populasi sesama puak Melayu Islam -karena penjajah Inggris pada saat itu menindas kaum Melayu dan membuka keran pendatang dari China dan Srilangka serta India- untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan dan perusahaan tambang. Karena itu, kini jumlah penduduk Malaysia hampir berimbang, yakni Melayu 55 persen, China 35 persen, Srilangka dan India 15 persen, serta sisanya etnis lainnya.
Imigran Indonesia ini dulunya banyak membawa kebudayaan asalnya sehingga di seluruh Malaysia tersebar banyak kesenian seperti wayang kulit, gamelan, ketoprak, ludruk, jaran kepang, reog (Jawa) lalu tari serampang dua belas, tari bangsawan (Minang dan Riau), musik keroncong (Indo-Portugis-Indonesia), dan sebagainya. Hanya, karena kian lama Malaysia menerapkan hukum Islam keras, maka banyak kesenian Jawa yang bernilai Hindu dan musyrik kini dilarang.
Di Johor, khususnya di Batu Pahatyang banyak etnis keturunan Jawa, sampai kini masih dipertahankan adanya kesenian wayang kulit dan jaran kepang, bahkan dijadikan maskot Negara Bagian Johor.
Sebagian besar imigran Indonesia-lama itu berjualan nasi soto, nasi padang, rujak (disebut rojak), tahu petis, pecel, dan sebagainya. Juga membuat kerajinan kopiah, batik, tukang emas, dan akhirnya anak keturunan mereka ada yang berpendidikan tinggi, lalu menjadi dosen, guru, ulama, bahkan pejabat birokrasi.
Ada juga yang terkenal sebagai seniman top, misalnya P. Ramlee, Maria Menado, Jakfar Wiryo, Sharif Medan, dan banyak lagi.
Gelombang imigran dari Indonesia datang lagi pada 1970-an sampai 1980-an. Waktu itu ada rezeki minyak dari OPEC. Negara Malaysia, Brunei, dan Timur Tengah mempergunakan rezeki minyak itu untuk membayar utang dan membangun negara, sementara Indonesia dan negara-negara Amerika Latin menghabiskan rezeki minyak yang luar biasa besar itu untuk dimaling para pejabat tinggi sipil dan terutama militernya.
Karena Malaysia dan Brunei mulai giat membangun, mereka mendatangkan para arsitek dari Inggris, para manajer pelaksana dari Filipina, namun buruh bangunannya dari Indonesia dan Kampuchea (etnis Melayu Islam Champa yang kini dijajah dan ditindas raja Kampuchea dan negara Vietnam).
Maka, Malaysia dan Brunei kini menjadi surga indah berkat otak orang Inggris dan Filipina serta keberanian buruh Indonesia (terkenal disebut Indon) memanjat bangunan-bangunan tinggi tanpa rasa takut -padahal yang jatuh dan mati sudah sangat banyak.
Keadaan harmonis ini mulai terganggu sejak krisis moneter pada 1997-1998 yang membuat jumlah orang miskin Indonesia melonjak menjadi 5.000 kali lipat. Dan sebagian besar lalu memilih menjadi imigran ke Malaysia, yang kebanyakan adalah ilegal (tanpa dokumen lengkap atau palsu atau malah tanpa dokumen sama sekali).
TKI-TKI ilegal ini yang kemudian diperas preman maupun oknum birokrasi pemerintah Indonesia. Mereka pun menjadi budak di negeri orang dan binatang mainan di negeri sendiri.
Preman Samseng Malaysia
Sebuah sumber yang pernah cukup lama bekerja di kalangan "sluman-slumun" di Malaysia menceritakan, ketegangan para Indon itu lalu dijadikan alat politik oleh preman resmi (kalau di Indonesia adalah preman berseragam loreng), yang istilah Malaysianya adalah samseng.
Samseng ini mengadu domba antarkelompok suku TKI. Maka, mulai akhir 1990-an, mulailah perkelahian dan baku bunuh antar-TKI, dengan kekejaman yang lebih kejam daripada yang digambarkan di film-film mafia.
Selain baku bunuh antar-TKI yang mengerikan bagi orang Malaysia, banyak pula TKI yang merampok orang-orang Malaysia yang rata-rata kaya. Motifnya tentu kemiskinan dan kecemburuan sosial. Sebuah film Malaysia yang pernah diputar di TIM Jakarta menceritakan mengenai hal ini.
Kerusuhan-kerusuhan yang ditimbulkan TKI -karena terpaksa jahat- inilah yang kemudian membuat rakyat Malaysia marah. Akhirnya, kesabaran PM Mahathir Mohammad pun habis sehingga terpaksa tega mengusir semua TKI ilegal tanpa kompromi.
Padahal, dalam novel politik Kongkeak karya Abdul Rahman Ahmad dari Negara Bagian Kedah, ditulis bahwa politik mendatangkan TKI adalah justru atas ide PM Mahathir sendiri, untuk mengimbangi arus tenaga kerja dari Filipina, Thailand, dan Bangladesh. Alasannya, tentu memprioritaskan sesama puak Melayu dan sama-sama beragama Islam.
*. Viddy A.D. Daery, penyair yang beberapa kali diundang dalam pertemuan budaya di Malaysia

