Superkoran

Sponsored Links

Harri Gieb: Review Buku: Tragedi Rambut Gondrong Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
 Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an by Aria Wiratma Yudhistira published: April 2010 by Marjin Kiri details: Paperback, 184 pages isbn13: 9789791260077

Mendung kelabu memeluk Bandung hari itu. Pada 6 Oktober 1970, Rene Louis Conrad, mahasiswa elektro ITB, tewas tertembus timah panas akibat sebuah peristiwa yang seharusnya menyenangkan dan menyehatkan: sepakbola. 

Yang membuat menyedihkan, Rene Louis Conrad sebetulnya sama sekali tidak terlibat dalam pertandingan sepakbola itu, ataupun menyaksikannya. Ia hanya kebetulan berkeliling kampus dengan sepeda motor Harley Davidson-nya sambil pamer. Kebetulan ketika terjadi keributan, Rene lewat di depan kampus, dan ia ditembak hingga tewas. Mayatnya dibuang ke atas kendaraan polisi begitu saja, lalu ditaruh di gudang. Menurut sebagian pihak, andaikan Rene segera dibawa ke dokter, kemungkinan ia tidak harus mati.

Kisah Rene ini menjadi titik klimaks akibat sebuah larangan yang menggelikan: rambut gondrong. Ya. Menjelang tragedi penembakan Rene, pihak kepolisian Bandung melakukan razia besar-besaran terhadap mahasiswa yang berambut gondrong. Banyak mahasiswa dan pemuda yang ditangkapi di jalan-jalan, lalu digunduli. Hal ini menimbulkan ketegangan antara mahasiswa dan polisi.

Untuk meredakan kondisi itu, diadakanlah pertandingan sepakbola antara pihak AKABRI Kepolisian dengan mahasiswa ITB. Namun kesempatan ini digunakan oleh sebagian mahasiswa untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap polisi. Sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi lain, seperti Universitas Padjadjaran dan Universitas Parahyangan pun datang menyaksikan pertandingan itu. Sebagian lagi membawa gunting dan mengejek-ejek pihak polisi, meminta supaya digunduli. Hal ini membangkitkan keberangan di pihak taruna kepolisian, sebagian malah mengeluarkan pistol. Terjadilah perkelahian massal itu. Dan akhirnya, Rene yang sedang asik mengendarai Harley-nya menjadi korban.

Atas nama peristiwa kelabu di atas, saya kira, buku ini berhasil menampilkan sebuah kajian sejarah dilihat dari sesuatu yang tidak serius. Coba bayangkan bagaimana sebuah stabilitas negara bisa terganggu hanya karena rambut gondrong. Saya jadi ingat, di tahun 80-an, yang menjadi musuh penguasa tidak lagi orang yang berambut gondrong, tetapi orang yang bertatto. Tahun-tahun itu, negeri ini sedang geger besar. Mayat-mayat ditemukan di sembarang tempat. Dengan lubang peluru yang memenuhi tubuh yang penuh tatto. Kita ingat peristiwa 'petrus', yang berasal dari dua kata “penembak” dan “misterius”. Disinyalir, pembunuhan itu merupakan pembunuhan sistematis oleh negara terhadap preman atau yang di tuduh preman. 

Hal yang menarik adalah hampir semua korban memiliki tatto. Karena berita koran sangat deskriptif, masyarakat lantas mengidentifikasi kalau gali identik dengan orang bertatto. Kadar ini semakin meningkat, bahkan sampai pada titik memiliki tato = gali. Nah, karena saking takutnya, orang-orang yang memiliki tatto dengan alasan untuk gaya-gaya-an saja, akhirnya berbondong-bondong datang ke kantor polisi untuk minta perlindungan.

Berita baiknya, saat kekuasaan merumuskan bahwa rambut gondrong identik dengan radikalisme dan sikap acuh tak acuh, ada perlawanan dari mahasiswa. Konon, peristiwa Malari tahun 1974 itu juga berawal dari rambut gondrong. Jadi tak sempat ada opini publik yang mengidentikkan kekacauan dengan rambut gondrong. Meski memang, sampai sekarang, rambut gondrong tetap menjadi 'anak tiri' dari gaya seorang lelaki. Karena merunut pada pengalaman saya sendiri sebagai seorang mantan berambut gondrong, kesan pertama orang tua pacar saya dulu, yang memandang sebelah mata begitu tahu ternyata pacar anaknya adalah seorang yang berambut gondrong. Dosen pembimbing skripsi saya yang sulit ditemui karena saya berambut gondrong. Tetapi ada beberapa keuntungan, gondrong sering disangka angker atau korakdalam bahasa Jawa Timuran, sehingga selalu aman di jalan. 


Add Comments
Last Updated ( Wednesday, 25 August 2010 )
 
< Prev   Next >