Paling banyak dibaca (30 hari)
ARSIP tulisan
-
August, 2010
-
July, 2010
-
June, 2010
-
May, 2010
-
April, 2010
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
April, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Iwan Piliang: Adil Belum Beli Buku Kelas Enam Es De |
|
|
Bis Kopaja Enam-Enam petang itu menabrak jalur Busway menuju Manggarai Metro Mini Enam Dua melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu, Adil kelas enam es de seusia anak pertamaku menjadi kernet Ia bilang ibunya sudah berpulang
Adil pagi sekolah, siang hingga larut mengkernet Ia perlihatkan dua garis di pangkal pahanya biru-biru Ayahnya sang supir suka memukul Adil menundukkan kepala menekuk kaki di pojok kiri
Adil, penumpang! Teriak si supir Di perempatan Pancoran , billboard berukuran lapangan volley Presiden dan Ibu Negara bervisual beragam kegiatan: Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Adil bilang buku kelas enam es de-nya belum terbeli
Di Durentiga menyeberang berselingkitan motor menabrak lampu merah Motor bikin penumpang bis komprang-komprang berkurang Berlabuh ke sebuah cafe bertajuk O, o-alah, ruko-ruko bersulap berdandan meng-cafe Petuah sang kawan di cafe O, setiap kekayaan tambun cenderung berunsur kriminal
Sang kawan di Bareskrim Mabes Polri, mengaku gamang melihat kejahatan kerah putih Lalu kami malam-malam menenggak dingin eskrim Lantas hujan berlabuh rusuh, bertanya haruskah mengkriminil baru meluruh lusuh? Membayangkan mengirim mimpi ke Adil menyeruput es krim
Di jalanan pukul dua tiga tiga puluh bis telah tiada Menyusuri jalan raya Pasar Minggu menuju Pancoran Rombongan pengajian Mejelis Zikir Rasulullah menyemut baru usai Lapak pedagang sarung, kopiah, mukenah, minyak wangi, menepi jalan masih berdiri
Adil kiranya sudah di peraduan, hanya sebuah omprengan tua saja lewat Dua gadis dan beberapa penumpang pria berwajah lusuh acuh Mereka bekerja di sebuah rumah sakit Mereka bilang jumlah pasien meningkat, insomnia dan lainnya penyakit.
Berjalan dari Pasar Rumput menuju rumah Enam pasang tunawisma terlelap di pelataran toko-toko sepeda Nyanyian nyamuk menyeka minat menggigit darah pahit Tujuh gerobak membalut tubuh, membayangkan Adil tidur pulas bak manusia gerobak
Satu dua pengumpul berang bekas memilah gelas dan botol plastik Menghitung bak lembar dolar di sebuah money-changer di sepelemparan batu Menteng Tiga wanita ber-rok pendek di keremangan Pasar Rumput lalu empat lelaki menari-nari Musik dangdut menghentak mengingatkan senandung kernet Adil di bis tadi petang
Sebuah lampu menyorot kepala patung sosok Gajah Mada di Markas PM Guntur Bertanya ke hati, wajah asli Maha Patih Gajahmada-kah? Hidung melengkung, muka keras, garis di jidat melilit, dagu belah kotak Sejarah kadung menghafal tahun tanpa perlu verifikasi apalagi berguna nyanyian prestasi
Alam seakan tak perlu membaca mengejawantahkan lema adil Membuka lembaran kamus Bahasa Indonesia yang lusuh Adil: tidak berat sebelah, tidak memihak; berpihak kepada kebenaran. Dapatkah kelak sosok kernet bernama Adil menjadi insan nan adil?
Menatap anakku, membayangkan Adil yang belum membeli buku kelas enam es de. Anakku pun, belum membeli buku kelas enam es de Di rumah televisi menyala sendiri menyiarkan ulang sebuah talk show tipi Sesosok bergelar doktor hukum tata negara bertajuk Yusril berdebat keabsahan Jaksa Agung dan keadilan
Hampir semua doktor tak pernah lagi meninjau kawasan kumuh Apatah pula sepenggal ruas Manggarai-Durentiga-Manggarai, bukan Manggarai NTT Kendati letaknya tak sampai sekilo dari rumah Wapres ekonom bergelar doktor Adil hanyalah sepenggal lema tak beda dengan Yusril, sebuah nama saja
Dini hari pekak telinga mendengar perdebatan doktor-doktor di tipi Teringat kawan diminta menjawabkan pertanyaan mantan seorang pejabat ambil doktor Rupanya pertanyaan itu dibocorkan tim penguji sang pejabat calon doktor Agar cantik disimak orang diliput media di ujian doktor ala perjokian kotor
Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de. Para pejabat pendidikan, mantan pejabat, tokoh berlomba-lomba mengambil gelar doktor Lalu ranah intelektual kotor demi gelar doktor-doktor Adil tetap saja adil, sebuah kata tanpa makna
Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de Hanyalah penggalan kecil Indonesia di ruas Menggarai-Durentiga-Manggarai Ribuan kilometer Indonesia berjuta Adil belum membeli buku kelas enam es de Masih adakah Adil berhati wangi, bak Malaikat Subuh dijual di pinggir jalan tadi?
Adil sosok kernet yang belum bisa membeli buku kelas enam es de Sebotol Malaikat Subuh lima ribu di pinggir jalan usai acara Majelis Zikir Rasulullah Lima ribu bisa mahal bisa murah, relatif di kala kosong koin Rp 100 begitu berarti Serelatif mencari malaikat keadilan di bumi Indonesia nan tak kunjung wangi.
Demi Adil yang belum bisa membeli buku kelas enam es de Kepada-Mu Tuhan doa kupanjatkan agar Adil dapat membeli buku kelas enam es de Semoga Malaikat Subuh wangi membelai Adil belum bisa beli buku kelas enam es de Amin. Adil. Amin.
Jalan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan, 13 Juli 2010
Catatan: bukan Sketsa. Bukan pula Opini. Dibilang puisi, selama ini aku bukan penulis puisi, juga mungkin tak bakat menulis puisi. Tetapi apun menurut kawan2, ia adalah sebuah karya tulisan yang aku kerjakan dengan hati. Untuk kritikus sastra, silahkan dikritisi, boleh disebut puisi atau tidak? Lebih baik kita membedah karya. Thx. salam
 | LIST OF COMMENTS |
1/3. Doa Utk Adi Written by Guest - Tuesday, July 13 2010 | Kasihan si Adil..cuma mendapat doa dari penulis dan jadi tontonan dan diskusi bagi pemerhati |
2/3. Cuma Doa Written by Guest - Tuesday, July 13 2010 | Kepada-Mu Tuhan doa kupanjatkan agar Adil dapat membeli buku kelas enam es de
Semoga Malaikat Subuh wangi membelai Adil belum bisa beli buku kelas enam es de
Amin. Adil. Amin....Kasihan si Adil... Cuma dapat doa..Seandainya saja si penulis menjadi "Malaikat Subuh" bagi jawaban "Pedang Malam"
|
3/3. Tuhan mendengar? Written by Guest - Thursday, July 29 2010 | Tuhan mendengar doa-doa khusuk itu? --- Tidak ada jaminan. --- Tuhan tidak buta dan tidak pula pekak untuk melihat dan mendengar jeritan hambanya. --- Dia hanya mau netral saja. --- Jadi, tak perlu sedu sedan murahan itu. |
Add Comments |
|
Last Updated ( Saturday, 14 August 2010 )
|
|
|