Paling banyak dibaca (30 hari)
ARSIP tulisan
-
August, 2010
-
July, 2010
-
June, 2010
-
May, 2010
-
April, 2010
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
April, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Harri Gieb: Curhat Gieb: Adakah Masa Depan Puisi? |
|
|
Lain cerita dengan nama: Gieb. Tak pernah tahu di mana dilahirkan. Yang jelas Gieb masih ingat tanggal kelahirannya, 7 Maret 1978. Berstatus buruh sebuah perusahaan keluarga. Tak pernah berpikir tentang cita-cita. Tapi pernah bermimpi menjadi sastrawan besar; nama beken, kaya raya, hidup ‘nyeni, digandrungi perempuan dan karyanya tersebar di toko-toko.
>
Dalam mimpi Gieb menjadi sastrawan adalah gampang. Syarat pertama, minimal, harus bisa membuat puisi. Siapa di negeri ini yang tidak bisa membuat puisi ? Hanya orang tolol dan buta huruf saja. Setiap orang melek huruf –pernah ikut Kejar Paket A dan B- akan berpikiran puisi hanya susunan kata, tak kurang dan tak lebih. Sehingga tak perlu teori yang njlimet-njlimet seperti yang sering digagas para dosen atau akademisi. Jadilah mereka sok tahu, sok pakar. Menyebut orang lain tak tahu apa-apa karena tak bisa membedah isi otak para penyair. Sebait sajak dari Sitor Situmorang adalah bukti dari apologi Gieb.
Malam Lebaran Bulan di atas kuburan
Untuk membuat sajak sejenis itu sangatlah mudah. Tapi oleh para kritikus dibuat membingungkan. Memerlukan banyak teori untuk sekedar mengublek-ublek sajak seperti itu. Bahkan meminjam tesis para pakar sastra dari barat. Dipikirnya teori dalam negeri tidak mampu membongkar sajak itu. Padahal Gieb bisa membuat sajak singkat seperti ini. Misalnya :
Janji SBY mengusut korupsi Wush….wush
Apa susahnya menjadi sastrawan besar ? Menurut Gieb, sastrawan mirip dengan penyair –di sini letak kekeliruan Gieb-. Ia salah duga melihat jagad sastra. Tak pernah teridentifikasikan virus macam apa yang menjangkiti benaknya. Pikirnya, tidak ada sastrawan di luar penyair. Cerpenis, novelis, kolumnis itu hanyalah tukang. Tugas mereka hanya merangkai kata menjadi kalimat. Lalu disusun beralinea. Terus menggabungkan alinea-alinea sampai panjang-panjang. Tujuan utama mereka cuma satu: duit. Beda dengan penyair. Penyair itu rohnya rakyat. Darah masyarakat. Pejuang kemanusiaan. Humanis paling humanis. Hatinya peka. Jiwanya peka. Renungannya mendalam. Sejajar dengan filsuf. Bahkan ada yang menganggap dirinya ‘nabi’, begitu ucap Gieb dalam suatu diskusi sastra.
Siapa saja yang hidup di negeri yang permai ini, negeri yang anti kekerasan dan kerusuhan –kalaupun terjadi itu hanyalah pekerjaan oknum tak bertanggung jawab atau kesalahan prosedur-, bisa menjadi sastrawan besar. Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini menjadi sastrawan tidak perlu belajar suntuk. Sambil mabuk Whisky atau bir berlabel AO dan KTI, seseorang dapat menggonjang-ganjingkan dunia kesusastraan. Membawa sebait sajak aneh yang dianggap pendobrak tatanan lama. Pembawa nilai-nilai baru. Lalu oleh para kritikus menjadi bahan pembicaraan yang tak pernah habis. Berdasarkan teori yang seabreg menyebut penyair yang bersangkutan benar-benar sempurna mentranformasikan jiwa dan isi kepala. Pencariaan berabad-abad tervisualisasikan dalam sebait sajak yang tak lazim.
Tak ada yang membuat Gieb terheran-heran. Sebab Gieb pun bisa membuat peristiwa seperti itu. Lalu Gieb pun ngelip Nipam sambil ‘nyimeng sedikit. Tiba saat kepala terasa berat, puyeng, antara sadar dan tak sadar. Gieb pun meraih secarik kertas HVS dan spidol dan ditulisnya sajak. Kurang dari lima menit sudah tercipta sajak.
Pura pun Tertembak
rupa pa-ru rupaku pa-ruku tertembak tembak-ter pelurupapura tentara pura tembak pa pa ru ru di di dor dor
Ketika benar-benar sadar, Gieb merasa terkejut setengah mati. Tak disangkanya ia bisa membuat sajak dahsyat seperti ini. Ia yakin sajak ini akan menggemparkan dunia perpuisian. Membuat kagum para kritikus. Lalu memborong sekarung teori barat untuk bisa mengulas sajaknya. Luar biasa. Dunia sastra akan dibuat horeg. Ia akan dikenal luas. Dan karya-karyanya akan laris manis diserbu para pembeli. Ia akan diundang kemana-mana untuk seminar, simposium, diskusi atau sekedar membacakan sajak-sajaknya. Ia akan diberi penghargaan oleh pemerintah karena telah dianggap berjasa di dunia kesusastraan. Dan pada akhirnya, ia berharap tersangkut dalam calon pemilihan anggota DPR.
Lalu apa yang terjadi. Hari-hari yang melelahkan. Entah berapa judul yang telah Gieb kirimkan kepada redaktur majalah. Tak ada jawaban yang pasti. Sampai ia kadang harus memaki-maki para redaktur majalah karena tidak tahu tentang hakikat sebuah puisi.
Hari-hari berikut bagi Gieb adalah hari-hari mimpi, onani dan berpuisi. Tiada hari tanpa mimpi. Tiada hari tanpa onani. Tiada hari tanpa puisi. Hingga sampai pada saat menempatkan itu sebagai ideologi. Karena Gieb tidak sendirian. Dibelakang, ada ribuan orang seperti Gieb yang punya komitmen dan motivasi yang sama. Sungguh luar biasa.
Adakah masa depan puisi bagi orang seperti Gieb? Entah. Tidak ada yang bisa menemukannya. Tetapi dalam jagad sastra, mereka bukan sampah. Meski ada yang menyampahkan diri. Yang jelas telah terjadi ledakan "membuat sastra". Sekedar membuat, mungkin. Bahwa sastra menghendaki tak ingin sekedar memasuki ruang publik yang bersifat fisik saja, tetapi juga maknawi. Jadi, persoalannya tak cuma sekedar bagaimana membuat puisi. Sebab yang dibutuhkan sastra hanyalah iklim, suasana yang kondusif dan revolusi kesadaran. Tanpa itu hanyalah utopia yang nyata. Maka sastra jangan dirumuskan, tetapi dilayani, jangan diamankan, tetapi diberi kebebasan. Tetapi, ketika keadaan sudah sedemikian transparan seperti ini, apalagi yang tersisa. Ah, asu tenan.
*Tulisan dibuat tahun 1996 dan disarikan dari dialog Budi Sarjono dalam Begini, Begini, dan Begitu.
 | LIST OF COMMENTS |
1/1. Pembaca tetap Written by Guest - Monday, July 12 2010 | Ah lucu tenan. Sastra mengabdi pada siapa? Baik kita tengok masa 65-an, apa kata Pramudya AN dkk |
Add Comments |
|
Last Updated ( Friday, 06 August 2010 )
|
|
|