Paling banyak dibaca (30 hari)
ARSIP tulisan
-
August, 2010
-
July, 2010
-
June, 2010
-
May, 2010
-
April, 2010
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
April, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Albert Kusen: Mengenang Dr Sam Ratulangi |
|
|
Bung Karno: "Bangsa yg besar menghormati jasa pahlawannya" Presiden Soekarno ketika menyerahkan secara simbolis Patung Dr. G.S.S.J Ratulangi dalam acara penutupan Musyawarah Pemuda Kawanua di Gedung Pramuka Jakarta, 18 Agustus 1960, mengatakan “…Ya, Dr. G.S.S.J Ratulangi, alangkah besarnya manusia ini. Tiap-tiap bangsa mempunyai orang-orang ‘besar’, bukan dalam arti pangkat atau kedudukan, tetapi tiap-tiap bangsa mempunyai orang besar dalam arti ‘nilai’, ‘isi’, ‘kwaliteit’. Bangsa Indonesia mempunyai Dr. G.S.S.J Ratulangi. Maka oleh karena itulah pantas dan wajib sekali bangsa Indonesia mengagungkan Dr. G.S.S.J Ratulangi itu.
Lebih lanjut diungkapkan oleh Soekarno, “…kata ’Indonesia’ Saudara-saudara Levensversekering Maatchappij itu ada tulisan Indonesia yang berbunyi ‘Indonesia’, pertama kali dengan terang-terangan di wilayah tanah air kita Indonesia, satu-satunya orang Indonesia yang pertama kali dikemukakan oleh Ratulangi. Perkataan Indonesia itu bukan sekedar perkataan saja, tetapi adalah satu idée, idée persatuan bangsa. ’Ideeku’, kata Ratulangi, “…supaya kepulauan ini yang beratus-ratus, beribu-ribu, bersatu dan diberi satu nama, dan nama ini, bersama-sama dengan pemuda-pemuda, pemudi-pemudi yang ada di ‘Eropa’, pada waktu itu, ‘telah kami tetapkan: Indonesia”. Inilah sekelumit pidato Soekarno yang merefleksikan atas sosok Sam Ratulangi sebagai anak bangsa yang dengan tegas disebut sebagai ‘Bapak Bangsa’ Indonesia. (catatan admin SK: harap baca catatan tambahan Harry Kawilarang dibawah tulisan ini) Dalam konteks ke-Minahasa-an, Sam Ratulangi merupakan salah seorang Minahasa dihasilkan dari konsep Tou-Keter (manusia keras/teguh pada pendirian), Tou-Nga’asan (manusia berakal/intelektual), dan Tou-Sama/Le’os (manusia baik/beradab) yang kemudian menjadi ‘Pa tu’usan’ dan ‘Pa‘endon Tua’ (teladan). Lahir di Tounkuramber Tondano pada tanggal 5 November 1890. Ia adalah sosok pejuang yang terdorong oleh etos ‘Sei’reen’ menyaksikan keberadaan bangsanya, negerinya, dan sesamanya yang terkebelakang dari bangsa lain (kolonial). Maka berangkatlah dia ke tanah Jawa demi untuk meningkatkan dan meraih sesuatu yang namanya pendidikan lanjut (sumikolah). Selanjutnya, setelah menyadari bahwa di seberang sana (Eropa) merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, maka atas restu orang tua/keluarga berangkatlah dia dengan penuh semangat yang menggebu-gebu demi untuk menggapai cita-citanya menjadi manusia yang berilmu tinggi. Pertama-tama memilih di Vrije Universiteit Van Amsterdam (VU). Oleh karena persyaratan akademik tidak memungkinkan (tidak memiliki ijazah KWS MO pendidikan matematika), pindahlah dia ke Eidgenossiche Technische Hochschule (ETH) di Zurich (1915). Pada tahun 1919 ia memperoleh gelar Doktor Matematika dan Fisika. Selesai pendidikan tingginya pulanglah dia ke negerinya semula (belum Indonesia). Ia memulai karir pendidikan sebagai guru ilmu pasti pada AMS bagian B di Yogyakarta (lihat Sondakh 1994; Supit 2004). Latar belakang keilmuan di bidang matematika dan fisika, dianalisis oleh mantan rektor IPB Prof.Dr. Andi H. Nasution, bahwa Sam Ratulangi terbiasa berpikir dan berargumentasi menggunakan nalar ‘deduksi’ dan ‘induksi’ karena latar belakang ilmunya itu. Kemampuan inilah yang menjadi keutamaannya sebagai ahli politik yang mampu melihat jauh ke depan. Maka tidak ada salahnya Sam Ratulangi dinobatkan sebagai seorang futurolog yang dimiliki bangsa Indonesia, jauh sebelum munculnya Alvin Toffler sebagai Futurolog terkenal di dunia. Jurnal atau tabloid ‘Nationale Commenteren’ yang diterbitkan sendiri oleh Sam sebelum republik ini berdiri merupakan media komunikasi tempat dia mengekspresikan ke-Tou-Ngaasan-nya. Kepakarannya sebagai seorang futurolog tampak dalam tulisan atau artikel-artikelnya yang mengemukakan kondisi dan situasi Hindia Belanda (Indonesia) dalam kemelut politik pra-perang pasifik, di mana tulisan-tulisannya menjadi bacaan umum, terutama bagi kalangan pejuang untuk menyimak ketajaman analisis dan argumentasinya berkenaan dengan kondisi dan situasi tersebut. Meskipun perang Asia Timur belum meledak, dalam bukunya Indonesia di Pasifik (1937) Sam Ratulangi menulis: “Pasifik telah menciptakan sebuah kawasan ekonomi dan politik tersendiri, dengan masalah-masalah sendiri, yang basis dasarnya adalah Amerika Serikat dan Jepang”. Walau berada dalam kondisi dan kurun waktu yang berbeda, tetapi pandangan ke depan dari Ratulangi ternyata menjadi kenyataan dengan munculnya peranan AS dan Jepang yang kemudian mengembangkan kemajuan ekonomi dan teknologi di kawasan pasifik (Kawilarang 2007:3). Kecuali itu, ia juga memprediksi, akan bertambahnya lagi kekuatan baru dunia seperti USSR (Uni-Soviet) dan China, di mana akan terjadi konflik – perang pasifik dan Hindia Belanda akan terseret dalam perang tersebut. Selanjutnya hasil analisis Ratulangi meprediksikan bahwa berakhirnya perang pasifik dengan kemenangan AS atas Jepang akan membawa implikasi semakin cepatnya kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, dalam bukunya tersebut Sam Ratulangi sempat memberi saran agar perkembangan ekonomi di Indonesia di masa depan (terutama sekarang ini kita terseret arus globalisasi) perlu ditingkatkan kualitas pemimpin nasional agar memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan perekonomian yang mengandalkan sektor agraris (pertanian) atau sumber daya alam, ke sektor ekonomi industri (teknologi). Memang harus diakui, bahwa di antara orang-orang Minahasa yang teridentifikasi sebagai kaum cendekiawan sebelum proklamasi kemerdekaan RI (lihat Winter 1985), Sam Ratulangi memiliki kelebihan dan/atau keunggulan tersendiri. Yang mana selain dia sebagai seorang cendekiawan - intelektual yang bergelar doktor di bidang matematika dan fisika, ia juga secara otodidak (kutu buku) sehingga menguasasi ilmu politik, ekonomi, sejarah dan etnografi (antropologi). Hal ini boleh jadi karena ditopang oleh penguasaan bahasa asing - aktif maupun pasif (Belanda, Jerman dan Inggris) maupun atas dasar kemampuan nalarnya, memiliki etos atau selalu menunjukkan kemauan yang sangat keras. Kelebihan lainnya adalah, berdasarkan catatan sejarah Sam Ratulangi sebagai Bapak Bangsa, sempat bersama-sama dengan Mr.A.A. Maramis dan sejumlah pemuda dan mahasiswa Pengangsaan dari kawasan timur Indonesia (Minahasa, Ambon dan Makasar), terlibat langsung pada lahirnya Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahkan salah satu jasanya yang fundamental adalah ketegasannya sebagai anak bangsa untuk menolak Indonesia dijadikan negara agama. Analisis Bio-Budaya IQ, EQ, dan SQ Dr. G.S.S.J Ratulangi (Om Sam) Berdasarkan model bio-budaya ini, maka dapat diasumsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas sosok Sam Ratulangi dilihat dari aspek fisik (faktor masukan) berasal dari keluarga berada alias tergolong ‘kaya’ di kampungnya, yakni putra dari Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan. Hal ini memungkinkan kondisi biologisnya bermutu (gizi). Apalagi kebiasaan sejak kecil ia rajin ke kebun (olah raga) bersama dengan dua pembantunya yang setia yang bernama Denan dan Tete Tialo. Melalui kedua pembantunya ini, dari aspek non-fisik (faktor masukan) mempengaruhi kepribadian (mentalitas) Sam Ratulangi. Pembantunya yang bernama Denan (berbadan kekar, pemberani dan loyal), sangat dikagumi oleh Sam Ratulangi, di mana selain setia atau loyal dalam melindungi majikannya, juga seorang yang pemberani, jujur, dan bertanggung jawab dalam setiap melaksanakan tugas. Selama bertahun-tahun menemani Sam Ratulangi, tentunya melalui tokoh Denan ini sebagai faktor yang berarti dalam membentuk watak/karakternya yang kelak akan menjadi sebagai manusia yang bermutu. Demikian juga tokoh Tete Tialo, seorang tua yang banyak pengalaman (budaya), banyak memberi masukkan melalui cerita-cerita kuno Minahasa yang sarat dengan filosofi dan pandangan hidup di dunia (world-view). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kehidupan Sam Ratulangi sejak masa kanak-kanak sampai remaja hidup di desa Tounkuramber Tondano, kemudian meningkatkan pendidikan formal sampai berhasil meraih gelar kesarjanaan, yang dikombinasi dengan banyak pengalaman hidup, merupakan dampak yang memungkingkan telah terkonstruksinya secara sosial nilai-nilai Minahasa dalam ‘kediriannya’, menjadikan sosok Sam Ratulangi sebagai Tou-Keter, Tou-Nga’asan, dan Tou-Sama/Le’os. Sehubungan dengan ini, Sam Ratulangi, dalam tulisanya tentang ‘Minahasa Culture and Traditions (Fikiran Rakyat 31 Mei 1930) dalam Supit (2004:178), menyatakan kebanggaannya sebagai Tou-Minahasa, yakni: “Setiap bangsa terhormat menerima pusaka suci kebudayaan dan tradisi dari pendahulunya. Kita harus melestarikan budaya dan tradisi Minahasa dengan segenap jiwa kita, karena jiwa itu sendiri terdiri dari bukan dari siapa kecuali dari budaya dan tradisi itu sendiri. Sekalipun budaya dan tradisi itu bisa berubah dan akan dimoderenkan, akan tetapi dasar atau benih (jati diri) tidak bisa diubah karena secara sosial telah terkonstruksi dalam darah dan hati bangsa kita (Minahasa)”. Inilah sekelumit kisah seorang maestro (cendekiawan maupun politisi) yang sangat dikagumi oleh Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno. Beliau pernah mengingatkan kepada pemudi dan pemuda Kawanua agar memahami secara mendalam ucapan dalam pidato Sam Ratulangi di ‘All Idie Congress’ yang termashur itu, yaitu “Ons hart trek tons naar da top van de Kalabat, maar onze voeten brengen ons tot Airmadidi ( ”Cita-citaku setinggi gunung Kalabat, tapi sayang kakiku hanya sanggup di kaki Airmadidi”). Ucapan ini sebenarnya mengajak kita semua baik sebagai anak bangsa maupun sebagai Tou-Minahasa untuk meneruskan cita-cita Sam Ratulangi ‘kuasai Asia-Pasifik’!!! Pakatuan Wo Pakalawiren. Catatan tambahan dari Harry Kawilarang: Mengenai asal-usul nama Indonesia, dari penelitian Profesor Bob Elson, penulis buku The history of the idea of Indonesia mengatakan bahwa ... Lihat Selengkapnyaistilah Indonesia berasal dari peneliti sosial asal Inggris, George Samuel Windsor Earl pada tulisannya, ‘On the leading characteristics of the Papuan, Australian, and Malayu-Polynesian nation”, Journal of the Indian Atrchipelago and Eastern Asia 4 (1850). Windsor Earl mulanya menyebut 'Indu-nesians' yang menerangkan penduduk kepulauan nusantara termasuk ciri etnografis merupakan bagian dari rumpun Polinesia yang berkulit sawo-mateng. Windsor Earl mempermasalahkan bahwa penduduk di gugusan kepulauan nusantara ini tidak dapat disamakan dengan penghuni kepulauan Ceylon (kini Sri Lanka), Maldives atau Laccadives di Samudera Hindia dari ras India. Tetapi James Richardson Logan, teman Earl itu, dalam artikelnya di jurnal tahun yang sama mengubah nama Indunesia dengan mengganti huruf u dengan huruf o agar ucapannya lebih baik, sehingga berubah menjadi Indonesia. Sejak itu lahirlah istilah Indonesia. Hal ini dikaitkan dengan sebutan kepulauan Hindia-Timur yang pertama kalinya di perkenalkan oleh sarjana Inggris James Richardson Logan menyebut gugusan nusantara ini sebagai kepulauan Hindia-Timur, karena sebagian besar dari penghuninya adalah dari ras Melayu yang kemudian berbaur dengan ras Polinesia. Untuk itu Logan, merupakan orang pertama yang menyebut “Indonesia” bagi nama penghuni dan wilayah gugusan nusantara secara geografis. Ia membagi Indonesia dalam empat wilayah geografis: Indonesia Barat (Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa dan pulau-pulau antara), Indonesia Timur-Laut (Formosa hingga gugusan kepulauan Sulu dan Mindanao, termasuk Mindanao, hingga kepulauan Visaya di Filipina); Indonesia Barat-Daya (dari pantai Timur Kalimantan hingga Papua Niugini, termasuk gugusan kepulauan di Papua Barat, Kai dan Aru); Indonesia Selatan (gugusan kepulauan selatan Trans Jawa, antara Jawa dengan Papua Niugini atau dari Bali hingga gugusan kepulauan Timor). Anthropolog Prancis, E T Hamy pada 1877 mendefinisikan kata “Indonesia” sebagai rumpun pre-Melayu yang menghuni gugusan kepulauan nusantara. Pendapat ini juga di ikuti anthropolog Inggris, A H Keane pada 1880. Sebutan Indonesia bagi wilayah dan penghuni gugusan kepulauan nusantara juga diperkenalkan Adolf Bastian, ethnolog Jerman pada bukunya Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (terbitan 1884-94). Istilah Indonesia yang dikembangkan Bastian sejak itupun mulai tumbuh dan sejak 1910’an dipakai oleh antropolog Belanda seperti Wilken, Kern, Snouck Hurgronje, Kruijt, dll, semuanya dengan makna yang sama. Untuk mempelajari Indonesia di dirikan Fakultas Indologi di Leiden. Sebenarnya nama Indonesia dikaitkan dengan wilayah regional di Pasifik Barat, yang memasukkan Filipina. Tetapi sejak masuknya para musafir Eropa telah mengubah wilayah ini menjadi pengelompokan. Terminologi Indonesia kemudian baru diberi makna politis (dalam bentuk 'Hindia' yang harus merdeka) oleh Abdoel Rivai, Kartini, Abdoel Moeis, Suwardi, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, Ratu Langie dll antara 1903 s/d 1913. Masa itu digunakan oleh Profesor Cornelis van Vollenhoven dengan sebutan “Indonesier” dan ajektif “Indonesisch,” tetapi kata Indonesia sebagai nama Tanah-Air adalah ciptaan Indonesische Vereeniging. Kemudian pada 1927 baru diketahui dari tulisan dr Kreemer dalam Koloniaal Weekblad edisi 3 Februari 1927, bahwa perkataan Indonesia digunakan oleh seorang ethnolog Inggris, James Richardson Logan dalam karangannya berjudul “The Ethnology of the Indian Archipelago.” Nama 'Indonesia' mulai santer, namun dengan bobot politis yang sama dengan 'Hindia', di kalangan mahasiswa asal Indonesia di Leiden semasa Perang Dunia I sekitar 1917. Sam Ratu Langie yang juga termasuk dalam kelompok peduli Indonesia di Belanda giat pula mempopulerkan nama Indonesia di tanah air. Misalnya mendirikan perusahaan asuransi di Bandung dengan nama, Indonesia pada 1925. Nama Indonesia kemudian mulai menjadi kebanggaan sebagai bangsa dan berkembang pesat sebagai perangkat perjuangan identitas suatu bangsa yang terdiri dari masyarakat berbudaya majemuk dilandasi semangat solidaritas kebersamaan. Kemudian Mohammad Hatta yang ketika itu sedang belajar dan menjadi aktivis mahasiswa mengubah nama perhimpunan mahasiswa Indiesche Vereeniging, menjadi Perhimpoenan Pelajar Indonesia pada 1922. Juga majalah organisasi ini yang sebelumnya Hindia Poetra, berubah menjadi Indonesia Merdeka. Nama Partai Komunis Hindia-Timur yang didirikan tahun 1919 berubah menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) pada 1924. Juga muncul Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada 4 Juli 1927. Terminologi ini kemudian berkembang dan menjadi nama suatu bangsa dari kumpulan berbagai suku bangsa yang di akui dunia internasional sejak 1920’an yang turut membangkitkan tuntutan nasionalisme kemerdekaan. Pengadaan Indonesia sebagai nama identitas sebuah bangsa bagi penduduk pribumi yang menghuni gugusan nusantara ini oleh kalangan ilmuwan Indologi dirasakan sangat perlu. Hal ini guna menyelamatkan penduduk di kepulauan zamrut khatulistiwa yang menjadi bangsa untuk tidak menjadi sasaran lomba pengaruh sasaran kolonialisme luar. Apalagi wilayah Indonesia berada di apitan antara bangsa-bangsa Cina dan India, dua bangsa besar yang di masa silam saling berlomba adu pengaruh dengan memperluas budaya keyakinan terhadap penduduk-penduduk setempat untuk kepentingan ekonomi. Kemudian berkembang pula penetrasi budaya dan keyakinan asal Timur-Tengah sejak abad pertengahan. Berlanjut pula dengan masuknya budaya dan keyakinan westernisasi sejak abad akhir abad ke-16. Walau begitu, para ilmuwan dan sejarahwan jurusan Indologi sudah memperkirakan bahwa penghuni Indonesia, cepat atau lambat Indonesia akan menjadi bangsa yang berdaulat da merupakan bagian dari bangsa-bangsa di Asia-Pasifik masa datang. JFH Alb de La Court pada bukunya, Het Vraagstuk, Indonesie (1945), mengungkapkan: “Setelah Pasca Perang Dunia I, pemerintah Belanda mulai kwatir bahwa Belanda akan kehilangan Indonesia, dengan berubahnya posisi Pasifik sebagai kekuatan baru di panggung dunia internasional pada abad ke-20.” Kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Pasifik dengan kekuatan sendiri sejak awal abad 20 dibuktikan dengan bangkitnya Jepang, Revolusi Cina, isolasi ekonomi dari Insonesia yang di sebabkan oleh dua perang dunia dan depresi dunia reorientasi ekonomi Indonesia sebagai bagian yang semakin bertambah dari ekonomi Pasifik; dan pergerakan nasionalisme di India, Pakistan, Burma dan Filipina serta negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Fenomena di atas ini juga menjalar ke Indonesia hingga timbul solidaritas kebersamaan kalangan mahasiswa-pelajar yang terdiri dari berbagai suku-bangsa penghuni gugusan nusantara membentuk nasionalisme kebangsaan (A nation a among nations), dan menjadi semboyan, Indonesia untuk Indonesia. Oom Sam ikut mengampanyekan nama Indonesia ketika mendirikan perusahaan asuransi Indonesia di Bandung pada 1925.
Add Comments |
|
Last Updated ( Monday, 02 August 2010 )
|
|
|