Paling banyak dibaca (30 hari)
Jumlah Pengunjung sampai hari ini
Visitors: 4738513
Who's Online
We have 3 guests online
Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar: |
|
Read more...
|
  kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008 |
|
Read more...
|
kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006 |
|
Read more...
|
|
Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung! Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca! Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum. Minggu, 19 Oktober 2008 Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran. |
|
Read more...
|
|
kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008
• Habe: Taksi Haji Siddik • Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard |
|
Read more...
|
|
PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.
|
|
Read more...
|
ARSIP tulisan
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
May, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Sehat Ihsan Shadiqin: Pejabat Kehutanan yang Tinggal di Kota |
|
|
Dalam sebuah perjalanan Jogjakarta-Jakarta, di sisi saya duduk seorang bapak dengan baju jas hitam. Rambut dan sepatunya sama-sama disemir hitam mengkilat dan nampak licin. Mungkin ini salah satu trik agar lalat tidak hinggap. Sebab jika ia berani hinggap pasti akan terpeleset dan jatuh, sebab sangat licin. Perutnya nampak agak besar hingga pahanya seolah memangku perut tersebut. Ia duduk di kursi A, tepat di pinggir jendela. Sementara saya di B, persis di sebelah kanannya. Bangku yang kecil di pesawat membuat lengan kiri saya dan lengan kanannya beradu pada sebuah sandaran tangan kursi pesawat. Kami saling menatap dan tersenyum. Saya memberanikan diri menyapa, menanyakan tujuan perjalanannya. Ternyata ia mau pergi ke Medan, namun akan singgah sebentar di Jakarta untuk sebuah urusan. Ia bukan orang Medan, tapi Jawa Timur, hanya saja ia bekerja di Medan. Saya memberanikan diri bertanya lebih jauh, apakah ia bekerja swasta atau pemerintah. Ternyata dia adalah pejabat di Departemen Kehutanan. Dia baru dua bulan ditugaskan di Medan. Sebelumnya ia bekerja di Jakarta di kantor Menteri Kehutanan. Ia juga sedikit menjelaskan tentang keluarganya. Penjelasannya yang panjang lebar dan lengkap membuat saya tidak canggung untuk bercakap-cakap lebih banyak tentang diri dan pandangannya mengenai berbagai masalah kehutanan di Indonesia.
Saya mulai dengan mengatakan kalau saya baru pulang dari Jawa Tengah, tepatnya di Kab. Pekalongan. Sudah dua minggu belakangan saya tinggal di sebuah rumah penduduk di pedalaman Jawa Tengah. Rumah tersebut berada di dalam hutan. Butuh waktu 4 jam naik L300 pickup untuk sampai di sana, plus 2 jam jalan kaki dengan mendaki dan menuruni gunung yang terjal dan becek. Di sana, dalam hutan di mana saya tinggal, banyak dusun-dusun yang berada di berbagai lokasi di puncak dan lereng gunung. Bahkan hapir seluruh desa yang ada di kecamatan itu berada di pedalaman hutan pinus milik Perhutani. Pertanyaan saya, bagaimana status hutan itu? Sebab kalau di Aceh banyak masyarakat yang diusir oleh pemerintah dari kampung mereka karena dianggap tinggal di hutan lindung. Meskipun masyarakat di sana jauh lebih duluan ada dibandingkan dengan status hutan tersebut.
Si Bapak mengatakan kalau saat ini seluruh hutan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur di dikelola oleh PT. Perhutani. Merekalah yang memonopoli sumberdaya hutan yang ada di Jawa. Di Pekalongan, Perhutani menanam pohon pinus. Jadinya, hutan di sana kebanyakan adalah hutan pinus. Nah, menurut si Bapak, penduduk yang ada di sana adalah illegal. Mereka tidak berhak menempati daerah hutan pinus yang dikelola oleh Perhutani. Sebab seluruh hutan Perhutani adalah daerah terlarang untuk domisili penduduk.
Saya berusaha membela penduduk. Saya katakan opini saya kalau penduduk di sana tinggal secara sah dan legal. Buktinya mereka memiliki pemerintahan yang sah dan beberapa fasilitas yang diberikan pemerintah, seperti sebuah jembatan dan sebuah turbin pembangkit listrik tenaga air. Apalagi mereka sudah ada di sana jauh sebelum Indonesia merdeka. Buktinya, ada beberapa kuburan tua di bagian uatra dusun. Ini menunjukkan mereka adalah penduduk sah di sana. Perhutanilah yang mencaplok tanah mereka. Bahkan belakangan lahan pertanian mereka menjadi sempit karena banyak lahan diklaim sebagai milik perhutani. Lebih sedih lagi mereka harus membayar pajak kepada Perhutani karena menanam kopi di lahan Perhutani.
Si Bapak mengemukakan argumennya. Asal muasal penduduk Jawa pedalaman adalah orang pelarian dari kejaran Belanda atau mereka yang memiliki kesalahan dengan pemerintahan yang sah. Mereka tetap di sana hingga sekarang dan tidak mau kembali ke daerah asalnya. Si Bapak juga menyalahkan pemerintah yang mensupport pembangunan ke daerah pedalaman dengan bantuan listrik dan pembangunan jalan. Di satu sisi, katanya, pemerintah ingin membangun hutan lindung, di sisi lain mereka memberikan fasilitas kepada mereka yang ada di pedalaman. Padahal jika pemerintah serius mau membangun bangsa ini, pemerintah harus mengehentikan pembangunan di daerah terpencil sehingga penduduk di sana benar-benar kesulitan lalu mereka melakukan migrasi ke daerah legal di pinggiran jalan negara atau ke kota.
Kita harus jeli melihat, lanjut Si Bapak, bahwa legalitas tinggal di sana bukan hanya dari struktur pemerintahan dan bangunan tua. Sebab itu memang perilaku masyarakat kita, mau tinggal di daerah yang mudah karena kebutuhan hidup mereka disediakan oleh alam. Di sana mereka berkembang sangat cepat karena keluarga tidak ber KB. Akibatnya lahirlah generasi pengangguran, anak jalanan, palacuran, TKW illegal, dan pelaku tindak kriminal. Ini semua karena pemerintah masih toleririr dengan kehidupan masyarakat pedalaman tersebut. Padahal kalau memang mau membangun bangsa, pemerintah harus bersikap tegas melarang mereka tinggal di sana atau jangan subsidi dan bangun fasilitas publik untuk mereka. Mereka pasti akan mulai sadar.
Saya tertunduk, tercengang, kesal dengan ungkapan Si Bapak. Terbayang lagi wajah polos masyarakat pedalaman di mana saya tinggal selama dua minggu. Terbayang semangat kerja mereka, kekompakan mereka, keramahan dan ketulusan mereka, penerimaan mereka pada orang asing yang dianggap sebagai anggota keluarga yang baru pulang dari rantau. Saya terbayang lagi anak-anak yang cerdas dan kreatif, anak muda yang tidak sekolah karena sekolah mahal dan sangat jauh, pasangan muda yang telah memiliki tiga anak yang lucu. Apakah mereka orang Indonesia? Apakah mereka merasakan kalau kita sudah merdeka? Dan, Bapak di samping saya mengatakan mereka warga illegal! Entahlah.
 | LIST OF COMMENTS |
1/1. WTF! Written by Guest - Sunday, February 07 2010 | fuck you mr. Pajabat Perhutanan!!! |
Add Comments |
|
Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA. |
|
Read more...
|
Semua orang tahu bahwa banyak pengamat politik dan sosial saat ini bertebaran di Indonesia.Contohnya para talking heads yang bisa anda saksikan berdebat sampai berbusa busa di acara tv tiap hari.Tapi hanya sedikit orang yang berani menjadi dukun seperti saya, yang seperti prabu Jayabaya atau ki Gendeng Pamungkas berusaha memprediksi masa depan negara sampeyan yang bernama Indonesia dalam beberapa dekade ke depan ke dalam bahasa ilmiah. |
|
Read more...
|
|
Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan. |
|
Read more...
|
|
Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq. |
|
Read more...
|
alamat fans page: http://www.facebook.com/pages/KOEL/167370362833 |
|
Read more...
|
|
Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta. |
|
Read more...
|
|
Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu. |
|
Read more...
|
Sekitar 33 tahun lalu, usiaku lima tahun. Aku tinggal lingkungan etnis Tionghoa di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku sekolah di kelas nol kecil Taman Kanak-kanak Roma Katolik. Aku belum lama tinggal di kota itu. Aku pindah dari Siantar, kota kelahiranku, karena Bapak yang bekerja di salah satu badan usaha milik negara ditugaskan ke Tanah Karo. |
|
Read more...
|
|
Tahun 2008 lalu,sepasang suami istri yang juga dosen datang dari Kanada untuk berkunjung ke Aceh. Tepatnya, ke kampus saya di IAIN. Kedua mereka mengajar di fakultas yang berbeda di kampus saya. |
|
Read more...
|
|
Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja. |
|
Read more...
|
Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, nggak mau belajar, malas membaca dan lainnya. |
|
Read more...
|
Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin. Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan. |
|
Read more...
|
 Memasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini. |
|
Read more...
|
SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT |
|
Read more...
|
|
Saya heran. Kenapa tiap mau jemput anak saya pulang sekolah, hari yang terang benderang tiba-tiba jadi muram lalu nangis kenceng-kenceng. Hujan deras, lalu masih pula dilengkapi petir yang nyamber-nyamber mengerikan. |
|
Read more...
|
|
Jum'at ini, 11 Februari 2010, sinetron pembunuhan almarhum Udin Naas akan sampai pada babak puncak. Ya sebagaimana kita sudah ikuti episode demi episode, hari ini akan jadi Judgement Day untuk para terdakwa, khususnya sang pemeran tokoh antagonis utama. |
|
Read more...
|
Sebagai orang Islam kita diajarkan bahwa Islam itu adalah ajaran yang sempurna. Islam bisa menjelaskan sekaligus persoalan dunia dan akhirat. |
|
Read more...
|
|