Superkoran

Sponsored Links

Jumlah Pengunjung sampai hari ini

Visitors: 4749157

Who's Online

We have 1 guest online
Kumpulan Tulisan Damar Shashangka:
 Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar:
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Win Wan Nur
   kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Anwari Doel Arnowo
 kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006
Read more...
 
Buku Tamu - tolong diisi

Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung!

Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca!

Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta

Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum.

Minggu, 19 Oktober 2008  Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran.

 

 

Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Habe

 kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008

Habe: Taksi Haji Siddik
Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard

Read more...
 
Pengumuman untuk Penulis Superkoran tahun 2010

 PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.

 

 

Read more...
 
Win Wan Nur: Jakarta dan Perilaku Konsumtif yang Dijadikan DEWA Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Seminggu yang lalu, aku, anak dan istriku refreshing ke Gramedia Matraman. Hari itu kami menginap di rumah mertuaku di Kayu Putih, di seputaran jalan Pramuka. Rencananya hari itu aku bersama keluarga dan adik-adik istriku akan jalan-jalan ke Mall of Indonesia (MOi), Mall baru di daerah Kelapa Gading yang sebelumnya sudah memiliki Artha Gading dan Mall Kelapa Gading.

Tapi karena untuk pergi beramai-ramai seperti itu agak ribet urusannya, menunggu si ini mandi, nunggu si itu berdandan. Daripada nunggu nggak kepuguhan, aku sekeluarga memanggil taksi dan berangkat ke Gramedia Matraman. Di sana kami menemui banyak orang tua seperti kami yang mengajak anak-anaknya. Ada juga beberapa anak muda yang tampaknya mahasiswa, tapi jumlahnya sedikit sekali. Hampir tidak ada anak SMA dan SMP. 

Rupanya urusan mandi dan dandan berdandan adik-adik kami membutuhkan waktu cukup lama, sampai azan zuhur kami masih di Gramedia. 

Ketika mereka akhirnya siap, adik bungsu istriku yang duduk di kelas I SMA menelepon dan menanyakan kami mau dijemput di mana, istriku menjawab kalau kami ada di Gramedia Matraman.

"dimana itu kak?", tanya adik bungsu kami ini. Istriku pun menjelaskan dengan detail lokasi dan cara menuju ke toko buku yang berjarak sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mobil dari rumah mertuaku ini.

Selesai menjemput kami mobil yang dikemudikan adik bungsu kami ini langsung menuju MOi, berbeda dengan Gramedia Matraman yang begitu asing baginya, padahal gedung itu sudah ada di sana jauh sebelum adik bungsu kami ini dilahirkan. Di Moi, pusat perbelanjaan yang masih sangat baru yang di beberapa bagian bahkan masih dalam tahap pengerjaan ini, adik kami ini tampak sangat familiar dengan setiap sudut pusat perbelanjaan ini.

Jika di Gramedia Matraman, susana begitu gersang tanpa kehadiran segarnya penampilan dan semangat muda para remaja. Di MOi, aku menyaksikan pemandangan yang begitu segar. Berbagai type remaja dengan berbagai penampilan ada di sana, mulai dari yang imut-imut bercelana mini nyaris menyentuh pangkal paha dan dengan polosnya memamerkan keindahan pusarnya sampai remaja berjilbab longgar ala akhwat PKS ada di sana.

Waktu kontrasnya pemandangan di MOi dan Gramedia ini kutanyakan kepada adik kami itu, "yaah...nongkrong di toko buku, cupu banget, nggak gaul, nggak gaya", katanya.

Adik yang lain yang ikut bersama kami, seorang mahasiswi tahun pertama. Penampilannya selalu modis dan koleksi baju yang dia kenakan tidak pernah ketinggalan zaman. 

Dulu sewaktu masih SMP adik ini memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan sekarang.

Waktu itu, dia ini seorang kutu buku, memakai kacamata tebal dengan model rambut yang tidak macam-macam. Rok sekolah yang dia pakai panjang sampai menutupi lutut. Di sekolah prestasi akademiknya sangat baik, dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas bahkan di sekolahnya, waktu itu dia sangat gemar membaca. Tapi untuk mendapatkan semua itu dia terpaksa harus rela mendapat cap CUPU dari teman-temannya. Dia dianggap "nggak gaul", tidak ada satupun cowok yang tertarik mendekatinya. Dia juga merasa sangat tertekan, karena seperti tersisih dari pergaulan sosial ABG seusianya. Meskipun prestasinya di sekolah sangat bisa dibanggakan, tapi adik kami ini sangat tidak bahagia.

Lelah tersisih seperti itu, masuk SMA adik ini bertekad mengubah penampilannya, tidak lagi cupu seperti waktu SMP. Kacamata tebalnya dia buang, diganti dengan lensa kontak berwarna biru lembut. Rambutnya yang panjang dan biasanya diikat ke belakang, sekarang dia potong dengan model terbaru yang terlihat modis.

Seragam sekolah yang dia pakai tidak dengan ukuran standar, kemeja sekolahnya dikecilkan sehingga mencetak bentuk badan, rok sekolahnya juga dia pendekkan sampai di atas lutut. Dia juga berusaha diet untuk menurunkan berat badannya yang agak kelebihan, tapi tidak pernah berhasil sampai kemudian dia memakai kawat gigi dan dengan itu, berat badannya benar-benar turun.

Dengan penampilan baru seperti itu, adik kami ini pun segera diterima di kalangan anak gaul di SMA yang baru dia masuki. Dan segera saja adik kami ini pun larut dalam budaya konsumtif ala anak-anak gaul seusianya. Dia tidak lagi merasa nyaman dengan handphone-nya yang lama, dia pun menggantinya dengan Nokia seri terbaru yang ada di pasaran. Saat Blackberry keluar, dia pun segera mengganti HP-nya dengan Blackberry. 

Oleh mertua saya, adik kami ini dimasukkan kursus Bahasa Inggris di EF yang menjadikan Cinta Laura sebagai Brand Ambassadornya. Tidak lama kursus di sana, untuk mengisi liburan sekolah, EF menyelenggarakan program "Home Stay" di Amerika dengan biaya Rp. 100 juta per anaknya, maksudnya untuk memperlancar bahasa Inggris siswa-siswa yang kursus di sana, adik kami ini pun segera mendaftar ikut program itu dan waktu liburan tiba langsung terbang ke Amerika. 

Sepulang dari Amerika, meskipun bahasa Inggrisnya tidak terlalu signifikan perkembangannya, adik kami ini pun segera menjadi jauh lebih populer dibanding sebelumnya. Apalagi sebelum ke Amerika pun adik kami ini sudah tampak begitu hebat di mata teman-temannya karena hampir setiap liburan dia mengunjungi kami yang saat itu tinggal di Bali. Tempat liburan yang terlihat begitu istimewa di mata anak-anak gaul Jakarta.

Berada dalam lingkungan seperti itu, penampilan menjadi jauh lebih penting dari apapun juga, kalau dia ketinggalan dia akan tersisih. Adik kami yang semasa SMP ini tidak pernah macam-macam dan membeli barang hanya sesuai kebutuhan sekarang berubah menjadi sangat konsumtif.

Ini terjadi karena tema percakapan antara adik kami ini dengan teman-teman barunya memang tidak jauh-jauh dari urusan penampilan dan belanja. entah itu baju gaya terbaru, sepatu model terbaru, model rambut terbaru dan sejenisnya. Sejak diterima di lingkungan ini adik kami ini pun mulai akrab dengan kosmetik pemutih warna kulit, suntik vitamin C dan berbagai jenis aktivitas untuk mempercantik diri.

Dengan itu dia pun semakin diterima di lingkungan barunya.

Perubahan lain yang sangat mencolok pada diri adik kami ini adalah; jika dulu tidak seorang pun cowok yang mau mendekatinya, sekarang begitu banyak cowok yang antri untuk berusaha mendapat perhatian adik kami yangh populer ini. Karena pergaulan yang sudah berubah ini, type cowok yang diharapkan adik kami ini untuk menjadi pacarnya pun berubah. 

Di kalangan teman-teman se geng-annya. Tentu saja pembicaraan tentang cowok adalah salah satu tema favorit.

Dalam lingkungan remaja konsumtif seperti itu, tentu saja type cowok ideal bukanlah cowok yang pintar, alim atau pengertian. Tapi cowok keren di mata mereka adalah cowok konsumtif, makin konsumptif cowok itu, makin keren pula mereka terlihat di mata gadis-gadis muda se geng-an adik kami ini . Maka ketika berbicara tentang cowok, mereka akan membicarakan cowok itu naik mobil apa, velg mobilnya racing apa enggak, 19 inchi apa enggak, mobilnya modifikasi apa enggak, dan sejenisnya. Dan ajaibnya, cowok-cowok sejenis ini lah yang antri mencoba menarik perhatian adik kami yang semasa SMP sangat tidka populer dan bahkan cowok biasa-biasa pun tidak tertarik mendekatinya.

Sekarang, cowok yang naik mobil sekelas panther tahun 2002 apalagi taft atau rocky, apalagi naik MOTOR sama sekali tidak masuk perhitungan adik kami ini. Sampai hari ini adik kami ini merasa tidak nyaman kalau berpergian naik mobil sejenis itu, daripada naik panther atau rocky, dibadningkan itu, dia lebih memilih naik taksi, bahkan Bajaj.

Cowok-cowok ABG yang konsumtif itu tentu masih belum bisa membiayai sendiri selera konsumtifnya, tapi orang tua merekalah yang membiayai segala 'kebutuhan' mereka. Maka ketika menilai keren atau tidaknya seorang cowok, adik kami ini dan teman-temannya melihat pekerjaan orang tua si cowok itu apa. Pegawai negeri, jels tidak masuk hitungan. Cowok itu terlihat keren kalau bapaknya adalah pengusaha, pejabat dengan jabatan basah di satu instansi dan yang paling keren di atas semuanya adalah anak dari anggota DPR.

Dulu saya tidak mengerti kenapa anak anggota DPR malah terlihat lebih keren dibanding anak pengusaha. Tapi belakangan dengan banyaknya anggota DPR yang ditangkap KPK, saya jadi mengerti, status sebagai anggota DPR ini rupanya cukup basah juga. Saya lebih mengerti lagi katika menonton Mata Najwa di Metro TV dan dalam acara itu Ali Muchtar Ngabalin, mantan anggota DPR RI periode lalu, menjelaskan betapa besarnya kuasa DPR atas anggaran, betapa banyak pejabat-pejabat daerah yang datang melobi ke Jakarta agar anggaran untuk daerah mereka digolkan. 

Untuk mencapai maksudnya para pejabat daerah yang khusus datang ke Jakarta untuk melobi anggaran itu tidak segan menggelontorkan sejumlah besar uang yang diminta anggota DPR tersbut. "Kalau kita mau, sebagai anggota DPR, gampang sekali bagi kita kalau sekedar untuk mendapatkan uang 20 juta sehari", Begitu kata Ali Muchtar Ngabalin untuk menggambarkan betapa 'basah'nya kursi DPR RI itu.

Dengan apa yang digambarkan oleh Ali Mochtar Ngabalin itu, sayapun segera paham kenapa di kalangan remaja gaul nan konsumtif seumuran adik kami ini, anak dari seorang anggota DPR terlihat begitu istimewa.

Beberapa gelintir orang mampu menjaga prestasi sekolah seiring dengan penampilan. Tapi adik kami ini bukanlah termasuk ke dalam kategori yang beberapa gelintir itu. Sejak pergaulannya berubah bersama teman-temannya yang baru, prestasi sekolah adik kami yang dulunya sangat pintar ini terjun bebas. Saat akan naik ke kelas tiga, dia bahkan tidak naik kelas. Waktu itu guru wali kelasnya memanggilnya dan kalau adik kami ini ingin naik kelas, guru wali kelasnya ini secara terang-terangan menyebutkan nominal sejumlah uang di kisaran bilangan jutaan. Saya sangat bisa memaklumi permintaan guru kelas adik kami ini, karena sebagai warga Jakarta, tentu anak-anak dari guru kelas adik kami ini juga butuh Blackberry agar bisa diterima di lingkungan pergaulannya, agar tidak tersisih dan dianggap cupu.

Dulu saat masih di SMP adik, kami ini selalu paling nyambung kalau berbicara dengan kami, dia sangat mengerti setiap perubahan sosial, soal budaya dan lain sebagainya. Maklum dia memang suka membaca. Sekarang, global warming saja seperti apa dia tidak paham.

Lalu dengan itu semua menyesalkah adik kami ini?. Sama sekali tidak, prestasi sekolahnya boleh terjun bebas, pengetahuan umumnya boleh tak bisa dibanggakan. Tapi di lingkungannya dia sangat dikagumi, dia menjadi incaran cowok-cowok gaul nan keren. Rasa percaya dirinya naik berlipat-lipat, jika dulu saat prestasi sekolahnya membanggakan dia yang begitu ingin diajak berteman tapi orang-orang seperti sengaja menjauhinya. Sekarang justru sebaliknya, orang-orang, baik cewek apalagi cowok merasa bangga kenal apalagi berteman dekat dengannya.

Meskipun prestasi sekolahnya hancur lebur, kami bisa menyaksikan sendiri kalau sekarang adik kami ini merasa sangat bahagia.

Begitulah ketika perilaku konsumtif dijadikan DEWA.

Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com

Add Comments
 
< Prev   Next >
Duel Habe - Meta - Indonesia 2030
 
Rosnida Sari: Orientasi kampus
Read more...
 
Iwan Piliang: Manusia Universal & Masjid Monumental
 Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA.
Read more...
 
Habe: Indonesia 2030 ( Sebuah Prediksi )
Image Semua orang tahu bahwa banyak pengamat politik dan sosial saat ini bertebaran di Indonesia.Contohnya para talking heads yang bisa anda saksikan berdebat sampai berbusa busa di acara tv tiap hari.Tapi hanya sedikit orang yang berani menjadi dukun seperti saya, yang seperti prabu Jayabaya atau ki Gendeng Pamungkas berusaha memprediksi masa depan negara sampeyan yang bernama Indonesia dalam beberapa dekade ke depan ke dalam bahasa ilmiah.
Read more...
 
Metamorfosa: Prediksi Indonesia di Tahun 2030
Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan.
Read more...
 
Win Wan Nur: Mengintip Sejarah Gayo Melalui Silsilah Keluarga
Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq.
Read more...
 
Kurnia Harta Winata: KOEL 9
 alamat fans page: http://www.facebook.com/pages/KOEL/167370362833
Read more...
 
Win Wan Nur: Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat
Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Islah Para Pejuang Rakyat
Read more...
 
Habe: Tokek
Image
Read more...
 
Iwan Piliang: Ibarat Puzzle Inilah Penggalan “Kombur” TKW & Ziad
Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu.
Read more...
 
Didik Elpambudi: Tak Mudah untuk Bercerita
Sekitar 33 tahun lalu, usiaku lima tahun. Aku tinggal lingkungan etnis Tionghoa di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku sekolah di kelas nol kecil Taman Kanak-kanak Roma Katolik. Aku belum lama tinggal di kota itu. Aku pindah dari Siantar, kota kelahiranku, karena Bapak yang bekerja di salah satu badan usaha milik negara ditugaskan ke Tanah Karo.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sesendok Air di Kolam Madu
Read more...
 
Ismail Asso: Nasionalisme- Perspektif Papua
Read more...
 
Rosnida Sari: Ketidakegoisan seorang dosen
Tahun 2008 lalu,sepasang suami istri yang juga dosen datang dari Kanada untuk berkunjung ke Aceh. Tepatnya, ke kampus saya di IAIN. Kedua mereka mengajar di fakultas yang berbeda di kampus saya.
Read more...
 
Habe: The Good Malin Kundang
Image
Read more...
 
Edizal: Birunya Pulau Cebu (1)
Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sandiwara di Ruang Kelas
 Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, nggak mau belajar, malas membaca dan lainnya.
Read more...
 
Denny Baonk: Maharaja, Oscar & Cupang
Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin.
Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan.
Read more...
 
Habe: Orang Murtad Ziarah
ImageMemasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini.
Read more...
 
DN Aidit:: Sedjarah Diriku VI
 SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT
Read more...
 
Denny Baonk: Konspirasi Langit
Saya heran. Kenapa tiap mau jemput anak saya pulang sekolah, hari yang terang benderang tiba-tiba jadi muram lalu nangis kenceng-kenceng. Hujan deras, lalu masih pula dilengkapi petir yang nyamber-nyamber mengerikan.
Read more...