Superkoran

Sponsored Links

Rosnida Sari: Benturan Budaya Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Beberapa bulan lalu saya mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh perkumpulan mahasiswa Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS). Salah satu yang menarik menurut saya adalah pertanyaan yang disampaikan oleh seorang ibu tentang bagaimana beliau belum bisa menerima keadaan beragama di Adelaide ini. Menurutnya sangat susah menerapkan berislam secara benar disini. Misalnya saja tentang istinjak (membersihkan kotoran diqubul dan dubur). Menurutnya beliau tidak terbiasa istinjak dengan menggunakan tisue,sehingga susah sekali untuk menerimanya.

Saat beliau menyampaikan curhatnya, saya teringat dengan satu pelajaran dikelas tentang culture shock (gegar budaya). Materi ini saya dapat dalam salah satu mata kuliah listening.

Dalam mata kuliah tetang culture shock tersebut, salah satu kelompok yang paling rentan menerima culture shock adalah immigran (dan salah satu immigran itu termasuk mahasiswa internasional) dan penduduk dewasa/tua. Menurut dosen tadi, saat kita muda, kita sangat fleksibel, karena perbedaan yang ada dilingkungan kita bisa terbentuk saat kita muda atau belum terjamah oleh pemahaman-pemahaman lain. Berbeda dengan golongan yang sudah dewasa atau tua. Golongan ini adalah mereka yang sudah mapan dengan aturan-aturan yang sudah dibuat dan diamalkan tanpa pernah ditanyakan lagi. Bayangkan saat kita berada dinegeri sendiri dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah kita dan sesuai dengan kita, maka kita akan sangat mudah menerapkannya. Tapi kemudian kita berpindah kenegara dan budaya yang berbeda, maka peta (dalam hal ini peraturan atau budaya) yang sudah kita selami dan kita amalkan dinegara kita, tiba-tiba berbeda 100% dengan apa yang kita dapat dinegara kita. Ini membuat kita menjadi gegar budaya atau culture shock.

Dan sepertinya ini terjadi pada ibu yang tadi bertanya. Beliau baru 3 minggu berada di Adelaide, mengikuti suaminya yang kuliah disini. Beliau mengalami gegar budaya. Fleksibilitas yang harusnya dimiliki seseorang yang memasuki negeri dan kultur yang baru, sepertinya susah untuk bisa dimiliki oleh para pendatang dewasa. Apa yang diterangkan dalam kelas saya tadi terjadi pada ibu ini.

Pengalaman gegar budaya juga dialami oleh mahasiswa internasional. Ini saya ketahui dari seorang teman Jepang yang bercerita pada saya tentang seorang mahasiswi muslim. Saat ini teman Jepang saya itu tinggal bersama 2 orang mahasiswa Amerika selatan dan mahasiswa Autralia. Salah seorang temannya tadi bercerita jika dulu dia pernah tinggal dengan mahasiswi Muslim(saya tidak tahu apakah mahasiswa muslim Indonesia atau mahasiswa muslim dari negara lain) yang kalau menggunakan toilet, sering sekali lantai toilet tadi sangat becek karena air tercecer dimana-mana. Saya jelaskan bahwa kami (orang2 Indonesia) memang terbiasa menggunakan air saat berada di toilet, bukan tissue seperti di Australia ini. Kata teman Jepang saya, menggunakan air boleh saja, jika lantai yang ada di toilet adalah tanah. Jadi air yang tercecer itu akan diserap tanah. Tapi disini lantainya ubin atau keramik, pastin airnya tidak akan bisa mengalir kemana-mana. Saya bilang, disitulah seharusnya mahasiswa tadi mencari jalan bagaimana agar air yang dia gunakan tidak tercecer kemana-mana.

Pengalaman seperti itu tentu saja bukan terjadi pada mahasiswa Muslim. Saya yakin mereka yang berbeda budaya juga mengalami gegar budaya saat berada di negara yang berbeda budaya dengan mereka.Saya merenungi, memang untuk tinggal bersama dengan orang yang berbeda budaya, tentu saja membutuhkan pengertian satu sama lain yang luar biasa besarnya. Dan interaksi diantara dua mahasiswa yang berbeda agama dan budaya itu seharusnya bisa menjelaskan tentang kebiasaan dalam budaya mereka dan bagaimana mencari solusinya agar mereka bisa hidup bersama secara harmonis. Salah satu contohnya ya..tentang penggunaan air saat berada di toilet tadi.

Kembali ke masalah istinjak. Dalam pandangan saya, istinjak dengan menggunakan kertas, batu atau daun2 yang kesat adalah sesuatu yang lumrah untuk diamalkan. Dalam kelas thaharah saya saat masih di Sekolah Dasar dulu, masalah istinjak sudah dibicarakan. Artinya istinjak dengan benda2 yg saya sebutkan diatas bukan sesuatu yang baru buat kita. Namun ternyata penerapannya sulit sekali diamalkan karena di Indonesia mudah sekali bagi kita untuk mendapatkan toilet yang menyediakan air untuk bersuci. Kita jarang mendapatkan toilet yang menyediakan tissu, karena air adalah barang yang sangat mudah untuk didapat di Indonesia.

Tapi air adalah barang mahal untuk didapat di Adelaide ini. Sebagai daerah yang terkenal sebagai daerah terkering di Australia, maka tissue sebagai alat pembersih menjadi sesuatu yang lumrah. Dan memang dalam budaya mereka, pembersih di toilet adalah tissu. Maka, disini diperlukan pemahaman budaya yang harusnya dimiliki oleh kita-kita sebagai seorang pendatang dinegeri ini untuk bisa menyelaraskan diri kita dengan budaya mereka. Jikapun memang tidak sanggup untuk menggunakan tissu, mengapa tidak membawa sendiri gelas plastik setiap hari didalam tas untuk bisa membawa air ke toilet saat akan membuang hajat?

Begitulah… ternyata istinjak dengan kertas, batu atau daun kayu kesat hanya kita dapat teorinya saja, tapi susah sekali untuk dapat mempraktekkannya.
Add Comments
Last Updated ( Friday, 12 February 2010 )
 
< Prev   Next >