Paling banyak dibaca (30 hari)
Jumlah Pengunjung sampai hari ini
Visitors: 4747769
Who's Online
We have 4 guests online
Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar: |
|
Read more...
|
  kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008 |
|
Read more...
|
kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006 |
|
Read more...
|
|
Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung! Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca! Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum. Minggu, 19 Oktober 2008 Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran. |
|
Read more...
|
|
kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008
• Habe: Taksi Haji Siddik • Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard |
|
Read more...
|
|
PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.
|
|
Read more...
|
ARSIP tulisan
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
May, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Rosnida Sari: Benturan Budaya |
|
|
Beberapa bulan lalu saya mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh perkumpulan mahasiswa Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS). Salah satu yang menarik menurut saya adalah pertanyaan yang disampaikan oleh seorang ibu tentang bagaimana beliau belum bisa menerima keadaan beragama di Adelaide ini. Menurutnya sangat susah menerapkan berislam secara benar disini. Misalnya saja tentang istinjak (membersihkan kotoran diqubul dan dubur). Menurutnya beliau tidak terbiasa istinjak dengan menggunakan tisue,sehingga susah sekali untuk menerimanya.
Saat beliau menyampaikan curhatnya, saya teringat dengan satu pelajaran dikelas tentang culture shock (gegar budaya). Materi ini saya dapat dalam salah satu mata kuliah listening. Dalam mata kuliah tetang culture shock tersebut, salah satu kelompok yang paling rentan menerima culture shock adalah immigran (dan salah satu immigran itu termasuk mahasiswa internasional) dan penduduk dewasa/tua. Menurut dosen tadi, saat kita muda, kita sangat fleksibel, karena perbedaan yang ada dilingkungan kita bisa terbentuk saat kita muda atau belum terjamah oleh pemahaman-pemahaman lain. Berbeda dengan golongan yang sudah dewasa atau tua. Golongan ini adalah mereka yang sudah mapan dengan aturan-aturan yang sudah dibuat dan diamalkan tanpa pernah ditanyakan lagi. Bayangkan saat kita berada dinegeri sendiri dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah kita dan sesuai dengan kita, maka kita akan sangat mudah menerapkannya. Tapi kemudian kita berpindah kenegara dan budaya yang berbeda, maka peta (dalam hal ini peraturan atau budaya) yang sudah kita selami dan kita amalkan dinegara kita, tiba-tiba berbeda 100% dengan apa yang kita dapat dinegara kita. Ini membuat kita menjadi gegar budaya atau culture shock. Dan sepertinya ini terjadi pada ibu yang tadi bertanya. Beliau baru 3 minggu berada di Adelaide, mengikuti suaminya yang kuliah disini. Beliau mengalami gegar budaya. Fleksibilitas yang harusnya dimiliki seseorang yang memasuki negeri dan kultur yang baru, sepertinya susah untuk bisa dimiliki oleh para pendatang dewasa. Apa yang diterangkan dalam kelas saya tadi terjadi pada ibu ini. Pengalaman gegar budaya juga dialami oleh mahasiswa internasional. Ini saya ketahui dari seorang teman Jepang yang bercerita pada saya tentang seorang mahasiswi muslim. Saat ini teman Jepang saya itu tinggal bersama 2 orang mahasiswa Amerika selatan dan mahasiswa Autralia. Salah seorang temannya tadi bercerita jika dulu dia pernah tinggal dengan mahasiswi Muslim(saya tidak tahu apakah mahasiswa muslim Indonesia atau mahasiswa muslim dari negara lain) yang kalau menggunakan toilet, sering sekali lantai toilet tadi sangat becek karena air tercecer dimana-mana. Saya jelaskan bahwa kami (orang2 Indonesia) memang terbiasa menggunakan air saat berada di toilet, bukan tissue seperti di Australia ini. Kata teman Jepang saya, menggunakan air boleh saja, jika lantai yang ada di toilet adalah tanah. Jadi air yang tercecer itu akan diserap tanah. Tapi disini lantainya ubin atau keramik, pastin airnya tidak akan bisa mengalir kemana-mana. Saya bilang, disitulah seharusnya mahasiswa tadi mencari jalan bagaimana agar air yang dia gunakan tidak tercecer kemana-mana. Pengalaman seperti itu tentu saja bukan terjadi pada mahasiswa Muslim. Saya yakin mereka yang berbeda budaya juga mengalami gegar budaya saat berada di negara yang berbeda budaya dengan mereka.Saya merenungi, memang untuk tinggal bersama dengan orang yang berbeda budaya, tentu saja membutuhkan pengertian satu sama lain yang luar biasa besarnya. Dan interaksi diantara dua mahasiswa yang berbeda agama dan budaya itu seharusnya bisa menjelaskan tentang kebiasaan dalam budaya mereka dan bagaimana mencari solusinya agar mereka bisa hidup bersama secara harmonis. Salah satu contohnya ya..tentang penggunaan air saat berada di toilet tadi. Kembali ke masalah istinjak. Dalam pandangan saya, istinjak dengan menggunakan kertas, batu atau daun2 yang kesat adalah sesuatu yang lumrah untuk diamalkan. Dalam kelas thaharah saya saat masih di Sekolah Dasar dulu, masalah istinjak sudah dibicarakan. Artinya istinjak dengan benda2 yg saya sebutkan diatas bukan sesuatu yang baru buat kita. Namun ternyata penerapannya sulit sekali diamalkan karena di Indonesia mudah sekali bagi kita untuk mendapatkan toilet yang menyediakan air untuk bersuci. Kita jarang mendapatkan toilet yang menyediakan tissu, karena air adalah barang yang sangat mudah untuk didapat di Indonesia. Tapi air adalah barang mahal untuk didapat di Adelaide ini. Sebagai daerah yang terkenal sebagai daerah terkering di Australia, maka tissue sebagai alat pembersih menjadi sesuatu yang lumrah. Dan memang dalam budaya mereka, pembersih di toilet adalah tissu. Maka, disini diperlukan pemahaman budaya yang harusnya dimiliki oleh kita-kita sebagai seorang pendatang dinegeri ini untuk bisa menyelaraskan diri kita dengan budaya mereka. Jikapun memang tidak sanggup untuk menggunakan tissu, mengapa tidak membawa sendiri gelas plastik setiap hari didalam tas untuk bisa membawa air ke toilet saat akan membuang hajat? Begitulah… ternyata istinjak dengan kertas, batu atau daun kayu kesat hanya kita dapat teorinya saja, tapi susah sekali untuk dapat mempraktekkannya.
Add Comments |
|
Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA. |
|
Read more...
|
Semua orang tahu bahwa banyak pengamat politik dan sosial saat ini bertebaran di Indonesia.Contohnya para talking heads yang bisa anda saksikan berdebat sampai berbusa busa di acara tv tiap hari.Tapi hanya sedikit orang yang berani menjadi dukun seperti saya, yang seperti prabu Jayabaya atau ki Gendeng Pamungkas berusaha memprediksi masa depan negara sampeyan yang bernama Indonesia dalam beberapa dekade ke depan ke dalam bahasa ilmiah. |
|
Read more...
|
|
Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan. |
|
Read more...
|
|
Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq. |
|
Read more...
|
alamat fans page: http://www.facebook.com/pages/KOEL/167370362833 |
|
Read more...
|
|
Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta. |
|
Read more...
|
|
Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu. |
|
Read more...
|
Sekitar 33 tahun lalu, usiaku lima tahun. Aku tinggal lingkungan etnis Tionghoa di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku sekolah di kelas nol kecil Taman Kanak-kanak Roma Katolik. Aku belum lama tinggal di kota itu. Aku pindah dari Siantar, kota kelahiranku, karena Bapak yang bekerja di salah satu badan usaha milik negara ditugaskan ke Tanah Karo. |
|
Read more...
|
|
Tahun 2008 lalu,sepasang suami istri yang juga dosen datang dari Kanada untuk berkunjung ke Aceh. Tepatnya, ke kampus saya di IAIN. Kedua mereka mengajar di fakultas yang berbeda di kampus saya. |
|
Read more...
|
|
Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja. |
|
Read more...
|
Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, nggak mau belajar, malas membaca dan lainnya. |
|
Read more...
|
Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin. Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan. |
|
Read more...
|
 Memasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini. |
|
Read more...
|
SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT |
|
Read more...
|
|
Saya heran. Kenapa tiap mau jemput anak saya pulang sekolah, hari yang terang benderang tiba-tiba jadi muram lalu nangis kenceng-kenceng. Hujan deras, lalu masih pula dilengkapi petir yang nyamber-nyamber mengerikan. |
|
Read more...
|
|