Superkoran

Sponsored Links

Rangga L Tobing: Pancarkanlah Cinta Kasih Itu! Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest 
Dogma-dogma khayalan itu sudah sepantasnya dicampakkan di era pasca modern. Masyarakat sekarang memiliki intelektual lebih tinggi dibandingkan orang-orang Timur Tengah kuno, yang masih hidup pada zaman kebudayaan primitif. Pemaksaan diri mengkultivasi dogma tuhan peneror masa kanak-kanak, akan menarik intelektual kembali ke zaman batu, di mana untuk menegakkan moral dan etika, harus diancam dengan hukuman api neraka abadi dari tuhan sang penjanggal...

Musa mengatasnamakan Yahweh untuk menghibur orang-orang Israel yang tertindas. Nabi-nabi Israel menyadari penggunaan konsep tuhan tidak lebih hanya memberikan hiburan kepada orang-orang Israel, oleh sebab itu, di sisi lain mereka juga mengharamkan menyebut nama tuhan, dan hanya diperbolehkan menulis “YHWH.”

Yesus mengajarkan suatu versi Hukum Emas Hillel, hanya mengambil esensi dari keseluruhan isi Taurat, diringkas menjadi satu ungkapan, “segala sesuatu yang kamu kehendak supaya orang perbuat kepada kamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Dengan mencampakan seluruh dogma di dalam Taurat Yesus dapat melihat jelas esensi dari keseluruhan isi Taurat.

Muhammad terpaksa menggunakan dogma ketuhanan, untuk mengembalikan masyarakat Quraisy yang semakin individual dan pragmatis menjadi kembali bermasyarakat. Untuk mengatasinya digunakanlah konsep surga-neraka yang juga bersifat pragmatis. Muhammad mengatas namakan Allah, sebab masyarakat Quraisy memang telah lama menganggap Allah sebagai tuhan tertinggi mereka. Namun, Allah bagi mereka sudah terlalu jauh, lalu mereka menciptakan tiga sesembahan baru yang dikenal sebagai bannat Allah (Anak perempuan Allah), yaitu; Al-Lat (dewi), Al-Uzza (yang perkasa), dan Manat (sang penentu).

Pada mulanya, pesan yang ingin disampaikan Muhammad berupa perbaikan etika dan moral bangsa Arab, bukan memunculkan konsep ketuhanan baru. Allah disimbolkan bukan sebagai tuhan langit, melainkan keterkaitan dalam kesinambungan terhadap hukum moral dan etika. Ini terlihat dari kutipan ayat Al-Quran, untuk menghargai hukum-hukum moral sebelumnya,

Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah ‘kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu…(QS. 29: 46)’”

Betapa tidak pentingnya konsep ketuhanan ini, setahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Muhammad telah lebih dulu menyesuaikan hukum-hukum yang dibawanya dengan hukum-hukum yahudi. Kaum muslim diperintahkan berpuasa pada Hari Penebusan Dosa bagi umat yahudi. Orang muslim diperbolehkan menikahi wanita yahudi, dan harus mematuhi beberapa aturan tentang makan. Bahkan saat itu peribadatan kaum muslim pun menghadap ke Yerusalem, sebagaimana kaum yahudi dan nasrani.

Di Timur jauh, para cendikiawan spiritual sudah tidak memerlukan gagasan tuhan pendakwah untuk menyampaikan pesan moral mereka. Orang-orang timur yang telah lebih sadar, mengetahui alamlah yang melingkupi segala sesuatu. Mereka harus hidup selaras dengan hukum alam. Realitas ini disebut Brahman dalam Hinduisme, Dharmakaya dalam Buddhisme, dan Tao dalam Taoisme. Orang Buddhis juga menyebutnya sebagai Tathata atau kesedemikian.

Apa yang dimaksud jiwa sebagai kesedemikian (tathata) adalah kesatuan menyeluruh dari segala sesuatu, keseluruhan maha besar yang serba meliputi (semesta alam)

Orang mengikuti hukum-hukum bumi; bumi mengikuti hukum-hukum langit; langit mengikuti huku-hukum Tao; Tao mengikuti hukum-hukum hakikatnya” ~ Lao Zi dalam Dao De Jing
Di Barat lama sesudah itu, dibutuhkan seorang Nietzsche menyadarkan orang-orang beragama yang telah terbawa jauh dalam arus delusi politik dogma dari para pendahulu mereka. Setelah Nietzsche memploklamirkan “tuhan sudah mati” (1882), ia mengalihkan gagasan tuhan yang kerdil kepada hukum alam semesta. Sebagaimana yang dikatakannya,

Karena tuhan sudah mati, dunia ini akan menggantikannya sebagai nilai tertinggi. Setiap yang hilang akan kembali; setiap yang mati akan terlahir kembali; setiap yang rusak akan menjadi baru..

Jelas itu merupakan ancaman bagi para cendikiawan agama. Segenap upaya, mereka tetap mempertahankan dogma-dogma khayalan tentang ketuhanan. Mereka berbalik memaki Nietzsche dengan sebutan, “si gila atheis.” Mereka merasa perlu mempertahankan dogma-dogma ini demi tujuan politis pragmatis mereka. Seperti yang dapat kita saksikan bersama, agama-agama semitik di negara ini, baik Islam maupun Kristen, memanfaatkan sisi dogmatis ajaran mereka, untuk meraih suara pada pemilhan partai politik, dengan berlandaskan topeng syariat agama. Ini tidak bisa diterima, jelas telah merendahkan harkat dan martabat manusia yang hidup di zaman intelektual. Manusia pasca modern sudah tidak sepantasnya disamakan dengan masyarakat yang hidup di zaman Timur Tengah kuno, di mana para pemuka agama memanfaatkan ancaman dogmatis ketuhanan untuk memuluskan jalan menduduki kursi kekuasaan.

Sebenarnya sejak tahun 1960, masyarakat barat telah menyadari bahwa tingginya kesadaran orang-orang Timur di masa lalu, disebabkan mereka terbiasa melihat realitas "luar" dengan cara ke "dalam". Maka tidak heran, sebagian masyarakat Barat timbul antusiasme terhadap yoga dan meditasi Buddhis. Bagi sebagian lain yang terbiasa mengkultivasi gagasan tuhan instan, jalan penemuan realitas kesadaran ini membosankan. Dibutuhkan latihan berkesinambungan untuk memperolehnya, tidak secepat tuhan pendakwah yang sudah terpaketkan.

Di India, Sang Buddha lebih bersifat to the point. Dia tidak lagi segan, menyampaikan inti persoalan kehidupan melalui ajarannya, apa adanya. Ia langsung memasukan kebiasan kuno dalam keagamaan ke dalam tong sampah masa lalu, yakni; otoritas bersifat ganda, upacara keagamaan, perenungan yang mubazir, tradisi keagamaan, dan kepercayaan kepada makhluk adikodrati/ ghaib. Jauh dari itu, Dia juga langsung menambak sisi yang paling vital melenakan manusia, yaitu, “kemelekatan.’ Ia menganjurkan untuk menebarkan cinta kasih tanpa kemelekatan.

Cinta kasih merupakan puncak moralitas tertinggi. Menebarkan cinta kasih tanpa kemelekatan dapat digambarkan, seperti memancarkan cahaya cinta dari dalam diri, hingga cahaya itu terpancar keluar menerangi apa yang ada di sekitarnya, semakin besar kesadaran kita, maka semakin besar pula cahaya cinta kasih yang terpancarkan, dan semakin jauh cakupannya. Cinta kasih bersifat “kemelekatan” layaknya memancarkan cahaya, jika karena ada cahaya yang berbalik meneranginya. Oleh sebab itu mereka hanya mau memancarkan cahaya tersebut di depan cermin. Mereka akan merasakan kehilangan yang besar, jika cermin itu telah hilang dari mereka. Semakin besar mereka memancarkan cahaya, cahaya itu berbalik hingga kian menyilaukan mata mereka. Inilah yang menyebabkan cinta itu menjadi buta.

Bukan hanya kepada orang per orang, cinta buta ini juga kerap terjadi dalam tubuh ketuhanan. Ini yang dimaksud Karl Marx (1818-1883) sebagai “candu masyarakat.” Mereka menebarkan cinta kasih, hanya ingin mencari muka kepada “tuhan” agar ia menyediakan sorga bagi mereka. Ini jelas bukanlah cinta kasih yang tulus.

Jadi tanpa dogma ketuhanan kita dapat memancarkan cinta kasih dengan lebih tulus. Mulai sekarang, pancarkanlah cinta kasih itu!



“Jaring dipakai menangkap ikan; ikan di dapat lupakan jaringnya. Jerat dipakai menangkap kelinci; kelinci tertangkap lupakan jeratnya. Kata-kata dipakai membawa makna; makna terpahami lupakan kata-katanya” ~ Chuang Tzu

Add Comments
Last Updated ( Sunday, 24 January 2010 )
 
< Prev   Next >