Superkoran

Sponsored Links

Jumlah Pengunjung sampai hari ini

Visitors: 4750601

Who's Online

We have 3 guests online
Kumpulan Tulisan Damar Shashangka:
 Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar:
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Win Wan Nur
   kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Anwari Doel Arnowo
 kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006
Read more...
 
Buku Tamu - tolong diisi

Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung!

Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca!

Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta

Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum.

Minggu, 19 Oktober 2008  Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran.

 

 

Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Habe

 kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008

Habe: Taksi Haji Siddik
Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard

Read more...
 
Pengumuman untuk Penulis Superkoran tahun 2010

 PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.

 

 

Read more...
 
Iwan Piliang: Kematian David: Satu Lagi Jasad Membujur Print E-mail
User Rating: / 4
PoorBest 
 29 Maret 2009  Verifikasi mengerucut riset David. Deretan kematian menyusul David. Keindonesiaan PINTU, wadah Pelajar Indonesia NTU, layak dipertanyakan



JUMAT, 27 Maret 2009, sekitar pukul 11.20 waktu Singapura, lebih sejam dibanding waktu di Jakarta, di bilangan perempatan jalan di Pioneer Road. Udara cerah. Kesibukan kota Bandar Singapura sebagaimana hari biasa. Sosok Hun Kun Lun, 29 tahun, Warga Negara Cina (WNC) juga periset di fakultas Electrical and Electronical Engineering (EEE), Nanyang Technologycal University (NTU), Singapura - - satu fakultas dengan almarhum David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang terindkasi kuat dibunuh pada 2 Maret 2009 lalu - - sedang menyeberang jalan. Sebuah mobil tiba-tiba menabrak Hun Kun Lun. Ia dilarikan ke rumah sakit National University Hospital. Nyawanya tak tertolong.

Untuk ukuran Singapura berdipsilin tinggi berlalu lintas, seseorang seakan sengaja ditabrak, menjadi sebuah kejadian langka. Kalimat ini, bukan bermaksud mengatakan berkaitan ke kasus kematian David. Akan tetapi faktanya, sejak kematian David, menjadi tiga jasad terbujur; pertama David sendiri, kedua Zhoe Zheng asisten Proefesor Chan Kap Luk, pembimbing skripsi David, empat hari setelah kematian David ditemukan gantung diri, dan kini, tepat 25 hari setelah David pergi, lenyap pula nyawa Hun Kun Lun..

Kepada Koran Lianhe Wanbao Cina, pihak NTU, Singapura , menolak mengomentari kejadian ini. Di The Sunday Times, NTU menganggap kematian Hun Kun Lun tidak sama dengan dua peristiwa terjadi sebelumnya. Sebuah keterangan yang logis, dan tidak perlu dibantah.

Jelas tidak sama.

Wong matinya saja beda!


JUMAT, 27 Maret 2009, sekitar pukul 15.30 petang. Coffe Bean di lantai dasar Plaza Senayan itu belum dipenuhi pengunjung. Beberapa kursi masih menunggu pelanggan. Saya membuka lap top, mencari Facebook di internet, mendapatkan sinyal chat dari seorang rekan di Singapura: indikasi kematian Hun Kun Lun, berkait ke kasus David. Akan tetapi sulit sekali mencari kontak, karena pihak NTU menutup diri, apalagi pihak kepolisian Singapura.

Sebagai sebuah aplikasi pertemanan, bagi saya Facebook telah membantu mengumpulkan kerabat, teman sekolah, dan berbagai pihak yang peduli akan kematian David. Dengan William kakak kandung David, ikon namanya saya buat terus on di kolom chat, agar mudah berkomunikasi.

Seorang gadis, bercelana jeans datang. Sebelumnya ia telah berkomunikasi via SMS dengan saya. Ia adalah Galuh Pangestu Inraswari, reporter TVONE, Jakarta. Melalui telepon kami berbicara akan berangkat bersama-sama ke Singapura, bertiga dengan seorang kameramen, untuk bisa saling mendukung berbagai info memverifikasi kasus kamatian David, mahasiswa jenius asal Indonesia itu, yang oleh NTU justeru enam jam setelah kematiannya diberitakan menusuk Profesor Chan Kap Luk, karena beasiswanya dicabut, lalu melukai nadi sendiri dan melompat bunuh diri dari lantai 4 kampus NTU. Namun fakta di lapangan, terlalu banyak menyanggah keterangan NTU, sebagaimana sudah saya tuliskan di 5 Sketsa sebelumnya.

Galuh menceritakan soal rencana liputan untuk siaran setengah jam TVONE. Kami bersepakat berangkat bersama. Saya sebagai pemegang Garuda Frequent Flyer mencoba mencari tiket promo ekonomi Garuda, yang tampaknya tersedia, US $ 147 round trip ke Singapura. Galuh buru-buru mengurus segala keperluan liputannya.

Menjelang magrib, Galuh mengirim SMS, bahwa email resmi yang dikirimnya ke NTU, permohonan wawancara dan meliput NTU, untuk rekonstruksi kasus David, ditolak.

“Berita tak enak Bang,” ujar Galuh di SMS.
Saya membuka forward email dari Galuh. Saya membaca balasan dari Hisham Hambari, Assistant Director Corporate Communications Office, NTU. Inti soal mereka menolak liputan NTU untuk pemirsa TVONE di Indonesia.
“Itu bukti ada apa-apanya. Kalau nggak, ngapain mereka menutup diri,” ujar William Hartono Widjaja, kakak kandung David.
Dugaan di benak William, menjadi keingin-tahuan semua pihak.


Pada hari yang sama Budi Raharjo Santoso, Ketua Pelajar Indonesia NTU (PINTU), organisasi kekerabatan mahasiswa Indonesia di NTU, sebagaimana ditulis di harian Jakarta Post menghimbau berbagai pihak di Indonesia untuk tidak membuat berita-berita yang menduga-duga, berbau miring. Bahkan dengan nada meninggi Budi mengatakan, “Masih banyak mahasiswa Indonesia di NTU yang kini juga belajar, dan tidak harus terganggu karena berita meninggalnya David.”
Bagi saya ungkapan Budi itu sah saja. Namun jika hati nuraninya yang bicara akan lain cerita. Indikasi kejanggalan kematian David, kini, bukan lagi basa-basi. Pemerintah Singapura, sudah mulai “meralat” tentang bunuh dirinya David. Bahkan kepolisian Singapura, berjanji akan mengeluarkan hasil optopsi 2 April 2009, pas di hari sebulan kematian David.
Logika sederhana, jika indikasi tidak beresnya kematian David seharusnya membuat PINTU, bersatu padu, laksana sebuah pintu, tempat masuk ke dalam suatu ruangan berpadu membangun kekuatan menekan NTU dan pemerintah Singapura. Bersatu mengatakan kepada pemerintah Singapura untuk mengusut kematian David penuh kejanggalan.
Eh, ini bukannya berbuat demikian, malah menghimbau komunitas on-line Indonesia terutama menghentikan spekulasi. Akan halnya tulisan saya ini, saya pertanggung-jawabkan secara jurnlisme, dengan kerendah-hatian menjauhkan diri dari spekulasi.
Kedalam email pribadi saya, sudah mulai ada kalimat memojokkan, menertawakan liputan saya ini. Ada juga komentar akan sikap profesional menulis; saya acap salah ketik dan mengeja.
“Jangan sok menulis hal serius, jika menuliskan nama mata kuliah David saja salah-salah.”
Jurnalis memang tak sepantasnya manusia super. Ia bekerja berlandasarkan prinsip dasar.
Menurut Bill Kovach di buku The Element of Journalism, elemen jurnalisme itu meliputi setidaknya 9 hal; Kewajiban utama jurnalisme kepada pencarian kebenaran, Loyalitas utama jurnalisme kepada warga negara, Esensi jurnalisme disiplin verifikasi, Harus menjaga independensi dari objek liputan, Membuat diri sebagai pemantau independen dari kekuasaan, Memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi, Membuat hal penting menjadi menarik dan relevan, Membuat berita yang komprehensif dan proporsional dan Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.
Saya sangat memegang pokok pikiran Kovach, sosok “hati nurani” jurnalisme Amerika Serikat itu kini. Pada 6 tahun silam ketika ke Jakarta, saya sempat bertemu Kovach. Dari Kovach saya belajar ber-kerendah-hatian berdisiplin verifikasi. Itulah yang mendasari penulisan saya soal David, tidak ke urusan kesok-tahuan di situ.


Dalam khasanah verifikasi itu sudah panjang list nama yang saya hubungi. Termasuk mencoba mengontak Daniel Harjanto, animator, dulu pernah menjadi GM untuk perusahan post production, Post Office, milik Peter F Gontha. Daniel kemudian pernah memimpin rumah paska produksi milik Singapura VHQ, sebelum 1998, masih milik Singapura. Saya pernah pula bekerja di VHQ di saat Daniel memimpin. Daniel kini bekerja sebagai menajer animasi di sebuah animation house di Batam, Riau Kepuluan, yang baru saja merampungkan film animasi 3D Sing to Dawn, yang semula tidak terampungkan oleh Media Development Authority (MDA), Singapura. Melalui telepon, Daniel mengatakan tak paham soal aplikasi OpenCV yang sedang diriset David sebelum wafat.
Nama-nama lain yang mengantarkan saya kepada riset David, di antaranya Vidiyama Sonnekh, Anthony Seger dan Ardi Sutedja, kerabat di Kadin Indonesia dulu, kini penggiat masalah telematika, anggota milis Apwkomitel, jaringan warnet. (Silakan baca Sketsa sebelumnya).


JAKARTA, di Minggu. 29 Maret 2009. Menjelang tengah hari, jalanan di Soedirman dan Thamrin ditutup bagi kendaran bermotor, ada poster bertuliskan Car Free Day di beberapa ruas jalan macam di bilangan Dukuh Atas. Akibatnya jalan alternatif menembus dua ruas jalan utama itu menjadi macet, kendaran bertumpuk macam di Dukuh Atas itu.
Padahal pukul 12.00 saya berjanji dengan Ardi Sutedja untuk kami makan siang di warung Ampera di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Warung yang bermula dari Bandung, dan dibuka sejak 1960-an itu menyediakan makanan ala Sunda, yang dapat dipilih lauk pauknya lalu dipanaskan. Empat jenis sambal , termasuk cabe ijo, dan aneka lalapan gratis.
Suasana Warung Ampera yang biasanya berpendingin udara, hari itu terasa panas. Setelah menyelesaikan makan, cepat kami mencari tempat minum kopi di bilangan Citiloft, mal dan apartement di bilngan Jl. KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat itu.
Di kedai kopi Star Buck, Ardi memberikan sebuah CD berisi buku dan tulisan yang banyak tentang Security Surveillance Ecosystem Guide, keluaran Intel Corporation itu. Di Sketsa sebelumnya, William kakak David telah menyampaikan bahwa David sedang mengoprek riset dan skripsi memakai aplikasi OpenCV, keluaran Intel Coporation, open source.
Anthony Seger, seorang lulusan Electrical Electronical Engineering, 20 tahun silam dari USC, AS, mengatakan - - sebagaimana sudah saya tulis di Sketsa sebelumnya - - bahwa jika David mengioptimalkan OpenCV, dipastikan berkaitan ke riset yang bernilai ekonomi.
Judul skripsi David: Multiview aquisitions from Multi-camera configuration for person adaptive 3D display. Proyek dengan Nomor: A3026-81. Summary: Multi cameras willbe used to obtain multiviews of scene. Syarat mengambil topik ini: Strong Mathematical Skills and C/C++ programing. Untuk risetnya itu, David dirujuk ke laboratorium EEE3, Information System Research Lab (Loc: S2-B3a-06).
Di buku pertama yang diberikan Ardi bercover foto seorang petugas spolisi sedang mengamati multi kamera yang memuat gambar dari CCTV. Buku ini mengupas ihwal Digital Security Surveillance (DSS), jika diterjemahkan kira-kira: aplikasi atau back office keamanan pengintaian digital. Ardi Sutedja, sudah mengamati masalah topik ini sejak 2003 lalu.
Buku kedua, lebih dari 300 halaman; Inteligent Network Video, Understanding Modern Video Surveillance Systems oleh Fredrik Nilsson, Axis Communications. Buku bercover kamera pengintaian beresolusi tinggi itu baru diterbitkan pada medio 2008 lalu.
“This is the first physical security convergence book to provide the Big Picture on the technical an operational of IP networked video surveilance systems, and may well be most complete an authoritative book written to date.” Pengantar Kavin Marier, pemimpin redaksi IPVS Magazine.
Buku kedua itu, dalam penelusuran saya, juga menjadi bacaan David.
Kongklusi dari buku dan tambahan banyak artikel tertulis yang saya himpun, kian mengerucutkan riset David ke arah pengoptimalan kamera CCTV bagi pengintaian dengan objek 3D (tiga dimensi). Aplikasi open souce memang membuat programmer bisa menciptakan sebuah penemuan aplikasi baru, bisa jadi juga paten baru.
“Dan logikanya paten baru itu juga akan bisa menghasilkan paten-paten turunan,” ujar Ardi Sutedja pula, “Jadi sudah semacam multi level marketing paten jadinya.”
Jika penemuan mentriger paten baru di bawahnya, dan itu terindikasi menyangkut keamanan suatu negara, riset ke arah sana memang bernilai ekonomi tinggi tidak berkira.


Bisa dibayangkan, bila pengintaian menggunakan kamera beresolusi tinggi di sebuah tempat, secara 3D bisa melacak seorang anak manusia di jagad mana pun termasuk di planet luar angkasa, cukup melalui kamera yang berbasis internet protocol (IP), dan sosok itu, termasuk Presiden Obama, misalnya, bisa ditembak via remote senjata jarak antar benua, dan tentu saja menjadi sebuah revolusi teknologi, urusan keamanan negara jadinya.
Riset David tentulah belum sampai ke arah persenjataan jarak jauh itu.
Tetapi perhatian dan risetnya yang spesifik, bisa menguraikan ke penemuan lebih jauh optimalisasi aplikasi OpenCV bagi kamera pengintaian tiga dimensi (3D), yang dapat digabungkan dengan back office internet berkecepatan tinggi. Back office itulah antara lain yang digarap David.
Saya berani menuliskan bahwa di Sketsa ke-6 ini, urusan riset David kian mengerucut tajam. Sementara kematiannya menyisakan saksi mata di NTU, yang mendengar teriakan, “They want to kill me,” di saat david lari kea rah tangga darurat dari ruang Profesor Chan Kap Luk. Saksi mata itu harus saya temui. Dua poin itulah tinggal fokus verifikasi saya.
Hingga di sini, saya membayangkan wajah isteri dan anak-anak saya. Isteri yang pernah bekerja di production house itu memahami pula soal audio visual. Dari awal ia meminta saya hati-hati.
“Ini indikasi mafia industri,”

MENDADAK Selasa, 23 Maret 2009 sekitar pukul 14.30, Titien Syukur, adik Sumawaty Syukur, Direktur PT Jakarta Monorail, mengabari saya. Bahwa Risa dan Lisa Jusuf Kalla, dua putri Wapres itu, berkenan menemui saya, ingin tahu lebih jauh tentang persoalan indikasi David dibunuh di pukul 16.00 hari itu. Saya tak menyi-nyiakan kesempatan itu. Sekitar 45 menit kami berjumpa di Plaza FX, bilangan Senayan, Jakarta Pusat..
Dalam pertemuan dengan kalangan blogger terbatas terpisah sebelumnya, Jusuf Kalla (JK) di Café Pisa, Jakarta Selatan, sempat saya minta perhatiannya soal David. JK, menjawab normatif, menunggu keputusan pemerintah Singapura dalam melakukan penyidikan.
Dengan pertemuan informal bersama puteri JK itu, saya yakin, bahwa setidaknya JK punya perhatian, terhadap masalah kemanusiaan, lebih jauh masalah citra bangsa, anak bangsa yang dipojokkan dan lebih dalam lagi ihwal sebuah riset anak jenius negeri ini, mesti dibongkar lahir dan batin.
Semoga saya tak keliru menuliskan bahwa JK yakin anak Indonesia jenius-jenius. BJ. Habibie, contoh signifikan, memiliki paten banyak dalam pembuatan rentang sayap pesawat, bahkan ihwal landing dan take off vertikal pesawat. Konon patennya sudah dilepas ke NASA, AS, itu.
Maka ketika Ketua PINTU, _wadah Pelajar Indonenesia NTU di Singapura malah meminta publik untuk diam, kerongkoangan saya seakan tercekik, menjadi tidak bisa bercakap apa-apa, seakan sakit menelan ludah sendiri.
Apakah mereka di PINTU itu setelah tamat dari NTU, tidak berminat bekerja di Indonesia?
Lebih jauh mungkin tak merasa perlu mengenal Indonesia?
Padahal, inilah momen tiada duanya untuk mereka tampil di barisan depan!***

Iwan Piliang, literary citizen reporter, Blog-presstalk.com



LIST OF COMMENTS


1/10. Salute to bung Iwan
Written by Guest - Monday, March 30 2009

Dari 6 sketsa yg bung Iwan buat, inilah sharing jurnalistik terbaik yg saya baca. Sedikit informasi dari saya tentang mengapa kasus David seperti kian menguap, bahkan pemerintah Singapura terkesan sangat bertele-tele dan menutup diri, kata kuncinya dua pertanyaan terakhir dalam sketsa ke-6 bung Iwan ini. Melebar atau mengerucutnya indikasi suatu kasus ber-skala nasional/internasional, tidak memiliki arti apapun tanpa pengindahan moril dari manusia2 yg terlibat. Terakhir, saya cuma mau mengucapkan selamat berjuang dan senantiasa berhati2. Do'a saya untuk anda. ~hdht.

2/10. mr
Written by Guest - Tuesday, March 31 2009

Rasanya kok bung Iwan lebih bersandar pada dugaan daripada fakta? Memang ada kejanggalan pada kasus Davis dan prof nya namun yang selebihnya lebih ke dugaan dan rekaan saja? Mungkin saja anak2 di PINTU lebih mengetahui kasus ini daripada kita yang berada di tempat jauh? Juga dari pemerintah / kepolisian Singapura kan belum ada keterangan resmi tentang masalah ini? Mengapa bung Iwan bersikap seolah-olah kepolisian Singapura harus mengikuti prosedur yang dianggap benar oleh kita (yang awam terhadap metode penyelidikan polisi?). Sikap seperti inilah yang bisa menyebabkan peristiwa seperti kerusuhan di Ambon, jika ada perkelahian antara beberapa orang tidaklah usah dibawa melebar ke institusi, suku, bangsa dsb. Jadi akan bertambah kacau!

3/10. Buka pintu hati
Written by Guest - Tuesday, March 31 2009

kayaknya PINTU sudah mendapat tekanan dari pihak2 tertentu untuk menutup pintu mulutnya. Semoga pintu hati tetap terbuka untuk mengungkap kebenaran demi keadilan.

4/10. teruskan
Written by Guest - Tuesday, March 31 2009

mohon teruskan investigasinya bung iwan. kalau pemerintah kita diam saja (=memalukan), PINTU diam saja (=menjijikkan), kepolisian singapura diam saja, bisa-bisa kasus 'aneh' seperti ini dilupakan begitu saja. apa nggak aneh, 3 mahasiswa bisa mati berturut-turut.

5/10. mr
Written by Guest - Wednesday, April 01 2009

Coba kita pikir lagi dengan kepala dingin! Seandainya karya David memang sangat diinginkan oleh suatu negara seperti asumsi bung Iwan. Jika hasil karya David adalah suatu terobosan yang tidak bisa / sukar ditiru orang lain maka negara tersebut perlu membiarkan David untuk menyelesaikan karyanya dan pendekatan yang seharusnya ditempuh adalah berusaha menarik David (dengan memberi beasiswa atau mempekerjakan dsb) atau berusaha mencuri pengetahuan tersebut yang berarti akan memastikan bahwa dia tetap terus mengerjakan karyanya malahan kalau perlu diam-diam membantunya agar pengetahuan tersebut diperoleh secara lengkap. Jika karya tersebut bisa diduplikasi dengan mudah tentunya tidaklah terlalu sukar jika menugaskan suatu tim orang-orang pintar untuk ngebut membuat skripsi sejenis supaya bisa mematenkan lebih dahulu? Ini hanya mereka-reka saja karena kalau ditanya sejujurnya saya tidak tahu banyak apa yg sebetulnya terjadi. Btw karena sudah dekat mengapa tidak kita tunggu saja hasil pemeriksaan resmi? Seringkali bayangan jauh lebih besar dan menyeramkan dibandingkan benda sebenarnya. :-D

6/10. masih mending
Written by Guest - Thursday, April 02 2009

masih mending ada bung iwan dkk. yang mau menyelidiki lebih lanjut dari sisi lain yang juga cukup masuk akal, daripada memble seperti PINTU dan kedutaan indonesia. seperti halnya kememblean mereka terhadap nasib TKW Indonesia di mana-mana. cuih ...

7/10. Kematian David: Satu lagi jazd membujur
Written by Guest - Thursday, April 02 2009

Salut itu bang Iwan! Ada pameo: Ther is no such a coincidence. Satu peristiwa itu berkaitan dengan yang lain untuk itu upaya Anda untuk menjadikan kasus ini perlu diberi predikat "Two thumbs up". Hanya saja krn yang terlibat institusi bahkan negara, Anda perlu ekstra hati-hati. Insya Allah tindakan Anda yang mulia untuk bangsa ini diridhoi Allah SWT. Amien

8/10. Salut untuk Bang Iwan
Written by Guest - Thursday, April 02 2009

Investigasi Anda luar biasa! Ada pameo 'There is no such a coincidence'. Tidak ada kata kebetulan, satu kejadian ada kaitannya dengan kejadian yang lain. Namun demikian untuk mendapatkan "the missing witness",bang Iwan perlu ekstra hati-hati karena masalahnya sudah menyangkut prestis, uang dan negara.Ini suatu tugas mulia untuk bangsa dan negara, jauh lebih penting dari caleg yang menghamburkan uang for nothing. Insya Allah di dalam menjalankan tugas mulia ini Anda diridhoi Allah SWT. Amien.

9/10. Ada Yang Salah
Written by Guest - Friday, April 03 2009

Mestinya, kalau memang itu berkaitan dengan nilai ekonomi tinggi, jelas pemerintah Singapura akan berupaya untuk menghilangkan kelanjutan dari penelitian David. Logika yang mengatakan bahwa pemerintah Singapura akan memberikan kesempatan bagi David untuk mengembangkan penelitian untuk Singapura; atau mencuri hasil penelitiannya, akan menjadi tidak valid. Bagaimana mungkin Singapura dapat menjamin kerahasiaan dari proyek itu ? Masih terlalu beresiko untun membiarkan David meneliti terus, apalagi mengingat dia masih mahasiswa. Hipotesis saya mengatakan, ada semacam kecenderungan bagi mahasiswa NTU -terutama yang jenius- untuk diminta terlibat dalam proyek2 besar pemerintah Singapura, mengingat ada teman saya yang kuliah di NTU, yang pernah diminta untuk melakukan penelitian bagi lembaga semacam departemen industri di Singapura. Dan menurut dia, sudah bukan hal baru lagi jika mahasiswa jenius NTU akan "ditarik" untuk terlibat dalam penelitian/proyek pemerintah Singapura. Saya koq sangsi, kalau PINTU tidak mengerti dengan keadaan semacam ini. Semestinya, PINTU tahu betul ada kultur-kultur tertentu yang nantinya berkaitan dengan kematian David. Bung Iwan, tetap semangat, perjuangan Anda dan kawan-kawan masih panjang ! WBU Bung !

10/10. Iwan: Maaf telat merespon
Written by Guest - Tuesday, April 28 2009

kawan-kawan mohon maaf, saya terlambat merespon setiap komentar dan masukan yang diberikan. Belakangan memang padat waktu verifikasi. Saya berterima kasih atas dukungan, juga segenap kritik mengkritis agar saya dapat menulism lebih baik lagi. Salam

Add Comments
 
< Prev   Next >
Duel Habe - Meta - Indonesia 2030
 
Rosnida Sari: Orientasi kampus
Read more...
 
Iwan Piliang: Manusia Universal & Masjid Monumental
 Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA.
Read more...
 
Habe: Indonesia 2030 ( Sebuah Prediksi )
Image Semua orang tahu bahwa banyak pengamat politik dan sosial saat ini bertebaran di Indonesia.Contohnya para talking heads yang bisa anda saksikan berdebat sampai berbusa busa di acara tv tiap hari.Tapi hanya sedikit orang yang berani menjadi dukun seperti saya, yang seperti prabu Jayabaya atau ki Gendeng Pamungkas berusaha memprediksi masa depan negara sampeyan yang bernama Indonesia dalam beberapa dekade ke depan ke dalam bahasa ilmiah.
Read more...
 
Metamorfosa: Prediksi Indonesia di Tahun 2030
Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan.
Read more...
 
Win Wan Nur: Mengintip Sejarah Gayo Melalui Silsilah Keluarga
Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq.
Read more...
 
Kurnia Harta Winata: KOEL 9
 alamat fans page: http://www.facebook.com/pages/KOEL/167370362833
Read more...
 
Win Wan Nur: Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat
Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Islah Para Pejuang Rakyat
Read more...
 
Habe: Tokek
Image
Read more...
 
Iwan Piliang: Ibarat Puzzle Inilah Penggalan “Kombur” TKW & Ziad
Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu.
Read more...
 
Didik Elpambudi: Tak Mudah untuk Bercerita
Sekitar 33 tahun lalu, usiaku lima tahun. Aku tinggal lingkungan etnis Tionghoa di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku sekolah di kelas nol kecil Taman Kanak-kanak Roma Katolik. Aku belum lama tinggal di kota itu. Aku pindah dari Siantar, kota kelahiranku, karena Bapak yang bekerja di salah satu badan usaha milik negara ditugaskan ke Tanah Karo.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sesendok Air di Kolam Madu
Read more...
 
Ismail Asso: Nasionalisme- Perspektif Papua
Read more...
 
Rosnida Sari: Ketidakegoisan seorang dosen
Tahun 2008 lalu,sepasang suami istri yang juga dosen datang dari Kanada untuk berkunjung ke Aceh. Tepatnya, ke kampus saya di IAIN. Kedua mereka mengajar di fakultas yang berbeda di kampus saya.
Read more...
 
Habe: The Good Malin Kundang
Image
Read more...
 
Edizal: Birunya Pulau Cebu (1)
Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sandiwara di Ruang Kelas
 Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, nggak mau belajar, malas membaca dan lainnya.
Read more...
 
Denny Baonk: Maharaja, Oscar & Cupang
Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin.
Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan.
Read more...
 
Habe: Orang Murtad Ziarah
ImageMemasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini.
Read more...
 
DN Aidit:: Sedjarah Diriku VI
 SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT
Read more...
 
Denny Baonk: Konspirasi Langit
Saya heran. Kenapa tiap mau jemput anak saya pulang sekolah, hari yang terang benderang tiba-tiba jadi muram lalu nangis kenceng-kenceng. Hujan deras, lalu masih pula dilengkapi petir yang nyamber-nyamber mengerikan.
Read more...