Superkoran

Sponsored Links

Jumlah Pengunjung sampai hari ini

Visitors: 4746376

Who's Online

We have 10 guests online
Kumpulan Tulisan Damar Shashangka:
 Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar:
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Win Wan Nur
   kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008
Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Anwari Doel Arnowo
 kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006
Read more...
 
Buku Tamu - tolong diisi

Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung!

Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca!

Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta

Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum.

Minggu, 19 Oktober 2008  Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran.

 

 

Read more...
 
Said: Kumpulan tulisan Habe

 kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008

Habe: Taksi Haji Siddik
Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard

Read more...
 
Pengumuman untuk Penulis Superkoran tahun 2010

 PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.

 

 

Read more...
 
Hasanudin: Buruh Kita di Perusahaan Jepang Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest 
 11 October 2008 Menjadi pimpinan sebuah perusahaan manufaktur Jepang memberi saya kesempatan untuk berkunjung ke berbagai perusahaan lain, umumnya perusahaan Jepang juga. Dalam setiap kesempatan kunjungan, selalu ada hal menarik untuk diperhatikan dalam berbagai sudut pandang, di antaranya dari sisi manajemen sumber daya manusia. Salah satu yang menarik buat saya adalah interaksi antara ekspatriat Jepang dengan pekerja (buruh) lokal.

Cerita yang cukup banyak muncul adalah tentang bagaimana pekerja kita melakukan berbagai trick untuk menghindari beban kerja. Di sebuah perusahaan plastic molding injection misalnya, pekerja pada shift malam memperpendek cycle time mesin, sehingga mereka bisa mencapai target (kuantitas) produksi dapat dipenuhi sebelum waktu shift mereka selesai. Sisa waktu yang diperoleh dari pemendekan itu digunakan oleh pekerja untuk tidur. Tentu saja kualitas produk akan menurun. Para pekerja itu cukup “cerdik”, mereka menyembunyikan produk yang tidak memenuhi standar mutu di bagian bawah pada saat pengepakan.

Cerita lain adalah soal cuti haid. Mayoritas pekerja wanita mengambil cuti haid satu sampai dua hari dalam sebulan. Jumlah hari cuti ini rata-rata lebih banyak dari jumlah hari cuti tahunan. Uniknya cuti itu kebanyakan diambil pada awal pekan (Senin), atau menjelang akhir pekan (Jumat). Tentu sulit untuk memastikan apa benar karyawan tersebut sedang haid pada hari itu. Lucunya ada karyawan yang mengambil cuti melahirkan, padahal sampai bulan sebelumnya dia masih rutin mengambil cuti haid.

Yang lebih sulit bagi orang Jepang adalah masalah yang bersinggungan dengan agama, karena sensitif. Sering ditemukan karyawan berpura-pura pergi shalat, kemudian berlama-lama di mushalla untuk mengulur waktu agar bisa beristirahat. Ketidakpahaman mereka terhadap soal-soal agama membuat mereka sulit bersikap tegas dalam kasus-kasus seperti ini.

Tentu tidak semua buruh kita berperi laku demikian. Namun bagi orang-orang Jepang, kelakuan seperti itu adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan akan terjadi di tempat asal mereka. Buruh di Jepang dikenal berdisiplin tinggi. Mereka menganggap pekerjaan yang diamanahkan sebagai tanggung jawab (sekinin) yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya (shikkari), dan kegagalan menunaikan tanggung jawab itu menimbulkan gangguan pada pekerjaan orang lain (meiwaku). Itulah antara lain basis moral yang membentuk disiplin mereka.

Lebih menarik lagi adalah bagaimana ekspatriat Jepang itu bersikap atas kejadian-kejadian yang merupakan culture shock tersebut. Sebagian ekspatriat yang saya temui menghabiskan waktunya dengan mengeluh, mencela, dan tak jarang mencaci maki peri laku buruh kita tersebut. Perilaku ekspatriat ini kemudian tergambar pada kacaunya manajemen perusahaan. Berbagai pihak sibuk saling tunding, saling menyalahkan atas setiap masalah yang muncul, bukan mencari solusi.

Beberapa ekspatriat lain berusaha memahami masalah, mencari akar persoalannya, khususnya dengan mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Dari situ dibuatlah peraturan-peraturan yang mampu mengantisipasi peri laku tidak disiplin tersebut. Prinsipnya, apa yang berhasil diterapkan dengan baik di Jepang tidak otomatis akan berhasil dengan baik pula di Indonesia, (suatu hal yang mungkin diharapkan oleh Jepang-jepang tukang keluh seperti yang saya jelaskan di atas) karena budaya dan kebiasaan masyarakatnya yang berbeda.

Contoh menarik adalah soal pengelolaan perkakas untuk maintenance mesin. Di pabrik-pabrik di Jepang perkakas ditempatkan di suatu tempat yang mudah diakses semua orang yang memerlukan. Bila selesai digunakan alat akan dikembalikan ke tempat semula. Ini adalah prinsip seiri-seiton. Di Indonesia, begitu cerita ekspatriat yang saya temui, hal itu tidak bias diterapkan. Pengguna tidak mengembalikan perkakas sebagaimana mestinya setelah selesai bekerja. Perkakas sering rusak atau bahkan hilang, dan sulit untuk dicari siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan/kehilangan itu. Untuk mengatasinya dia menyerahkan satu set perkakas kepada untuk setiap kelompok, dan menunjuk penanggung jawab pengelolaan perkakas tersebut. Cara ini berhasil. Tanggung jawab pengelolaan perkakas yang tadinya merupakan tanggung jawab kolektif diubah menjadi tanggung jawab personal, yang diberi tanggung jawab jadi lebih berhati-hati menjaga amanah yang dibebankan kepadanya.

Dalam berbagai forum yang melibatkan orang Indonesia dan Jepang saya selalu mengingatkan pentingnya saling pengertian dalam soal budaya dan kebiasaan antara ekspatriat Jepang dengan pekerja lokal. Tentu saya tidak berharap agar orang-orang Jepang itu mengerti dalam arti memaklumi kemudian menolerir kebiasaan-kebiasaan pekerja kita yang tidak cocok dengan sistem manajemen mereka. Yang saya harapkan adalah munculnya solusi kreatif seperti saya contohkan di atas.

Hal lain yang juga pernah kami diskusikan adalah soal upah, attitude, dan produktivitas. Regulasi pemerintah mengenai upah minimum sekarang sudah jauh lebih ketat dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, khususnya terhadap perusahaan asing. Akibatnya, seperti yang sering dikeluhkan oleh para pebisnis asing, produk kita kehilangan daya saing di pasar internasional.

Saya tidak akan mengamini keluhan investor soal daya saing itu. Itu memang sangat bisa diperdebatkan. Boleh jadi itu cuma dalih mereka untuk mengeruk keuntungan yang lebih besar. Masalahnya, investor dengan kekuatan modal mereka punya berbagai alternatif dalam mengejar keuntungan. Bila tekanan untuk menaikkan upah buruh demikian tinggi sehingga melampaui kalkulasi ekonomis, mereka punya alternatif menyulih tenaga manusia dengan mesin melalui otomatisasi. Dalam jangka pendek pilihan ini membutuhkan tambahan investasi yang besar. Tapi dalam jangka panjang ini bias menguntungkan, khususnya bila tingkat kenaikan upah buruh sekitar 10% seperti sekarang ini. Bila banyak perusahaan melakukan hal ini, maka otomatis akan terjadi penurunan daya serap tenaga kerja sehingga angka pengangguran akan meningkat.

Saya melihat perlunya keseimbangan antara tuntutan menaikkan upah buruh dengan perbaikan attitude serta peningkatan produktivitas. Logika yang berbaik sangka pada kapitalisme akan mengatakan, bila produktivitas buruh naik, keuntungan perusahaan akan meningkat, otomatis kesejahteraan buruh akan diperbaiki. Yang tidak percaya pada logika itu setidaknya bisa berfikir bahwa perbaikan attitude dan peningkatan produktivitas akan menghidarkan penyulihan buruh dengan mesin.

Sudahkah hal ini difikirkan oleh organisasi buruh? Apakah memperjuangkan nasib buruh harus selalu bermakna melakukan gerakan politik menekan pemerintah dan penguasaha semata, tanpa pernah peduli dengan kualitas kerja mereka?

Kang Hasan
http://berbual.com
Add Comments
 
< Prev   Next >
Duel Habe - Meta - Indonesia 2030
 
Rosnida Sari: Orientasi kampus
Read more...
 
Iwan Piliang: Manusia Universal & Masjid Monumental
 Inilah Sketsa ke-3 perjalanan memfasilitasi kepulangan sosok Ziad dari Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA) ke Indonesia. Ada pembaca, mengeluhkan panjangnya tulisan ini. Satu tulisan lebih dari 2.500 kata. Konon bagi majalah sekaliber The New Yorker, tulisan 2.000 kata (edited), mereka masukkan ke kelompok rata-rata. Saya mencoba belajar ke sana, tentu spesial saya hidangkan bagi Anda yang senang membaca. Karya monumental tak boleh asal. Lihatlah bangunan Masjid Syeh Zayed di PEA.
Read more...
 
Habe: Indonesia 2030 ( Sebuah Prediksi )
Image Semua orang tahu bahwa banyak pengamat politik dan sosial saat ini bertebaran di Indonesia.Contohnya para talking heads yang bisa anda saksikan berdebat sampai berbusa busa di acara tv tiap hari.Tapi hanya sedikit orang yang berani menjadi dukun seperti saya, yang seperti prabu Jayabaya atau ki Gendeng Pamungkas berusaha memprediksi masa depan negara sampeyan yang bernama Indonesia dalam beberapa dekade ke depan ke dalam bahasa ilmiah.
Read more...
 
Metamorfosa: Prediksi Indonesia di Tahun 2030
Sebelum kita memasuki tulisan inti, ada baiknya kita menengok lebih dalam makna dari kata "prediksi" itu sendiri. Saya pribadi berpendapat bahwa makna prediksi tidak bisa disamakan dg ramalan, meskipun keduanya bersifat mencoba membaca sesuatu yg akan terjadi (visi), namun keduanya memiliki 'metodology' yang berbeda sebagai pijakan.
Read more...
 
Win Wan Nur: Mengintip Sejarah Gayo Melalui Silsilah Keluarga
Karena tidak ada catatan, aku tidak tahu persis sejak kapan keluargaku mulai menetap di Isaq.
Read more...
 
Kurnia Harta Winata: KOEL 9
 alamat fans page: http://www.facebook.com/pages/KOEL/167370362833
Read more...
 
Win Wan Nur: Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat
Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Islah Para Pejuang Rakyat
Read more...
 
Habe: Tokek
Image
Read more...
 
Iwan Piliang: Ibarat Puzzle Inilah Penggalan “Kombur” TKW & Ziad
Tugas diplomat Indonesia di luar negeri, seperti saya simak di Persatuan Emirat Arab (PEA), juga cerita sosok Indonesia bekerja di Oman, bermuara: galebeh-tebeh urusan Tenaga Kerja Wanita (TKW): kabur dari majikan; di bawah umur; dilecehkan seksual; diperkosa; jatuh dari gedung; disetrika panas; sengaja menjual diri alasan terpaksa; bersuami seakan berpoliandri di negeri orang; panjang kata jika dilanjutkan. Jahanam kali laku lelaki - - termasuk saya - - mengirim perempuan mara ke manca negara. US $ 6, 615 miliar peneriman dari TKI, 2009, setara Rp 59, 5 Triliun, tiada arti apa-apa dibanding penggelapan pajak melalui transfer pricing pelaku usaha di Indonesia yang setahun melebihi Rp 1.000 Triliun. Buat apa mendidik, menggaji mahal para diplomat, jika pekerjaannya terguras arus mengurus TKW. Lanjutan Sketsa Ziad Salim Zimah yang “tertahan” 8 tahun di PEA, pulang bersama saya 16 Februari 2010: mencairkan rindu air mata darah sang ibu.
Read more...
 
Didik Elpambudi: Tak Mudah untuk Bercerita
Sekitar 33 tahun lalu, usiaku lima tahun. Aku tinggal lingkungan etnis Tionghoa di Kabanjahe, Tanah Karo. Aku sekolah di kelas nol kecil Taman Kanak-kanak Roma Katolik. Aku belum lama tinggal di kota itu. Aku pindah dari Siantar, kota kelahiranku, karena Bapak yang bekerja di salah satu badan usaha milik negara ditugaskan ke Tanah Karo.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sesendok Air di Kolam Madu
Read more...
 
Ismail Asso: Nasionalisme- Perspektif Papua
Read more...
 
Rosnida Sari: Ketidakegoisan seorang dosen
Tahun 2008 lalu,sepasang suami istri yang juga dosen datang dari Kanada untuk berkunjung ke Aceh. Tepatnya, ke kampus saya di IAIN. Kedua mereka mengajar di fakultas yang berbeda di kampus saya.
Read more...
 
Habe: The Good Malin Kundang
Image
Read more...
 
Edizal: Birunya Pulau Cebu (1)
Philippine Airlines yang kami tunggangi menderu laju menyibak langit musim salju yang berkelabu murung menuju daerah selatan yang benderang. Berselonjor ria kami di window seat yang diminta kepada gadis loket di Bandara Narita. Sebetulnya tak usah menuntut begitu karena perut pesawat ini hampir kosong melompong dengan bangku yang terisi lebih kurang 20% saja.
Read more...
 
Sehat Ihsan Shadiqin: Sandiwara di Ruang Kelas
 Jujur, meskipun saya sudah mengajar beberapa tahun di perguruan tinggi, tapi saya tidak pernah bertanya pada mahasiswa, apakah ia puas dengan apa yang saya lakukan untuk “mendidik” mereka atau tidak. Saya tidak bertanya karena satu sisi saya pikir “apa perlu bertanya demikian?” Satu sisi yang lain saya sudah tahu jawabannya, pasti mereka akan mengatakan “tidak puas.’ Sebab siapa sih manusia yang pernah benar-benar puas? Tapi tiba-tiba saya berfikir untuk mencoba bertanya pada seorang teman, apakah ia pernah menanyakan kepada mahasiswanya tentang kepuasan. Ternyata jawabnya sama dengan saya. “tidak pernah.” Ia bahkan menambahkan, “tugas kita memberikan bahan dan materi pelajaran, menjelaskan, membuat mereka mengerti dan mengujinya di ujian. Persoalan apakah mereka puas atau tidak itu urusan mereka.” Apalagi, katanya, mahasiswanya malas-malas, nggak mau belajar, malas membaca dan lainnya.
Read more...
 
Denny Baonk: Maharaja, Oscar & Cupang
Kemaren, maharahja ceritanya ngumpulin mentri-mentrinya maen rapet-rapetan di Kabin.
Seperti juga kalo kita naek bis kota, namanya rapet-rapetan wajar lah kalau terjadi juga nainggol-nainggolan.
Read more...
 
Habe: Orang Murtad Ziarah
ImageMemasuki gerbang pemakaman umum Tanah Kusir siang itu, matahari Jakarta seperti makin edan memanggang garang tidak memperdulikan gerahnya para pengantar rombongan upacara penguburan yang mencluster di area kuburan.Saya datang kembali setelah terakhir ziarah sekitar 10 tahun yang lalu ke makam mama di sini.
Read more...
 
DN Aidit:: Sedjarah Diriku VI
 SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT
Read more...
 
Denny Baonk: Konspirasi Langit
Saya heran. Kenapa tiap mau jemput anak saya pulang sekolah, hari yang terang benderang tiba-tiba jadi muram lalu nangis kenceng-kenceng. Hujan deras, lalu masih pula dilengkapi petir yang nyamber-nyamber mengerikan.
Read more...