Paling banyak dibaca (30 hari)
Jumlah Pengunjung sampai hari ini
Visitors: 4576506
Who's Online
We have 6 guests online
Kumpulan tulisan Damar yang berkaitan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit dan pengislaman Indonesia dan Syech Siti Jenar: |
|
Read more...
|
  kolom ini berisi semua tulisan Win Wan Nur di Superkoran sejak Mei 2008 |
|
Read more...
|
kolom ini berisi semua tulisan Anwari Doel Arnowo di Superkoran sejak Juni 2006 |
|
Read more...
|
|
Januari 2010: 3 bulan setelah 4 juta - sekarang sudah melewati 4,500,000 pengunjung! Oktober 2009: Pada usia 4 tahun, SK sudah melewati angka 4,000,000 pembaca! Juni1, 2009:Superkoran melewati 3,000,000 pembaca - 5 bulan setelah tonggak 2 juta Jan 9, 2009 - >Tak dinyana, tak diduga, hari ini Superkoran sudah melewati 2.000.000 pengunjung. Agustus 2008 baru 1.000.000 pengunjung. Butuh waktu 3 tahun untuk mencapai 1 juta. Tapi 1 juta berikutnya cuma butuh waktu 5 bulan. Terima kasih atas bantuan penulis dan pembacanya, baik yang suka maupun yang belum. Minggu, 19 Oktober 2008 Mohon bantuannya untuk mengisi buku tamu Superkoran. Silakan isi komentar anda mengenai Superkoran. |
|
Read more...
|
|
kolom ini berisi semua tulisan Habe di Superkoran sejak Juli 2008
• Habe: Taksi Haji Siddik • Habe: Tuhan di Las Vegas Boulevard |
|
Read more...
|
|
PERUBAHAN: user name PENULIS tak berlaku lagi. Semua tulisan bisa dikirim lewat
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
atau lewat Apa Kabar di Facebook. Kiirm permintaan menjadi "teman" dengan Apa Kabar di FB dan anda bisa tag kalau ada tulisan.
|
|
Read more...
|
ARSIP tulisan
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
May, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Anwari Doel Arnowo: JUMLAH PULAU |
|
|
Kamis, 19 Juni 2008 Terkejut dan kurang bisa menerima, bukannya kecewa karena jumlah yang berkurang akan tetapi bagaimana mungkin setelah 63 tahun NKRI Merdeka?? Sudah sekian lamanya, kita baru tahu??
Selama ini saya sudah ikut berpegangan angka 17000 pulau, bahkan salah satu, saya lupa siapa, yang bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) mengatakan bahwa jumlahnya mungkin mencapai 19000. Bahkan jumlah-jumlah yang tersiar di masyarakat luas itu sudah saya kutip berkali-kali di dalam tulisan-tulisan saya yang lalu.
Kita semua mengetahui bahwa jumlah pulau itu tidak bisa tetap angkanya karena semua relatip. Relasinya terhadap waktu dan relasinya terhadap dinamika yang ada di Planet Bumi tidak bisa diduga oleh siapapun. Kita semua sejak semula mengetahui bahwa sebuah pulau itu bisa saja lenyap ke bawah permukaan laut, dan sebaliknya juga bisa timbul yang baru. Itu adalah dinamika rupa Planet Bumi. Bisa karena gempa, bisa karena ada keluaran lahar dari bawah dasar air laut dan lain-lain sebab yang belum diketahui seperti lempengan benua dan lempengan pulau yang bergeser, yang bisa menyebabkan tsunami.
Saya terkejut bahwa pulau yang bisa dihitung sekarang jumlahnya hanya ada sekitar setengahnya dari 17000 buah jumlah pulau. Kita bisa baca pada berita Kompas hari ini (tercantum di bawah), bahwa penghitungan belum sepenuhnya tuntas selesai, akan tetapi telah diyakini petugas yang mengerjakannya bahwa benar-benar akan jauh berkurang di bawah 17000 buah pulau. Apakah teknologi pemotretan dengan satelit tidak bisa membantu. Bukankah dengan Google Earth, rumah tinggal siapapun dimuka bumi ini bisa dipotret, bahkan saya sudah menandai di mana saja saya sedang bertempat tinggal, apakah di Toronto-Kanada, di Bintaro yang terletak di Tangerang atau di Singapura.
Membaca data yang akurat memang kadang terasa pahit, akan tetapi dalam hal jumlah pulau ini sungguh amat memalukan saya. Saya bisa mengurangi banyak rasa malu saya mengenai hal ini, karena telah diberi wewenang resmi para petugas dari pemerintah dan akan melaporkan hasilnya kepada P.B.B. pada tahun 2012.
Semoga setelah bertemu angka yang mendekati sempurna, ditambah juga dengan pemberian nama yang benar dan tidak salah, lain untuk setiap pulau sebuah nama yang berlainan, tidak sama!!
Silakan membacanya:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/19/00195079/jumlah.pulau.berkurang
Jumlah Pulau Berkurang
Hasil Verifikasi di 25 Provinsi Terhitung 8.172 Pulau
Kamis, 19 Juni 2008 | 00:19 WIB
Jakarta, Kompas - Selama ini pulau di Indonesia disebutkan berjumlah 17.508, tetapi ternyata data yang menjadi acuan itu tidak sesuai dengan yang ditemukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi di lapangan. Diperkirakan hasil verifikasi jauh di bawah jumlah itu.
Hal ini terungkap dalam bedah buku berjudul Toponimi Indonesia, Sejarah Budaya Bangsa yang Panjang dari Permukiman Manusia dan Tertib Administrasi yang ditulis oleh Prof Dr Jacub Rais dan kawan-kawan.
Buku setebal 280 halaman yang diterbitkan Pradnya Paramita itu dibahas oleh Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan Alex Retraubun serta Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan Departemen Dalam Negeri Kartiko Purnomo di Jakarta, Rabu (18/6).
Pada acara tersebut juga diluncurkan buku biografi Jacub Rais 80 Tahun, Merintis Geomatika di Indonesia, untuk memperingati 80 tahun usia guru besar emeritus Institut Teknologi Bandung dan mantan Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) ini yang lahir pada 18 Juni 1928.
Selama ini, ungkap Jacub, penyebutan jumlah pulau di Indonesia memang tidak berdasarkan survei yang menyeluruh. Meski demikian, pada tahun 1987 Indonesia telah melaporkan pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perubahan jumlah pulaunya, dari 13.667 menjadi 17.508.
"PBB sebenarnya tidak minta laporan tentang jumlah pulau. Namun, menjadi kegiatan negara untuk melakukan pembakuan nama geografis, termasuk pembakuan nama pulau," ujar Jacub, pakar toponimi atau penamaan unsur daerah di muka bumi.
Di Indonesia, pada tahun 1987 jumlah pulau yang bernama tercatat hanya 5.707 pulau.
Tinggal delapan provinsi
Alex, yang menjadi penanggung jawab survei penamaan pulau pada Timnas Pembakuan Nama Rupabumi, menjelaskan, survei yang dilakukan sejak tahun 2005 hingga medio 2007 menghasilkan data 4.981 pulau yang tersebar di enam provinsi.
Jumlah itu telah dibakukan oleh pihak terkait, yaitu Departemen Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, serta Bakosurtanal, dan dilaporkan pada Konferensi Ke-9 PBB tentang pembakuan nama geografis.
Menurut Kartiko, sampai Juni 2008 ini terakumulasi 8.172 pulau dari 25 provinsi yang telah diverifikasi.
Ada delapan provinsi lagi yang akan disurvei, antara lain, Nanggroe Aceh Darussalam, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.
Kartiko dan Alex yakin hasil akhir verifikasi jumlah pulau itu akan jauh lebih sedikit dari 17.508 pulau yang diyakini sekarang ini.
"Data keseluruhan jumlah dan nama pulau di Indonesia akan dilaporkan kepada PBB pada tahun 2012," lanjut Kartiko.
Sebelumnya, daftar nama pulau tersebut akan dikukuhkan dengan peraturan presiden dan menjadi referensi resmi negara untuk penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan, atau kepentingan lain. (YUN)
Add Comments |
|
|
SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT |
|
Read more...
|
Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya: Dua Minggu Hidup di Dusun Pedalaman Jawa. Kali ini saya ingin berbagai cerita tentang pandangan masyarakat Wonodadi mengenai pemerintah dan berbagai “kezaliman” yang dilakukan pemerintah kepada mereka. Sebenarnya saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya ajukan pada diri saya sendiri sebelum saya pergi dan tinggal di sebuah rumah pedalaman Jawa selama dua minggu: kenapa masyarakat Jawa tidak memberontak pada NKRI? Namun setelah tinggal di sana saya tetap tidak bisa menjawabnya. Selain karena saya hanya tinggal selama dua minggu, keterbatasan komunikasi karena faktor bahasa membuat saya tidak dapat maksimal mengeksplorasi pandangan hidup mereka. Beberapa kejadian yang saya alami di sana sedikit mengarah ke jawaban pertanyaan saya. Namun saya tidak berani menyimpulkan apapun. |
|
Read more...
|
|
Tadi saya membuka Facebook dan mendapati begitu banyak hujatan yang ditujukan kepada saya karena saya telah dengan jujur menilai sebuah tulisan yang menyoroti Syari'at Islam di Aceh yang di-tag kepada saya. |
|
Read more...
|
|
Movie review :
Michael Jackson sang Raja Pop dunia adalah legenda, si genius dan seorang yang dikenal perfeksionis. Yang sering dalam bayangan kita menghadapi seorang yang perfeksionis, kita sering akan menggambarkan orang itu cerewet setengah mati, tidak segan mendamprat orang, galak/ menakutkan seperti dedemit ketika melihat sesuatu yang tidak cocok dengan apa kemauannya. Ah rupanya patron itu tidak dimiliki Michael Jackson. Dalam film berdurasi sekitar 112 menit ini kita disuguhi sebuah presentasi sosok MJ yang humble, sopan terhadap semua rekan kerjanya, entah itu musisi, penari, sound man maupun stage director-nya. Kita bisa menilai ketulusannya terhadap setiap orang karena memang sesi latihan yang difilmkan itu sebenarnya bukan untuk konsumsi publik. MJ sebagai seorang yang menjadi sentral dalam persiapan konser itu mampu me-leading setiap orang dengan tegas namun selalu dibungkus dengan kata-kata yang manis dan sikap yang sopan. Ia memberikan contoh bagaimana betotan bass yang harus dimainkan untuk dapat me-leading sebuah ritme lagu dengan benar, bagaimana piano harus dimainkan, bagaimana sebuah lagu dinyanyikan dengan ekspresi yang total. Seperti ketika ia meminta Orianthi Panagaris, gitarisnya untuk memainkan nada-nada tinggi. Dia berkata kepadanya supaya tidak ragu-ragu untuk memainkan nada tinggi, "It's time for you to shine, we'll be with you, it's time for you to shine...". Sikap-sikap seperti ini ditunjukkan kepada para pemain band dengan cara yang sangat halus dan sopan. Terlihat bahwa ia menganggap setiap orang dalam 'team-work'-nya itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Dan dengan cara itu orang-orang disekelilingnya pun mampu mengimbangi dan menuruti kemauan sang bintang untuk bekerja-keras dalam persiapan rencana konser "This Is It" yang sedianya akan dimulai pada July 13, 2009. |
|
Read more...
|
“Apa yang paling kau nikmati di dunia ini?” Tanya istriku malam itu. Nafasnya tak lagi memburu dan wajahnya terlihat cerah bahagia. Aku bilang, ”Bersenggama.” Dia bertanya lagi, “Selain itu?” Aku jawab, ”Makan dan minum yang enak.” “Terus?” |
|
Read more...
|
|
Photo: Original description in the Federal Archive: Title: Berlin, V. SED-Parteitag, 3.Tag Description: Zentralbild Ulmer 12.7.1958. V. Parteitag der SED vom 10. bis 16.7.1958 in der Werner-Seelenbinder-Halle, Berlin, 3. Tag: UBz: Eine beeindruckende Solidaritätsbekundung des Parteitages für die konsequent- und erfolgreich für die volle Gewährleistung der Unabhängigkeit ihres Landes kämpfenden Kommunisten Indonesien erlebte die Werner-Seelenbinder-Halle während der Grussansprache des Generalsekretärs der KP Indonesiens, D. N. Aidit. |
|
Read more...
|
|
Ciri khas seorang fundies (sebutan untuk seorang penganut faham fundamentalis) adalah merasa diri mampu melihat SEMUANYA alias KESELURUHAN baik yang dapat ditanggap oleh Panca Indera maupun tidak. |
|
Read more...
|
SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT |
|
Read more...
|
|
SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA) DISUSUN OLEH: DIPA NUSANTARA AIDIT |
|
Read more...
|
Sedjarah diriku (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA), DISUSUN OLEH DIPA NUSANTARA AIDIT - kiriman Aida Ces. (ejaan tidak diubah - tetap sebagaimana dituliskan) |
|
Read more...
|
Berikut tanya-jawab dengan seorang teman yg bilang: 'kalimat saya kaku banget, hehe'. Tapi itu saya abaikan saja karena saya lebih kaku lagi. Kalimat saya tidak bisa bergerak-gerak sendiri. Kaku. (teks gambar:Sebelum ditemukannya jalan ke China, orang-orang Eropa percaya bahwa di dunia bagian Timur bentuk manusia seperti monster. Ternyata bentuknya biasa-biasa saja, cuma warna kulitnya saja yg beda.) |
|
Read more...
|
|
Masalah carut marutnya Syari'at Islam versi Aceh ini terjadi karena perancang Qanun itu dan para pendukungnya bersikap SOK JAGO, tidak mau mendengarkan pendapat dari luar dan hanya mau menang sendiri. |
|
Read more...
|
Aceh kembali dihantam tsunami. Bukan tsunami ombak yang menyapu seluruh kota dan penduduknya, tapi tsunami peradaban. Tsunami yang menghancurkan martabat Aceh sekaligus pembuktian telah terjadi kejahatan kemanusiaan di Aceh. |
|
Read more...
|
|
Pasca terjadinya kasus pemerkosaan yang terjadi terhadap seorang perempuan malang yang menjadi tahanan WH (POLISI MORAL). Di Aceh banyak sekali nada kemarahan yang ditujukan kepada lembaga ini. Mayoritas menumpahkan rasa geram kepada dua personel WH yang kurang ajar itu. |
|
Read more...
|
Salah satu monyet sakti pengiring Rama bernama Anggada (istilah Bali). Kalau dijadikan bahasa Jawa, beberapa hurup vokal “a” berikutnya menjadi “o” maka “Anggada” menjadi “Anggodo”. Ada pula yg menyebutkan dengan nama Anggogodo. Ia adalah monyet yg sakti. Bahkan Sun Go Kong, Superman juga kalah. Apalagi Suparman tukang jengkol pasar Kenjer he..he bukan level deh. Wajar ia sakti, karena putra Subali yg juga luar biasa. |
|
Read more...
|
|
Baru-baru saya terlibat diskusi dengan sahabat saya Kak Sari yg tengah menimba ilmu di Australia. Dia membuat tulisan tentang bagaimana sensitifnya isu budaya diatur oleh pemerintah kota Adelaide. Dimana untuk menjadi relawan bagi imigran muslim diwajibkan berpakaian menutup aurat dan menyesuaikan diri dengan budaya pendatang tersebut. |
|
Read more...
|
Saya mendapatkan kesempatan yang langka. Kursus penelitian etnografi bersama teman-teman di Antropologi UGM Jogjakarta selama dua minggu (14-29/01/10), di bawah bimbingan “mbah” antropolog UGM. Menurut rancangannya, kursus ini bukan belajar di kelas mendengarkan kisah-kisah seru para antropolog di lapangan. Akan tetapi peserta langsung diturunkan ke lapangan, di sejumlah desa pedalaman Jawa. Di sana setiap peserta akan belajar sendiri dari kehidupan yang ada dalam masyarakat desa. Ini dilakukan dengan pengamatan, keterlibatan dalam aktifitas mereka dan melakukan wawancara dengan siapa saja yang dijumpai di sana, lalu mencatat dan mendeskripsikan. |
|
Read more...
|
Minggu depan saya akan pulang cuti ke Indonesia kembali. Pulang- sebenarnya bukanlah kata yang terlalu tepat digunakan karena kampung halaman tempat saya lahir atau dibesarkan seperti Bogor dan Jakarta , hampir bisa dibilang berubah total dengan apa yang pernah saya bayangkan. Sehingga makna "pulang "sendiri menjadi absurd lantaran saya tidak mengenali kembali kampung halaman sendiri. Jejak jejak nostalgia masa kecil dan remaja tempat saya menghabiskan waktu untuk bermain atau pacaran seperti menguap sirna -bagai embun subuh yang tersentuh matahari pagi. Ini mungkin typikal dilema yang selalu menghantui perantauan yang terlalu lama bermukim di luar negeri. Seperti mereka, saya sering kehilangan orientasi di tanah air sendiri. |
|
Read more...
|
|
Saat ini di Aceh negeri kelahiran saya begitu banyak masalah besar yang belum jelas penanganannya. Mulai dari APBD yang terserap kurang dari 50%, pemerintahan yang dijalankan tanpa arah yang jelas, korban tsunami yang masih belum mendapatkan rumah, banyaknya tapol yang belum dibebaskan, sampai amburadulnya penyediaan listrik oleh PLN. |
|
Read more...
|
|
Beberapa minggu lalu teman Jepang saya mengajak saya untuk ikut kegiatan menjadi relawan yang diadakan jurusannya. Teman saya itu sempat menjadi volunteer di Kamboja dan dulu lulusan Community Development di Jepang. Karena kami punya kesamaan (menyukai community development dan pernah berkunjung ke Kamboja) maka kami terbilang dekat. Mungkin karena kesamaan minta itu makanya dia mengundang saya ikut dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang akan kami adakan adalah bermain bersama anak-anak dan remaja pengungsi dari Sudan dan Afghanistan. Jurusan teman saya tadi adalah social work. Jurusannya bekerjasama dengan salah satu lembaga nirlaba di Adelaide ini membuat kegiatan tadi. Karena ingin tau bagaimana menjadi seorang volunteer dinegara ini, maka saya penuhi ajakan teman tadi. |
|
Read more...
|
|
Jumat, 8 Januari 2010, program talkshow indie yang saya bawakan, Presstalk di QTV, mendapat tamu dari Medan. Di antaranya seorang ibu, isteri notaris, yang suaminya langsung ditahan tanpa surat penahanan di saat bayinya masih berusia 6 bulan, tanpa pula pertimbangan Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Ikatan Notaris. Bukan barang basi sesungguhnya lintas lini hepeng mangatur nagaraon demi keadilan? Di Jakarta Satgas Mafia Hukum yang dibentuk Presiden menemukan sel Artalita Suryani, di penjara Jakarta Timur, bak kamar hotel bintang tiga. Lagi-lagi keadilan di tangan fulus. |
|
Read more...
|
Seminggu yang lalu, aku, anak dan istriku refreshing ke Gramedia Matraman. Hari itu kami menginap di rumah mertuaku di Kayu Putih, di seputaran jalan Pramuka. Rencananya hari itu aku bersama keluarga dan adik-adik istriku akan jalan-jalan ke Mall of Indonesia (MOi), Mall baru di daerah Kelapa Gading yang sebelumnya sudah memiliki Artha Gading dan Mall Kelapa Gading. |
|
Read more...
|
Tahun 2009 telah lewat. Bagi website ini, tahun 2009 adalah tahun berubahnya susunan penulis Superkoran. Kalau sebelumnya Superkoran tulisannya hampir 100% ditulis oleh anggota milis dan Forum Apakabar, mulai 2009 sedikit demi sedikit penulis Facebook mulai bermunculan. Mulai tahun baru ini, mungkin jumlah penulis dari Facebook bisa melewati penulis Forum Apakabar.... Siapa yang tulisannya paling banyak dibaca tahun 2009? |
|
Read more...
|
|
Beberapa bulan lalu saya mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh perkumpulan mahasiswa Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS). Salah satu yang menarik menurut saya adalah pertanyaan yang disampaikan oleh seorang ibu tentang bagaimana beliau belum bisa menerima keadaan beragama di Adelaide ini. Menurutnya sangat susah menerapkan berislam secara benar disini. Misalnya saja tentang istinjak (membersihkan kotoran diqubul dan dubur). Menurutnya beliau tidak terbiasa istinjak dengan menggunakan tisue,sehingga susah sekali untuk menerimanya. |
|
Read more...
|
|