Paling banyak dibaca (30 hari)
ARSIP tulisan
-
August, 2010
-
July, 2010
-
June, 2010
-
May, 2010
-
April, 2010
-
March, 2010
-
February, 2010
-
January, 2010
-
December, 2009
-
November, 2009
-
October, 2009
-
September, 2009
-
August, 2009
-
July, 2009
-
June, 2009
-
May, 2009
-
April, 2009
-
March, 2009
-
February, 2009
-
January, 2009
-
December, 2008
-
November, 2008
-
October, 2008
-
September, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
April, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
October, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
-
June, 2007
-
May, 2007
-
April, 2007
-
February, 2007
-
February, 2007
-
January, 2007
-
December, 2006
-
November, 2006
-
October, 2006
-
September, 2006
-
August, 2006
-
July, 2006
-
June, 2006
-
May, 2006
-
April, 2006
-
March, 2006
-
February, 2006
-
January, 2006
-
December, 2005
-
November, 2005
-
October, 2005
-
September, 2005
-
August, 2005
|
|
Iwan Piliang: Rating TV= Penjajahan Peradaban |
|
|
Setelah mendapatkan input tentang beragam data penekanan pondasi ekonomi nasional, yang digerogoti dengan cara-cara sistematis melalui tangan IMF, World Bank dan WTO, dengan partner mereka yang diistilahkan Mafia Berkeley di negeri ini, plus kekuasaan kapital segelintir warga masyarakat yang sangat kaya, yang bila terusik kekayaannya mengemplang negara melalu cara-cara yang ”dilegalkan” macam menangguk bunga rekpitulasi BLBI, saya melihat adalagi lakon kejam dan lebih keji, yakni “membunuh” peradaban sebuah bangsa , melalui rating, pemeringkatan untuk kepentingan animo iklan produk.
INI sebuah tesis yang harus diuji: memberikan penilaian rating terhadap program televisi sebagai upaya menjajah perabadaban. Sebagai tesis, ia layak diuji dan kita diskusikan.
Semua program televisi di negeri ini, selalu mengacu ke hasil sebuah riset lembaga yang dianggap terpandang, yang merupakan cabang dari lembaga riset sejenis di AS. Menurut Uni Lubis, Editor Club, yang pernah terlibat dalam penyusunan RUU penyiaran, mengatakan di PRESS TALK, yang saya panduk di QTV, bahwa setelah tiga bulan lebih ikut membahas RUU, nyatanya ketika diketuk palu pengesahan Undang-Undang oleh DPR, hasilnya, persis dengan UU Penyiaran yang ada di Amerika Serikat.
Bila acuan seluruh program televisi adalah rating, DAN MEMANG INI YANG DIJADIKAN ALAT JUALAN, maka kita nikmatilah program televisi asal. Asal laku. Asal banyak pemirsa. Asal untung dan asal-asalan lainnya. Termasuk kita tidak lagi dimotivasi oleh program televisi, yang misalnya, bisa membuat tertawa karena kejeniusan, sebaliknya melulu menertawakan kebodohan, kebengak-an.
Sudah tak terhitung ranah privasi yang diumbar di televisi swasta yang tidak memberi plus poin kepada peradaban. Sudah tak terhingga opera sabun murahan jadi tontonan. Minim credential asset (warisan budaya bernilai ekonomi) yang disuguhkan, yang merangsang masyarakat untuk berkarya produktif tampil di televisi - - bahkan lebih gila, kenyataan peran-peran ini misalnya seolah dibuang saja menjadi tanggung jawab televisi komunitas, atau publik. Televisi Swasta, biarlah dengan be-rating ria - - tinggal kita belum saja lagi menyimak di dini hari film bugil-bugilan, toh arah ke sana sudah mulai dengan jepret-jepretan model syur, plus game-game kegenitan dengan pembawa acara menonjolkan buah dada dan paha.
Karena acuan rating, tidak pernah ada program yang ditentukan sendiri, untuk jati diri sendiri, yang juga bisa menjaring penonton, karena sesungguhnya bisa dipatok oleh produser. Kreatifitas insan televisi seakan dodongoi, bahwa ente bikin yang, lagi-lagi kudu ber-acuan rating.
Televisi adalah medium visual yang paling banyak memuat simbol komunikasi; mulai dari warna, garis, gerak-gerik, suara, computer graphic imagery (cgi), dan seterusnya. Secara psikologi komunikasi, televisi menyentuh ranah publik, yang memang merasuk hingga ke sisi dalam rumah tangga pemirsa.
Karena semuanya berkiblat rating, kini hilanglah kesadaran berbangsa dan bernegara, bahwa ranah publik, ranah privasi keluarga yang punya harapan untuk juga dicerdaskan, seakan “diperkosa”, “dibodohkan” oleh televisi.
Saya mera kita kian tak beradab rasanya bila membandingkan program televisi kita dengan program EUROMAX, dari stasiun DW-TV, Jerman. Program 30 menit yang mengetengahkan gaya hidup, budaya, seni dan kreatifitas itu, bila bandingkan dengan program televisi lokal, duh, bangsaku?!
Bila mengacu bahwa indikasi penjajahan terhadap negeri ini memang maksi secara ekonomi, di luar dugaan, penjahan peradaban telah berlangsung lama melalui televisi swasta kita. Sulit memang untuk bertanya nurani kepada pemilik televisi di negeri ini, sebab kebanyakan mereka, memang telah menjadi KAMPIUN, tangan-tangan pejajah.*
iwanpiliang.blogspot.com behindthescene-presstalk.blogspot.com
 | LIST OF COMMENTS |
1/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). Written by Guest - Friday, February 15 2008 | Betul sekali ulasan diatas, ekonomi dan kebudayaan adalah pintu2 lemah masyarakat yg mudah diterobos oleh pengaruh luar yg baik maupun yg buruk.
Pengaruh luar yg secara alamiah maupun yg sengaja dimasukkan oleh kekuatan2 luar yg ingin mendominasi masyarakat setempat beserta lingkungannya. |
2/13. Rating TV=Penjajahan Peradaban Written by Guest - Saturday, February 16 2008 | Penjajahan lain juga banyak, malah setingkat Peradaban, misalnya Ekonomi, dan Kebudayaan (asing atau mayoritas suku), Intelektualisme. Kalau kita mau melawan maka mereka yang kurang beruntung dalam pendidikan harus kita bantu angkat ketingkat yang lebih tinggi. Pemerintah juga sering bohong, dan tega kepada rakyatnya sendiri. == Anwari Doel Arnowo - 16 Februari 2007 |
3/13. buang jiwa bebek dan budak Written by Guest - Saturday, February 16 2008 | Kalau tidak mau dijajah terus, pilihlah pemimimpin yang pintar, jujur dan punya visi.
Percayalah pada diri sendiri, jangan membebek & menghamba pada agama agama semitik |
4/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). ( 2 ) Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | Mengapa ulasan Sdr. Iwan Piliang diatas sepihak dan tidak menyeluruh ?
Racun2 ekonomi maupun kebudayaan yg sedang merembes dan merambah bangsa Indonesia dewasa ini bukanlah saja datang dari dunia barat dg ide2 kapitalisme liberal yg tak berperikemanusiaan dan ekses2 kebudayaan dekaden (pornografi, program2 sadis di tv dll) , melainkan juga ide2 ekonomi terbelakang yg feodalis dan kebudayaan padang pasir dari timur tengah. |
5/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). ( 2 ) Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | Mengapa ulasan Sdr. Iwan....diatas sepihak dan tidak menyeluruh ?
Racun2 ekonomi maupun kebudayaan yg sedang merembes dan merambah masyarakat Indonesia dewasa ini bukanlah saja datang dari dunia barat dg ide2 kapitalisme liberal yg tak berperikemanusiaan dan ekses2 kebudayaan dekaden (pornografi, program2 sadis di tv dll) , melainkan juga ide2 ekonomi terbelakang yg feodalis dan kebudayaan padang pasir dari timur tengah |
6/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). ( 3 ) Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | Usaha2 meracuni bangsa ini usaha2 mendewakan semua yg datang dari timur tengah adalah sangat membahayakan budaya bangsa ini yg sudah berada ratusan tahun.
Membenci pemeluk2 agama dan kepercayaan lain, usaha2 menggilas kebudayaan daerah setempat dg menggantikannya dg bentuk2 kebudayaan timur tengah adalah sama ( kalau tidak lebih buruk ) pengaruhnya bagi existensi bangsa ini.
|
7/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). ( 4 ) Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | Ekses2 estimasi dan persuasi extrem yg berbentuk pendewaan/pemujaan thd . segala apapun yg datang dari kebudayaan timur tengah adalah absurd, sama absurdnya dg pendewaan segala apapun yg datang dari barat! Sayang sekali bhw 2 bentuk ekses2 yg ekstrem ini sedang merajalela di bumi tanah air kita .. |
8/13. Betul, tapi sepihak (tak menyeluruh ). ( 5 ) Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | Rakyat Indonesia harus betul2 pandai dlm men-seleksi mana yg baik dan mana yg buruk untuk kelanjutan hidup bangsa ini , jangan sampai Indonesia menjadi negara neokoloni dari
Barat ( spt sebagian besar negeri2 dibenua Afrika) maupun menjadi Indonestan yg terbelakang spt Afghanistan dll.
|
9/13. setujuuuuu!!! Written by Guest - Sunday, February 17 2008 | setuju pak iwan, walauoun saya tidak terlalu mengrti bagaimana mekanisme pembodohan lewat rating itu di operasikan, tetapi saya juga merasakan acara-acara televisi kita sungguh di luar nalar oerang sehat, infotainment yang mengumbar gosip2 murahan artis kemarin sore, sinetron yang penuh peran orang kaya yang jahat ( seolah-olah dunia ini hanya di penuhi oleh orang jahat dan penderitaan ), acara keagamaan yang malah membuat orang menjadi tidak mengenal tuhannya. acara2 seperti apa itu. |
10/13. This is just a BULL... Written by Guest - Wednesday, February 20 2008 | You are just fearful... this is not how to handle the inevitable changes and challenges of the new world - the next world. There is nothing wrong with the ratings. Wrong accusation. |
11/13. And that above is the biggest bull-....! Written by Guest - Thursday, February 21 2008 | Please express your arguments in Indonesian ! Not all of readers do understand your english !
Kalau anda orang Indonesia yg mendewakan bahasa Inggris/Amerika , sadarlah, kita masih punya bahasa sendiri !
Jika anda orang non Indonesia, minta tolonglah kpd teman2 anda (orang Indonesia) untuk menterjemahkan tulisan anda kebahasa Indonesia! Terimakasih.
|
12/13. penjajahan atau memang selera rendah Written by Guest - Saturday, March 01 2008 | saya kira meman itulah selera rendah pemirsa TV Indonesia, bukan krn rating
Rating cuma alat pengukur, jangan disalahkan |
13/13. bayar peradaban dengan adab Written by Guest - Thursday, November 20 2008 | ahh...kiranya sebuah yang katanya peradaban harus dibayar mahal ddengan sesuatu yang tak beradab... |
Add Comments |
|
Last Updated ( Sunday, 09 March 2008 )
|
|
|